adik.dan.cotton bud

Seperti biasa, sore itu, Kamis (7/5) hujan tengah mengguyur Kota Bandung termasuk Kopo (yang belakangan ini kondisi lalu lintasnya semakin MEMUAKKAN!) Di rumah hanya ada saya, mama, dan adik bungsu saya yang bernama Aldiva. Karena salah satu keinginannya tidak terpenuhi, Aldiva pun menangis (biasa anak kecil) di tengah2 rumah. Sambil menangis, ia mengambil satu demi satu batang cotton bud untuk membersihkan telinganya. Mungkin ia merasa telinganya gatal hingga akhirnya memutuskan untuk membersihkannya dengan alat yang ternyata dapat kita temukan penjualnya di DAMRI.

Merasa tidak ada yang aneh, saya memutuskan untuk masuk kamar saja. Namun beberapa detik kemudian, Aldiva menangis semakin keras. Saya pikir itu hanya untuk menarik perhatian (biasa anak kecil). Kemudian saya keluar kamar dan melihatnya. Ternyata ia masih memegang sebatang cotton bud lalu membuangnya ke tempat sampah dan mengambil lagi dan lagi. Beberapa saat kemudian ia berkata “sakit…” masih diiringi dengan tangisannya. Kemudian saya dan mama menghampiri Aldiva sambil bertanya “kenapa?” Ia hanya menjawab “sakit…”.

Kemudian saya menuju tempat sampah untuk mencari cotton bud yang baru saja ia buang. Ternyata pada cotton bud tersebut kapasnya berwarna agak kemerahan.. “darah gitu?” , tanya saya dalam hati. “Waduh, ngorek2 telinga aja dalam2 amat…”, ujar saya. Tahu akan hal itu, mama maramaramara. Sebelumnya aldiva memang sudah pernah bermasalah dengan yang namanya cotton bud dan sekarang terulang lagi.. hadoooh… Saya memutuskan untuk meninggalkan TKP karena mama sedang marahin Aldiva yang lagi-lagi memasukkan cotton bud terlalu dalam. Aldiva menangis semakin keras karena takut terjadi apa-apa dengan telinganya- sambil ketakutan karena mama menakut-nakuti akan dioperasi bla bla bla.

Keesokan harinya Jumat (8/5), saya pikir masalah sudah clear karena tidak ada lagi tangis atau keluhan rasa sakit dari Aldiva. Mama pun memutuskan untuk tidak membawanya ke dokter THT. Pada pukul 9.30, mama yang sedang siap-siap untuk berangkat ke Kantor Dharma Wanita, dilempar sebuah pertanyaan oleh Aldiva. “Kapan ke THT?”, (Aldiva) “hah, emang masih sakit?”, (mama) “trus kapasnya gimana?” (Aldiva) Saya dan mama terkaget-kaget mendengar ucapan tersebut. Jadi intinya, kapas cotton bud yang Aldiva gunakan kemarin tertinggal di dalam telinganya. Aneh… Baru dengar saya kasus seperti itu. Sambil heran dan setengah percaya, saya mencoba untuk mencari cotton bud yang ia gunakan kemarin.. Akhirnya saya menemukan satu batang cotton bud yang salah satu ujungnya sudah tak berkapas.. “HAH???? Aneh banget!!!” ujar saya. Mama pun mengecek lubang telinga Aldiva dan ternyata benar, kapasnya tertinggal!! Mama pun maramaramara lagi pada Aldiva dengan alasan “bukannya bilang dari kemarin..”.

Kemudian mama cerita pada saya, bahwa ini merupakan keduakalinya kapas tertinggal dalam telinga Aldiva. Jadi, kasus yang dulu pun ternyata sama seperti ini. Akhirnya mama memutuskan untuk membawa Aldiva ke dokter THT saat itu juga. Saat sampai di rumah, mama bilang “g kenapa..kenapa..” Cuma diambil kapasnya dan ga ada sesuatu yang membahayakan. Hah, untunglah……

Advertisements

One thought on “adik.dan.cotton bud

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s