Monthly Archives: October 2009

Girangnya Saya…

Luar biasa… Luar biasa… I LOVE MILAN!! INDEED!!!

Kebanggaan akan tim kesayangan saya itu semakin menjadi-jadi tatkala Milan mempermalukan Real Madrid di Santiago Bernabeu.. Ya, Milan yang tidak diunggulkan dalam pertandingan ini menang 3-2 melalui pertunjukkan sepakbola tingkat dunia dan berakhir dengan dramatis.

Sebelumnya, performa Milan memang terbilang buruk di kompetisi lokal sehingga terdampar di papan tengah klasemen sementara Serie-A. Ini merupakan kemenangan kedua berturut-turut setelah mengalahkan AS Roma minggu lalu di lanjutan Liga Italia. Bisa dibilang inilah awal kebangkitan Milan sesudah memperoleh rentetan hasil buruk. Dan di stadion kebanggaan warga Madrid ini, Milan berhasil mengukir sejarah.

Di babak pertama, Milan kerap kali ditekan oleh barisan penyerang Madrid, termasuk Kaka. Ya, Kaka yang menjadi sorot utama di pertandingan ini mengingat ia harus melawan tim yang membesarkan namanya. Milan hanya sesekali melancarkan serangan. Terlihat Milan acapkali kehilangan penguasaan bola. Berawal dari tendangan dari luar kotak penalti oleh Granero, Kiper Milan Dida tidak lengket menangkapnya. Bola lepas tersebut kemudian langsung disambar oleh Raul yang kemudian berbuah gol. 1-0 bagi Madrid. Oh my Gosh!! Saya langsung teringat pertandingan Milan vs. Roma hari Minggu lalu. Ketika itu, Thiago Silva yang melakukan kesalahan fatal. Kali ini Dida.. Benar-benar ceroboh. Skor pun bertahan hingga turun minum.

Di Babak kedua, perlahan tapi pasti, Milan mulai melancarkan serangan. Seisi stadion kemudian dikejutkan oleh gol Pirlo dari luar kotak penalti. What a wonderful goal!! Tendangan terukur Pirlo tak mampu dihalau Casillas. 1-1. Saya pun melompat girang. Ada harapan bagi Milan. Selang berapa lama, saya kembali melompat-lompat kegirangan di depan tv. Pato berhasil membawa Milan berbalik memimpin. Berawal dari patahnya serangan Madrid, bola dikirimkan oleh Anbrosini kepada Pato. Casillas maju hingga keluar kotak penalti untuk menghalaunya. Namun Pato memang cerdik, bola berhasil melewati Casillas. Dan dengan posisi yang menurut saya lumayan sulit, Pato berhasil menceploskan bola ke gawang yang sudah ditinggal Casillas. 2-0.

Madridistas pun kembali bersorak ketika Drenthe berhasil menyamakan kedudukan melalui tendangan terukur dari luar kotak penalti. 2-2. Dan, menjelang pertandingan usai, kembali Pato membuktikan ketajamannya dengan menaklukan Casillas setelah menerima umpan matang dari Seedorf.. Saya pun girang bukan main. Saya loncat-loncat seperti orang gila di kesunyian malam menjelang pagi. Yeahh! Masih ada waktu tersisa, dan saya tak kuasa untuk terus menonton hingga peluit panjang berbunyi. Saya sangat tegang! Saya pun mematikan televisi beberapa menit (saking tegangnya). Saat saya nyalakan tv kembali, akhirnya… Milan berhasil menaklukan Los Galacticos jilid-2!! Luar biasa!

Saya acungkan jempol untuk Leonardo. Ia tetap optimis meski timnya tidak diunggulkan di pertandingan tersebut. Jangan pernah bermain-main dengan Milan di Liga Champions! Bravo Il Diavollo Rosso!!!

Advertisements

Ekspedisi Pecel Ayam #2: Jalan Wastukencana

DSC_0103Berjumpa kembali dalam Ekspedisi Pecel Ayam edisi ke-2. Kali ini, tujuan kami ialah Pecel Ayam/Lele yang terletak di Jalan Wastukencana (tepatnya pertigaan Jalan Linggawastu). Masih belum tau? Pokonya kalau dari arah Cihampelas, sebelum SPBU, sebelah kiri jalan. Info awal mengenai pecel ayam ini saya dapatkan di salah satu situs yang membahas makanan-makanan yang enak dan murah di Bandung. Info yang saya dapatkan, pecel ayam ini sangat laku. Buka pukul 17.00, pukul 20.00 sudah habis. Wow! Itulah alasan mengapa saya penasaran terhadap pecel ayam ini.

