Monthly Archives: November 2009

Sampul Buku

Kemarin (3/11) saya berencana membeli buku “Menuju Jurnalisme Berkualitas”. Buku itu harus saya baca, rangkum, dan analisis. Seperti biasa, itu merupakan tugas mata kuliah Penulisan Feature Cetak. Penugasan yang benar-benar membosankan sekaligus memakan waktu.

Sehabis kuliah saya berencana membelinya di toko buku Toga Mas. Kata Rizal, di sana murah. Saya juga sebelumnya pernah mendengar kabar itu, tapi ada juga yang bilang lebih murah di Palasari. Saya penasaran. Sedangkan Alby- teman seperjuangan saya di Fetak, kekeuh kalau harga buku di Palasari lebih murah ketimbang Toga Mas. Untuk membuktikannya, kami merencanakan sesuatu. Saya ke Toga Mas, ia ke Palasari. Kemudian kami akan bandingkan harganya. Namun karena berhalangan, ia tidak jadi pergi sore itu. Ya sudah, karena saya sudah melewati Ujung Berung, mau tidak mau saya harus datangi Toga Mas. Urusan harga gimana nanti.

Saya pun tiba di Toga Mas. Tempatnya enak, nyaman, tidak ramai. Berbeda dengan Palasari yang seperti pasar. Saya menemukan buku yang saya cari. Saya membalikkan buku untuk melihat harga buku itu. Di sana tertera harga asli yaitu Rp 55.000 dan tulisan disc 15% sehingga menjadi 46.750. Mmm.. seingat saya di Palasari diskonnya hingga 20%. Seketika saya percaya dengan Alby yang bilang Palasari tetap lebih murah. Saya tidak jadi beli di sana dan langsung cabut menuju Palasari. Seperti biasa, karena suka yang praktis-praktis aja, saya langsung menuju Bandung Book Centre (BBC) yang sudah mendiskon semua bukunya sebesar 20%. Saya menanyakan buku tersebut ke mbak-mbak yang sedang di depan komputer, ia bilang bukunya ada. Ada di lantai 2.

Sampai ke lantai dua, saya cari buku “Menuju Jurnalisme Berkualitas” di deretan buku-buku komunikasi. Ahh, malas mencari. Saya tanya saja langsung hingga akhirnya saya dibantu oleh mbak-mbak berlogat Minang. Siang itu saya benar-benar leuleus. Belum makan dari pagi. Setelah dicari-cari sekian lama, bukunya tidak ketemu juga. Aneh, padahal di database komputer mereka jelas-jelas ada. Setelah si mbak itu sudah mulai malas mencari dengan bilang “kayaknya gak ada mas”, saya pun menyudahi pencarian saya karena sudah terlalu lelah. Saya kemudian keluar. Saya tanya ke abang-abang yang ada di toko-toko kecil. Tetap tak ada. Saya sudah frustrasi. Saya mau pulang saja. Beli buku itu besok aja deh, di Toga Mas. Sungguh saya sudah sangat malas jika harus balik ke Toga Mas saat itu juga.

ESOK HARI

Sore ini saya akan berangkat ke Jogja bareng Rian dan Sidik. Mau main kita. Liburan dengan biaya murah. Jadi pagi ini saya berencana membeli tiket kereta ekonomi Bandung-Jogja untuk malam hari. Setelah tiket ada dalam genggaman, saya menuju Toga Mas. Mau tidak mau saya harus membeli di situ. Tak apalah. Perbedaan harga hanya sekitar tiga ribu dengan Palasari. Setelah sampai, saya langsung ambil buku itu dan kembali melihat harganya. Masih sama, Rp 46.750 (setelah didiskon). Kemudian saya menuju kasir. Si kasir bilang harganya Rp 44.000. Loh? ko diskonnya jadi 20%. Ya sudahlah, karena merasa beruntung saya jadi tidak perlu banyak tanya. he he..  Dan ia bilang ada bonus sampul gratis. Wah, kali gini sih, sama kayak di BBC Palasari. Diskon 20% dan gratis nyampul. Tapi untuk kenyamanan jelas Toga Mas lebih unggul lah. Oia, saat menyampul saya meliahat ada Drunken Molen (yang sebelumnya susah saya cari). Saya putuskan untuk membeli buku itu juga.

Setelah disampul, saya pikir hasil sampulannya akan rapih. Ternyata, tidak sama sekali. Jauh lebih rapih menyampul di BBC. Karena kesal, saya berniat membuka itu sampulan. Eh, ternyata gampang karena dia menyampul dengan tidak menggunakan selotip. Wah, ini sih bener-bener bonus yang tidak niat. Pokoknya kalau beli buku di Toga Mas, ga perlu disampul deh.. walaupun itu gratis. Setelah itu saya menuju Palasari untuk menyampul di tempat sampul yang ada di sana, yang harganya 1.000an per buku. Terakhir, saya menyampul di tempat seperti dan hasilnya sangat memuaskan. Sangat rapih. Keluar duit 1.000 itu worth it. Maka di pikiran saya sejak itu, tempat-tempat jasa sampul dengan harga 1.000 itu pada rapih nyampulnya.