Kali ini tim bertambah satu. Selain saya, Ardhy, Rian, ada juga Lingga. Dengan begitu jumlah Karucel (Kawanan Pemburu Pecel) sementara berjumlah 4 orang. Ayo yang lain gabung! Jumat itu- hari tetap kami berwisata pecel- kami berencana menonton Public Enemies di Ciwalk XXI. Sesudahnya, baru kami menuju lokasi utama, Pecel Ayam!

Ketika sampai, kami pun memarkirkan motor tepat di sebelah tenda pecel ayam tersebut dengan dibantu seorang tukang parkir nyentrik. Tenda terisi penuh. Tapi kebetulan ada yang sudah selesai makan dan meninggalkan tenda. Langsung saja kami memesan, saya seperti biasa= ayam+tahu, Rian= ayam saja, Ardhy= ayam +tempe, dan Lingga=Lele+tempe. Semuanya meminta si kol digoreng saja. Akhirnya.. ada juga yang memesan lele. Tapi fokus kami tetap sambalnya. Sambil menunggu, kami melihat-lihat suasana di dalam tenda dan berfoto-foto. Oia, si tukang parkir nyentrik tadi minta difoto! *jepret, jepret! Ardhy dengan gayanya memotret si tukang parkir yang memilih gaya “Duduk di Motor Batur”.

“nih pak, hasilnya”, kata Ardhy.

“Alhamdulilah..”, balas si bapak.

Tak lama, pesanan pun datang. Tapi si mas lupa menggoreng kol nya. Kami pun protes. Tak terima begitu saja. Setelah kol digoreng, kami pun siap menyantap. Kebetulan memang sudah lapar. Saya pun mencocol sobekan tahu ke sambal. Kesan pertama, mm… lumayan, walau tidak terlalu istimewa. Makanlah saya dengan lahap. Hingga akhirnya saya merasakan bahwa yang menonjol dari sambal itu ialah rasa pedasnya. Ini kadar pedas yang saya suka! tidak sangat-sangat pedas, tapi pas menurut saya.

DSC_0093DSC_0091

Sambal ini terasa seperti sambal pecel atau di Jawa Tengah dan Timur disebut penyet, pada umumnya. Terbuat dari hasil ulekan tomat, terasi, kacang, cabai dan sebagainya. Seperti yang sudah saya sebutkan tadi, rasa pedas cukup menonjol di sini. Dan menurut saya pribadi, sambal ini tergolong sambal yang enak. Saya makan dengan sangat lahap. Hingga berkeringat! Mungkin nilai plus juga datang dari porsi nasi yang pas serta ayamnya juga yang nikmat. Jika dibandingkan dengan edisi pertama kemarin, sambal ini memang masih kalah. Tapi secara keseluruhan, saya lebih memilih yang ini! Kecuali jika saya memang ingin makan dengan sambal yang nikmat, mungkin saya akan menuju Buah Batu. Bagaimana penilaian teman-teman saya?

Ardhy: “Sambalnya biasa aja, tapi ayamnya enak!”

Rian: “Sambelna ngeunahan nu di Buah Batu, tapi hayam jeung porsi nasina mending iyeu”

**translate: “Sambelnya enakan yang di Buah Batu, tapi ayam dan porsi nasinya mending yang ini”

Lingga: (lupa uy belum nanya)

Menurut saya, Anda-anda perlu mencoba pecel ayam ini. Selain karena rasanya yang enak, lokasinya pun strategis. Ada di tengah kota. Jika sekitar pukul 7 malam Anda merasa lapar dan ingin makan, cobalah sesekali ke tempat ini. Sepertinya tempat ini memang selalu penuh, tapi tidak sampai mengantri.

Harga: Nasi+Ayam+Tahu = Rp 9.000

Ketika hendak beranjak pulang, kami berfoto-foto dulu di luar tenda sambil ditingalikeun ku si bapak tukang parkir tadi. Kami pun mengobrol-ngobrol kecil dengan si bapak. Begini kira-kira obrolan antara Rian dan si bapak:

*sub: indonesia

“Kapan dicetak fotonya?” tanya si bapak.

“Nanti diupload di Facebook pak,” ujar Rian.

“Apa itu Facebook?” tanya si bapak lagi.

“Semacam goreng-gorengan pak!” jawab Rian.

Sekian untuk edisi kedua ini. Sampai bertemu di edisi berikutnya, dadah!!

Jangan Malang, Jogja Saja

Insya Allah, mulai semester depan saya job cetak. Awalnya saya berkeinginan untuk job di Kota Malang. Saya begitu penasaran dengan kota itu. Banyak yang heran mengapa saya memilih kota tersebut. Jawabannya tidak rumit. Yang paling utama ialah saya ingin belajar hidup mandiri (nge-kos), dan saya juga bosan dengan suasana di Bandung. Jadi intinya, saya  ingin mencari nilai di kota lain. Tapi kenapa Malang? Setahu saya (dengar dari orang-orang), Malang itu kotanya dingin, tidak ramai, dan banyak tempat wisata, terutama di Batu ya?

Namun ke sini-sininya, sepertinya ibu saya tidak begitu setuju kalau saya job di Malang. Begitupun ayah saya. Walaupun kelihatannya ayah saya lebih membebaskan saya. Dipikir-pikir memang terlalu jauh sih Malang. Lalu info yang saya dapatkan, di sana tidak ada apa-apa. Tidak ada hiburan, dll. Biasa aja. Dalam dunia jurnalisme juga, saya dengar kalau media-media massa di Malang kurang begitu menonjol. Yah, saya pun jadi mengurungkan niat saya untuk job di sana. Lalu di mana dong? Entah mengapa, saya jadi terfikir Jogja. Biaya hidup murah, tempat main juga banyak. Ah, sepertinya saya pilih itu saja.

Kemudian saya kontaklah teman saya yang orang Jogja asli. Dia adalah Ayub. Dia juga job di kota itu. Kota di mana ia dibesarkan. Setelah tanya-tanya berbagai hal, sepertinya saya semakin tertarik untuk job di sana. Saya akan mencoba memasukkan surat job ke Harian Jogja, tempat Ayub job cetak. Tapi sepertinya ada sedikit kendala. Di Jogja tidak ada semacam ada angkot. Sedangkan wartawan tentu sangat diperlukan mobilitasnya. Seperti kata Ayub, mau tidak mau saya harus menggunakan motor ketika meliput berita. mm… jadi bingung. Nyewa motor selama sebulan, mahal. Sepertinya saya akan bawa motor saya ini ke sana. Tapi ini juga belum tentu diijinkan oleh orang tua saya. Yah, gimana nanti lah. Yang pasti saya ingin job di luar Bandung.

Dalam waktu dekat ini saya akan membuat surat job dan merencanakan “Low Budget Vacation” ke Jogja. Waktu tersebut akan saya manfaatkan untuk memasukkan surat job ke Harian Jogja. Mudah-mudahan bisa secepatnya diterima. amin.

Ganti (model) Rambut Sambil Migrain

Rencana utama hari ini (Kamis, 15/10) ialah berkunjung ke rumah Ayub-teman kampus saya yang sudah lama tidak saya temui. Dia baru saja menyelesaikan job training di Jogja TV. Sebelumnya, ia jobtre di Harian Jogja. Nah, tujuan saya ke rumahnya ialah mengopy file proposal dia yang diajukan ke media massa untuk keperluan jobtre. Kebetulan saya ingin job di tempat yang sama dengan Mas Ayub- begitu teman-teman kampus memanggilnya. Maka dari itu saya meminta contoh proposal darinya. Rumah Ayub terletak di Santosa, Soekarno Hatta. Sekomplek dengan Lingga. Sehabis dari sana, saya berencana untuk potong rambut, soalnya si pop sudah marah2 nih, melihat gondrongnya rambutku. Berarti tujuan hari ini ialah Rumah Ayub lalu Iwan Kancra (tempat biasa potong rambut).

Awalnya semua baik-baik saja, kecuali radang tenggorokan yang kini menjadi batuk. Namun di tengah perjalanan menuju rumah Ayub, saya merasa ada yang ngga beres dengan kepala. Ah, ini sih migrain. Yaudahlah kagok. Lagian ga mengganggu-ganggu amat. Toh si Amat juga ga mengganggu kan?

Akhirnya sampai juga di rumahnya. Terakhir ke sana waktu zaman-zamannya… wah udah lama lah pokonya! Kita pun berbincang-bincang mengenai apa saja. Job training, Kota Jogja, kereta ekonomi, cewek (halah!), hingga tempat penyewaan motor merupakan hal-hal yang kami bicarakan saat itu. Lalu ketika masuk ke kamarnya untuk memindahkan file dari laptopnya ke mp3-playerku, Ayub memperdengarkan musik karya ia dan teman-temannya yang tergabung dalam MAY. Ia bilang kalau mereka sudah mendapat label. Wow, temanku artis! ditunggu aja mas, di acara Inbox.hehe..

Esia pun berdering. Ternyata Lingga. Ia bertanya saya ada di mana. bla bla bla hingga akhirnya ia memutuskan untuk main juga ke rumah Ayub. Tak berapa lama, Lingga pun datang. Obrolan pun menjadi tambah ramai. Kemudian kami bertiga melihat-lihat foto2 KKN mas Ayub di laptopnya. Ayub ditempatkan di desa Ciptarasa (kalau ga salah). Gak tau kecamatannya apa. Surade mungkin. Saya dan Lingga terkesima melihat kondisi desa tempat KKN-nya Mas Ayub. Benar-benar desa. Menyerupai Kampung Naga lah. Keren..keren..