Saya bingung harus ke tukang sampul yang mana. Karena lumayan banyak dan banyak juga yang sedang tidak ditunggui pemiliknya. Saya liat ada bapak-bapak tukang sampul menganggur. Di mejanya ada tulisan “Aladin” kalo ga salah. Tapi gulungan plastik sampulnya cuma satu. Biasanya pada lebih dari satu. Saya pun mengeluarkan dua buku yang saya beli untuk minta disampulkan. Berbarengan dengan siswi SMP yang bukunya ingin disampul juga. Hasilnya…. kok?!?! teu rapih sumpah!! Rugi banget itu keluar duit 2.000! Bahan sampulnya juga tipis.. arghhh!!?>!?! Saking ga sukanya, saya berjalan di sekitar Palasari sambil membuka itu sampul. Saya berniat mencari tempat sampul lain yang di mejanya ada banyak gulungan plastik sampul. Bodo amat duit 2rebu melayang. Di pikiran saya, kalo di mejanya ada banyak gulungan, itu pasti rapih.

Akhirnya saya temukan deh, meja tukang sampul dengan gulungan yg banyak. Kemudian disampulah buku saya itu.. Ya, better lah. Dia menyampul jauh lebih rapih dibanding yang sebelumnya. Saya pun pulang ke rumah dengan perasaan tenang. Ketika sampai di rumah, saya bandingkan dengan buku-buku saya sebelumnya yang disampul juga. Beda. Buku-buku yang saya beli sebelumnya, sampul plastiknya lebih tebal. Apa sekarang harganya jadi naik? Jadi kualitasnya pun diturunkan. Hah, entahlah… Yang pasti, saya gak mau buku saya jadi ga enak dilihat gara-gara disampul dengan tidak rapih. (so iyeh lu dit!)

Ada tips nih dari saya kalo mau nyampul buku di tempat-tempat jasa penyampul buku seperti di Palasari:

1. Cari tukang sampul yang kelihatan rapih

2. Cari yang di mejanya ada banyak gulungan plastik sampul

3. Kalau bawa lebih dari satu buku, jangan langsung keluarin semua. Satu aja dulu. Kalau hasilnya bagus, baru keluarin yang lain. Kalau jelek, mending cari tempat lain.

Malam ini saya berangkat ke Jogja nih. Mudah-mudahan ngga ada apa-apa & balik ke Bandung dengan sehat walafiat. Amin. ciaoo!!

Advertisements

Ekspedisi Pecel Ayam #4: Jalan Hasanuddin (Samping Borromeus)

DSC_0270
Dalam keadaan kosong, karena sudah larut malam.

Tak terasa, sudah 4 minggu berlalu sejak ekspedisi edisi pembuka. Tujuan kali ini ialah pecel ayam yang terletak di samping RS Borromeus (terkenal karena selalu dipenuhi pengunjung). Ya, setiap melewat jalan ini, pasti kami menemukan kumpulan orang yang sedang menunggu giliran untuk bisa duduk. Atas dasar itulah kami ingin mencoba pecel ayam ini. Kami ingin tahu, apa kelebihan tempat ini sehingga kerap dipenuhi pengunjung.

Kali ini ekspedisi dilakukan tidak seperti biasanya. Jika sebelum-sebelumnya dilaksanakan setiap Jumat, kali ini kami berangkat hari Sabtu. Saya berangkat dari rumah setelah Magrib menuju rumah Ardhy. Hari itu ia baru pulang dari Jakarta karena sedang melaksanakan job training di Metro TV. Kami berdua langsung menuju lokasi dan janjian dengan Riko di sana. Sedangkan Lingga, ia bilang akan nyusul karena sedang ada date dengan kekasihnya, Lisye. ehe.

Setelah berjumpa Riko di parkiran, kami memutuskan untuk mencari tempat duduk yang kosong. Ketika suasana benar-benar ramai. Penuh sekali. Banyak yang antri untuk duduk. Wow! Kemudian ketika luak-lieuk.. eh, ada sepasang jurnal-jurnil di sana yang sedang makan. Ya, mereka adalah Bang Ipul dan Meong. Mereka terlihat sedang menyantap makanan dengan nikmat. mm……. setelah ngobrol-ngobrol sebentar dengan mereka, kami pun mencari tempat duduk. Ah, akhirnya ketemu.. posisinya ada di bagian luar tenda. Tapi tak apa. Yang penting bisa duduk. Lalu saya dan Riko memesan makanan. Saya pesaned (ceritanya past tense) ayam dada + tahu. Tapi apa daya, ternyata tahu tempe telah habis. Ya sudah, saya pesan ayam saja. Begitu juga Riko. Sedangkan Ardhy pesan Lele.