Ketika hendak pulang, Lingga mengajak untuk potong rambut. Wah, kebetulan. Saya pun memang berencana potong rambut hari itu. Tapi Lingga mengajak ke Iwan Margahayu aja. Bolehlah, pikir saya. Sekalian nyobain. Setelah berpamitan dengan Mas Ayub, kami pun langsung cabut menuju Iwan Margahayu. Tempatnya lebih luas dibanding Iwan Kancra. Tapi kursinya hanya tiga. Ketika tiba giliran saya untuk dicukur, saya pun naik ke kursi.

bade dikumahakeun?“, tanya si AA.

ipisan sareng rada pondokkeun we A“, jawab gue.

rada pondokkeun we nya“, lanjut si AA.

sip”, kata saya.

dan inilah hasilnya!

Sebelum Dipotong-Potong
Sebelum Dipotong-Potong
Sesudah Dipotong-Potong
Sesudah Dipotong-Potong

Pecel oh.. Pecel

Sebutkan definisi pecel! Saya yakin jawabannya berbeda-beda. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pecel ialah makanan yg terdiri atas sayuran, seperti kacang panjang, bayam, taoge yg disiram dng kuah sambal kacang. Pecel yang dimaksud oleh KBBI ini mungkin makanan yang hampir mirip dengan gado-gado atau lotek karena menggunakan kata “sambal kacang”. Lalu bagaimana dengan pecel lele atau pecel ayam? namanya saja sudah paka kata “pecel”, pasti sambalnya sambal pecel kan? Tapi masalahnya, pecel lele/ayam ini disajikan bukan dengan sambal yang mirip lotek tadi. Memang masih menggunakan kacang, tapi tidak dominan seperti apa definisi menurut KBBI tadi. Oke, kita bahas..

Kebingungan saya dimulai ketika saya-yang sebelumnya menganggap bahwa pecel itu seperti yang ada di pecel lele/ayam, disuguhi bumbu pecel oleh mamah saya. Bumbu tersebut dibeli di pasar kemudian di masak sendiri. Cara memasaknya pun mudah, hanya dipanaskan dengan air. Nah, bumbu itu dibuat untuk cocolan bala-bala (maksudnya bala-bala dicocolin ke bumbu pecel). Rasanya luar biasa!!! Saya akan selalu rindu bala-bala + bumbu pecel buatan mamah! Maka sejak itu saya bingung, sebenernya pecel tuh yg gimana sih? yang bumbu kacang atau yang kaya di pecel lele?! Oya, di Bandung saya juga pernah melihat pedagang Pecel Madiun (ini kayanya yg bumbu kacang itu deh).

DSC01299Akhirnya saya bertanya-tanya ke teman2 dan tukang pecel lele (bukan berarti semua teman saya tukang pecel lele ya!). Ternyata jika kita menggunakan kata “pecel” saja, itu merujuk pada bumbu yang terbuat dari bumbu kacang. Ya, sesuai dengan definisi KBBI: sayur-sayuran yang disiram oleh bumbu kacang (bisa pakai lontong atau nasi). Saya sendiri belum pernah mencobanya. Mungkin rasanya tidak jauh beda dari lotek. Makanan ini merupakan khas Madiun, Jawa Timur.

pecakleleCVRNah, sedangkan yang menjadi favorit saya ialah jenis pecel yang ke-2. Sambal pecel ini terbuat dari cabai, kacang, terasi, dan tomat. Yang jelas, unsur kacang tidak dominan di sambal ini. Berbeda dengan pecel khas Madiun, pecel jenis ini bukan untuk bumbu sayuran. Sambal ini dimakan bersama lele atau ayam goreng. Makanya, ada istilah pecel lele atau pecel ayam. Setahu saya (maaf kalau salah), pecel ini merupakan khas Jawa Timur (kecuali Madiun). Kebanyakan pedagangnya berasal dari Lamongan.

Ada sedikit cerita kenapa saya jadi suka sambal ini. Awalnya saya benar-benar ngga suka. Lebih tepatnya ngga mau mencoba. Hingga akhirnya saya diajak oleh teman-teman saya untuk makan di Bebek Darmo yang punya nama lain: Mc Darmo. Ada Ice Cone ngga ya?? Ketika itu sebenarnya saya memesan ayam goreng yang tidak memakai sambal. Mungkin karena riweuh, si masnya lupa dan menyertakan sambal di ayam goreng pesanan saya. Lalu terlintas keinginan untuk mencoba. Dan! akhirnya… cocolan sesobek daging ayam ke sambal tersebut mengubah persepsi saya terhadap sambal pecel tersebut. yeahhh!! sejak itu saya jadi suka sambal pecel ayam. Dipikir-pikir benar juga kata teman saya, mana enak makan nasi+ayam goreng, tapi ga pake sambel. he..he.. Terimakasih teman-teman sudah mengajak ke tempat itu. Terimakasih juga mas-mas riweuh yang tetap menyertakan pecel pada ayam goreng pesanan saya. 🙂

Mungkin informasi yang saya sebutkan di atas juga belum tentu 100 % benar, karena rasa sambal2 tersebut ya tergantung pembuatnya juga. Untuk sambal pecel ayam/lele saja, ada yang lebih dominan kacangnya, atau tomatnya, atau cabainya, ataupun terasinya… Bahkan, di daerah-daerah tertentu pun memiliki definisi yang berbeda mengenai “pecel”.

update: ada informasi tambahan yang saya peroleh dari seorang teman bernama Dodo. Dia putra Madiun asli. Ketika ditanya pengetahuannya mengenai pecel, ia bilang pecel yang sebenarnya ialah bumbu kacang. Kalau sambel pecel lele/ayam yang biasa kita temukan di Bandung, itu dinamakan ayam penyet. Ya, di jawa timur sambal tersebut dinamakan sambal ayam penyet. Terimakasih untuk Dodo atas sumbangan informasinya..

Namun dengan segala keterbatasan, semoga bermanfaat luR!

Ekspedisi Pecel Ayam #1: Buah Batu (seberang Ouval)

DSC_0006Berhubung saya sedang tidak ada kerjaan dan memang penggila pecel, saya memutuskan untuk mengadakan Ekspedisi Pecel Ayam di Bandung. Untuk ekspedisi pertama ini, saya menjatuhkan pilihan pada Pecel Ayam yang terletak di Jalan Buah Batu, tepatnya seberang Ouval Research. Ups, sebelumnya akan saya perkenalkan dulu Tim Ekspedisi Pecel edisi pertama ini. Saya ditemani oleh dua teman dan kebetulan kami bertiga sama-sama baru menyukai pecel ayam ketika duduk di bangku kuliah. kamana wae ateuh? Mereka adalah Ardhy dan Rian.

Saya sudah 3x makan di tempat ini. Menurut saya, untuk sementara sambal pecel di tempat ini masih yang terbaik. Karena itu pula, saya memilihnya sebagai tujuan dalam edisi pembuka Ekspedisi Pecel Ayam (selain karena rindu).

Setelah berkumpul di rumah Ardhy, kami langsung caw menuju tempat tersebut. Lokasinya sangat sangat jauh dari rumah Ardhy (naik motor, 2 menit nyampelah). Setelah sampai, kami langsung memesan pesanan kami masing-masing yang rada-rada mirip tapi tetap beda. Seperti biasa, saya memesan menu andalan yaitu: nasi+dada ayam+tahu. Ardhy memesan nasi+dada ayam+tempe. Sedangkan Rian: nasi+paha ayam saja. Bisa disimpulkan: saya dan Ardhy penyuka dada. Rian penyuka paha! Oiya, kolnya digoreng ya mas!

DSC_0014Akhirnya, rasa rindu itu pun terobati dengan datangnya pesanan kami. Saya langsung menyobek bagian dari tahu lalu mencocolkannya ke sambal yang fenomenal itu. mantabb.. rasanya masih sama! enakk….Terbuat dari apa saja sih sambal itu? mari kita bahas.

mm.. yang pasti sambal ini terbuat dari tomat, cabai, terasi… lalu apalagi ya? ahh, saya bukan Bondan Winarno- yang bisa langsung tahu komposisi detail sebuah makanan. Rupanya rasa asam pada sambal tersebut yang membuat nikmat. Ya, rasa asam berasal dari tomat yang tampak dominan di komposisi sambal tersebut. Bahkan potongan-potongan kulit tomat dapat kita temukan di sambal tersebut.

“rasa asam dari tomat tersebut yang membuat sambal ini terasa segar”, ujar Ardhy.

Kalo kamu gimana yan?

“enak, ada asem-asemnya..”, kata Rian, yang baru pertama kali makan di sana.

Bagi Anda penyuka cita rasa pedas sepertinya tidak akan cocok dengan sambal ini karena rasanya tidak begitu pedas. Ya, semuanya tergantung selera. Setiap orang pasti memiliki selera yang berbeda-beda terhadap suatu makanan. Namun bagi saya, sambal ini tetap paling oke!! (kekeuhnya maneh?!) Oya, sambal di tempat ini bentuknya agak cair-cair becek.

FYI: Bila Anda menemukan sambal pecel yang kental, berarti sambal tersebut dibuat di tempat dagangnya langsung. Jika bentuknya agak cair, berarti sambal tersebut dibuat di rumah sehingga si pedagang tidak perlu lagi mengulek di tempat ia berdagang. Buat saya sih sama aja. Tapi salah satu teman saya ngga suka kalau bumbu pecelnya kental. Kaya bumbu batagor katanya.. hehe.. ya kan Fu?

Bagaimana dengan rasa ayamnya? ya.. standar la ya rasa ayam mah. Kalau Lele? ga tau, da ga suka! Dilihat dari segi kuantitas, sepertinya satu porsi Anda akan merasa kurang (ukuran laki-laki). Nasinya yang tidak banyak dan ayamnya pun tidak terlalu banyak dagingnya. Namun jika Anda tidak mengutamakan itu dan cenderung mengharapkan sambal yang nikmat, Anda patut mencobanya..

Harga: Nasi+Ayam+Tahu = Rp 8.500

Oke saudara-saudara, sekian untuk edisi kali ini. Sampai bertemua di Ekspedisi Pecel Ayam berikutnya. adioss..sah!

Beri Alasan Mengapa Saya Harus Percaya!

“Yasiiin.. Wal qur’aanil hakiim.. Innaka laminal mursallin.. a’laa shiraathim mustaqiim.. Tanziilal ‘aziizir rahiim.. Litundzira qaumam maa undzira aabaa-uhum fahum ghafiluun.. Laqad haqqal qaulu ‘alaa aktsarihim fahum laa yu’minuun.. kirim surat Yaasiin ini minimal 10 orang,,, insyaallah 2 jam kemudian kamu akan m’dengar kabar baik & m’dapat kebahagiaan,,, ini amanah dan mhn jgn dihapus sblm disebarkan Yasiiin.. Wal qur’aanil hakiim.. Innaka laminal mursallin.. a’laa shiraathim mustaqiim.. Tanziilal ‘aziizir rahiim.. Litundzira qaumam maa undzira aabaa-uhum fahum ghafiluun.. Laqad haqqal qaulu ‘alaa aktsarihim fahum laa yu’minuun.. kirim surat Yaasiin ini minimal 10 orang,,, insyaallah 2 jam kemudian kamu akan m’dengar kabar baik & m’dapat kebahagiaan,,, ini amanah dan mhn jgn dihapus”

Entah untuk yang ke-berapa kalinya, saya mendapat sebuah pesan seperti di atas ini. Saya memperoleh pesan tersebut dari salah satu teman saya melalui YM. Mungkin ia termasuk salah satu yang percaya akan mendapat kebahagiaan jika pesan tersebut dikirim ke 10 orang..

Saya tahu itu Surat Yasin. Salah satu surat yang ada di Kitab Suci Al-Quran. Saya seorang muslim dan meyakini keberadaan Allah swt. Namun saya sesungguhnya sama sekali tidak percaya jika kebahagiaan atau kabar baik akan diperoleh dengan cara seperti ini. Ya, membaca Al-Quran merupakan salah satu kewajiban umat Islam. Membaca Al-Quran- terlebih dengan memahami dan mengamalkannya, akan mendapat pahala. Saya percaya itu. Tapi bukan seperti yang di atas ini kan?

Saya tidak tahu siapa yang mengawali pesan ini. Okey, saya masih bisa berfikir positif. Mungkin saja sang pembuat pesan bertujuan mengajak umat Muslim paling tidak membaca surat Yasin tersebut. Namun jika diiming-imingi dengan amanah untuk mengirimkannya ke 10 orang maka kemudian akan mendapatkan kebahagiaan, menurut saya itu seperti sesat. Bahkan ada juga pesan yang seakan-akan ingin menakut-nakuti. Jika pesan tersebut tidak dikirim ke beberapa orang, maka akan mendapat musibah. haduh?!

Ilmu agama saya memang biasa-biasa saja, dan saya juga tidak berniat sok tahu. Hanya sampai sekarang saya masih saja heran masih ada orang yang percaya dengan hal tersebut. Ya, memang sih itu hak mereka untuk percaya atau tidak.. Saya hanya ingin dengar langsung dari orang yang benar-benar mendapat kebahagiaan atau musibah karena tidak mengikuti perintah yang ada dalam pesan tersebut. Adakah? saya ingin tahu…

Dari Movie ke TV Show

Awalnya saya tidak menyukai tv series macam Friends, Heroes, dll. Saya penggemar setia film baik dalam maupun luar negeri (Hollywood dan Korea). Dahulu, menurut saya menonton tv series akan sangat membosankan dan harus terus meng-update setiap episodenya. Waktu tersebut lebih baik saya gunakan untuk menonton film.

Namun beberapa bulan ke belakang- sekitar 3 bulanan lah, saya sedikit “berbelot”. Saya kecanduan tv series. Hal ini diawali saat saya menghadiri kursus di EF. Ketika itu si Bill- guru di kelas saya, memutar salah satu episode Friends untuk ditonton dan kemudian didiskusikan. Setelah menyaksikan satu episode salah satu sitkom terbaik di Amerika ini, saya menjadi tertarik. Selain ceritanya yang selalu lucu, saya pikir asyik juga kalau menonton episode-episode yang lainnya. Lalu di pikiran saya, “tv series yang lain kan banyak, ntar download2 ah..”. Maka malam itu juga, saya berikrar untuk berhenti sejenak dari dunia perfilman dan beralih ke tv series. yihha!

Untuk sitkom Friends sepertinya saya sudah banyak ketinggalan. Ya, Friends sudah tidak produksi lagi dan berhenti di season 10. makk!!! Maka pilihan saya jatuh pada Supernatural karena saya penasaran, sepertinya bagus ceritanya. Semenjak itu saya kerap mendownload. Di Indowebster pastinya. tnx to IDWS. Namun karena keterbatasan kecepatan koneksi internet, saya tidak bisa mendownload tv series secara terus-menerus setiap hari. yah.. paling 1 hari dapet 2 episode lah. -tapi kalo Speedy lagi bocor, pasti akan saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya!hehe..

Nah, hasrat menonton tv series ini semakin menjadi-jadi tatkala menjelang Lebaran 2009, saya teringat oleh saudara sepupu saya, a Shandy. Seingat saya, dia mengoleksi film-film dan tv series. Saya kontak saja dia. Lalu saya minta dibawakan kopian beberapa acara tv series yang saya incar ke Cianjur- tempat saya mudik. Nanti tinggal transfer2 data! dan dia pun menyanggupi. Hasilnya, di kamar saya skr ada beberapa koleksi tv series. Apa saja? ada Supernatural, Heroes, Dexter, Chuck, dan How I Met Your Mother. Sekarang saya sedang mendownload beberapa tv series lain seperti Lost, Prison Break, Band of Brothers, Fringe, dan Big Bang Theory.

Haduh, gara-gara kecanduan tv series ini saya jadi melewatkan beberapa film baru. mm.. harus diseimbangkan sepertinya! Sudah ya?!

salam movie & tv show freak!

Phobia 2

Masih ingat 4bia? jangan lewatkan sekuelnya yang berjudul Phobia 2. Pergantian judul tersebut mungkin karena kini bukan 4 cerita yang disajikan di film tersebut, tapi 5. Ya, konsepnya masih sama. Lima cerita berbeda tersaji dalam satu film.

Cerita pertama mengenai biksu muda yang tinggal di pesantren lah kalau di Islam mah. Pesantren itu terletak di tengah-tengah hutan yang sangat mencekam. Selama tinggal di sana ia harus menjalani beberapa ritual yang di tempat yang sepi dan mencekam. Nah, di sinilah hantu-hantu itu muncul. Dari segi cerita dan usaha untuk membuat penonton terkejut sambil menutup wajah, okelah. Sayangnya hantu yang muncul bukanlah hantu menyeramkan seperti kuntilanak atau pocong, tapi full of CGI.

Cerita kedua diawali dengan unik. apa itu? liat sendiri. Untuk yang ini, ceritanya bisa dibilang standar karena settingnya berada di salah satu kamar di rumah sakit. Seorang pemuda yang baru saja mengalami kecelakaan ditempatkan di bangsal yang terdiri dari tiga tempat tidur. Ia ditempatkan di tengah. Sebelah kirinya kosong, sedangkan kanannya ialah seorang kakek yang sekarat dan hampir meninggal. Apa yang akan terjadi? cari tahu! Meski dengan setting yang sudah umum, menurut saya cerita ini merupakan yang ter-seram dibanding yang lain.

Menurut saya, cerita ketiga merupakan cerita yang kurang menarik di Phobia 2 ini. Bercerita tentang sepasang backpacker asal Jepang yang sedang berlibur ke Thailand. Di perjalanan mereka menumpang truk box yang kebetulan satu arah dengan mereka. Tidak diduga-duga, ternyata isi box tersebut ialah para zombie. Ini film hantu apa zombie?!

Cerita keempat bersettingkan tempat penjualan mobil-mobil bekas namun masih sangat mulus yang dimiliki oleh ibu yang memiliki seorang bocah laki-laki. Ternyata eh ternyata, mobil-mobil yang dijual di sana ialah mobil-mobil yang telah mengalami kecelakaan hingga tak berbentuk yang kemudian diperbaiki hingga mulus kembali. Nah, dari situlah masalah muncul. Selamat menonton! Walau kata teman-teman saya, cerita ini paling seram, tapi menurut saya biasa aja..

Cerita kelima atau terakhir ini menjadi alasan utama kenapa Anda-Anda harus nonton film ini. Karena paling seram? Bukan! Justru cerita ini saya yakin akan sangat-sangat mengocok perut Anda. Masih ingat, cerita ketiga di film 4bia yang menceritakan sekelompok pemuda sedang camping? ya, para pemeran di cerita ini tidak lain ialah mereka yang ada di film pertama. Kali ini mereka menjadi kru pembuatan sebuah film hantu. Jika Anda nonton di bioskop, saya yakin seisi bioskop akan tertawa melihat tingkah mereka.

Keseluruhan, film ini layak tonton. Meskipun tidak seseram film pertamanya, tapi dari segi cerita dan hiburan cukup layak untuk ditonton. Seperti yang saya katakan di atas, keunggulan film ini tetap terletak pada cerita terakhir yang sungguh menghibur. So, saya beri 7.5/10.

adik.dan.cotton bud

Seperti biasa, sore itu, Kamis (7/5) hujan tengah mengguyur Kota Bandung termasuk Kopo (yang belakangan ini kondisi lalu lintasnya semakin MEMUAKKAN!) Di rumah hanya ada saya, mama, dan adik bungsu saya yang bernama Aldiva. Karena salah satu keinginannya tidak terpenuhi, Aldiva pun menangis (biasa anak kecil) di tengah2 rumah. Sambil menangis, ia mengambil satu demi satu batang cotton bud untuk membersihkan telinganya. Mungkin ia merasa telinganya gatal hingga akhirnya memutuskan untuk membersihkannya dengan alat yang ternyata dapat kita temukan penjualnya di DAMRI.

Merasa tidak ada yang aneh, saya memutuskan untuk masuk kamar saja. Namun beberapa detik kemudian, Aldiva menangis semakin keras. Saya pikir itu hanya untuk menarik perhatian (biasa anak kecil). Kemudian saya keluar kamar dan melihatnya. Ternyata ia masih memegang sebatang cotton bud lalu membuangnya ke tempat sampah dan mengambil lagi dan lagi. Beberapa saat kemudian ia berkata “sakit…” masih diiringi dengan tangisannya. Kemudian saya dan mama menghampiri Aldiva sambil bertanya “kenapa?” Ia hanya menjawab “sakit…”.

Kemudian saya menuju tempat sampah untuk mencari cotton bud yang baru saja ia buang. Ternyata pada cotton bud tersebut kapasnya berwarna agak kemerahan.. “darah gitu?” , tanya saya dalam hati. “Waduh, ngorek2 telinga aja dalam2 amat…”, ujar saya. Tahu akan hal itu, mama maramaramara. Sebelumnya aldiva memang sudah pernah bermasalah dengan yang namanya cotton bud dan sekarang terulang lagi.. hadoooh… Saya memutuskan untuk meninggalkan TKP karena mama sedang marahin Aldiva yang lagi-lagi memasukkan cotton bud terlalu dalam. Aldiva menangis semakin keras karena takut terjadi apa-apa dengan telinganya- sambil ketakutan karena mama menakut-nakuti akan dioperasi bla bla bla.

Keesokan harinya Jumat (8/5), saya pikir masalah sudah clear karena tidak ada lagi tangis atau keluhan rasa sakit dari Aldiva. Mama pun memutuskan untuk tidak membawanya ke dokter THT. Pada pukul 9.30, mama yang sedang siap-siap untuk berangkat ke Kantor Dharma Wanita, dilempar sebuah pertanyaan oleh Aldiva. “Kapan ke THT?”, (Aldiva) “hah, emang masih sakit?”, (mama) “trus kapasnya gimana?” (Aldiva) Saya dan mama terkaget-kaget mendengar ucapan tersebut. Jadi intinya, kapas cotton bud yang Aldiva gunakan kemarin tertinggal di dalam telinganya. Aneh… Baru dengar saya kasus seperti itu. Sambil heran dan setengah percaya, saya mencoba untuk mencari cotton bud yang ia gunakan kemarin.. Akhirnya saya menemukan satu batang cotton bud yang salah satu ujungnya sudah tak berkapas.. “HAH???? Aneh banget!!!” ujar saya. Mama pun mengecek lubang telinga Aldiva dan ternyata benar, kapasnya tertinggal!! Mama pun maramaramara lagi pada Aldiva dengan alasan “bukannya bilang dari kemarin..”.

Kemudian mama cerita pada saya, bahwa ini merupakan keduakalinya kapas tertinggal dalam telinga Aldiva. Jadi, kasus yang dulu pun ternyata sama seperti ini. Akhirnya mama memutuskan untuk membawa Aldiva ke dokter THT saat itu juga. Saat sampai di rumah, mama bilang “g kenapa..kenapa..” Cuma diambil kapasnya dan ga ada sesuatu yang membahayakan. Hah, untunglah……