DSC_0255DSC_0256Pesanan datang! Kami bertiga sangat penasaran, bagaimana sih rasanya hingga mampu menarik banyak pengunjung. Sedikit berbeda dari biasanya, pada pecel ayam ini saya tidak menemukan kol. Selain sambal, ayam hanya ditemani dedaunan gitu lah. Entah habis, entah memang seperti itu penyajiannya. Saya mencocol potongan ayam (biasanya tahu untuk cocolan pembuka) ke sambal. Mmm, ada yang beda dengan sambalnya, tapi apa ya? Rasanya asam dan sedikit pedas. Tapi kenapa sambalnya terasa beda ya. Seperti gak ada filter gitu rasa sambalnya. hehe. Setelah saya cermati, saya akhirnya tau, yang berbeda dari sambal ini ialah tidak adanya campuran terasi. Bagaimana dengan ayamnya? wow, lezat!! ayamnya benar-benar renyah, dagingnya oke, rasanya oke. Menurut saya ini merupakan ayam yang paling enak dibanding tempat-tempat sebelumnya. Tapi saya kurang sreg dengan sambalnya. Ga pake terasi soalnya.

Riko bilang tempat ini merupakan pecel ayam terbaik. Ardhy juga memuji rasa lelenya yang benar-benar renyah. Sedangkan saya sendiri, saya suka ayamnya, tapi sambalnya kurang pas menurut saya. Bagaimana dengan bebeknya? Bagi penyuka bebek, sepertinya tempat ini wajib didatangi karena mungkin rasanya renyah juga (seperti ayam dan lelenya). Kami pun menghabiskan makanan kami.

Sesudah makan, kami ditemani Bang Ipul dan Meong untuk ngobrol-ngobrol. Selang berapa lama, duet Li-Li (Lingga Lisye) datang juga. Kami pun melanjutkan acara ngobrol-ngobrol. Hingga ketika Bang Ipul hendak pulang dan sudah menaiki motor, datanglah pengamen bencong. *hiiiii.. Ia ngamen tepat di sebelah Riko. Riko meminta maaf karena tidak memberi. Tapi si tulang lunak itu terus bernyanyi. Hingga akhirnya salah satu dari kami memberinya uang. Setelah diberi uang, ternyata ia masih mengharapkan pemberian dari Riko. Riko pun kembali bilang punten. Taukah Anda apa yang kemudian terjadi? Bibir si bencong mendekati pipi Riko dan hendak menciumnya… Masih teringat oleh saya bagaimana suaranya terdengar jelas “mmmuahhhh”. ahahahaha. Rian pun menjadi bahan tertawaan kami karena ketika hendak dicium, ia bukannya menghindar, malah memejamkan mata sambil gemetar. hahahha.. Riko.. Riko.. ;D

Secara keseluruhan tempat ini perlu dicoba karena rasa ayamnya yang enak. Namun jika Anda mementingkan urusan kenyamanan, saya rasa Anda perlu menunggu hingga malam karena sudah kosong (tapi makanannya juga habis) haha. Selamat mencoba, deh!

Dua Dua

Dua-dua ialah nomor jersey Kaka’ saat masih di Milan

Dua-dua ialah tanggal kelahiran adik saya, Aldiva

Dua-dua ialah SMA beberapa teman dekat saya

Dua-dua ialah angka sebelum 23 dan sesudah 21

Dua-dua ialah USIA SAYA SEKARANG!!!

Tak banyak kata yang bisa diucapkan. Yang jelas ini bukan usia untuk :

* meminta uang kepada orang tua untuk hura-hura

* bermalas-malasan karena masih ada hari esok

* bersantai-santai karena masih ada hari esok

* menunda-nunda pekerjaan karena masih ada hari esok

Tapi di usia ini kamu harus bersikap dewasa, bijak, dan optimalkan segalanya. Selesaikan misimu, capai tujuanmu.

Teruslah berusaha dan berdoa agar semangat ini tidak luntur. Semangat dit!!

 

Terimakasih untuk mamah, mapah, kedua adik saya, dan teman-teman saya tercinta yang mendoakan saya di hari ini.

 

_duapuluhlimaoktober.duaribusembilan_

Ekspedisi Pecel Ayam #3: Cak Imam (Jalan Terusan Buah Batu)

DSC_0127Perburuan berlanjut. Kali ini tujuan kami ialah Pecel Ayam di Jalan Terusan Buah Batu. Saya mendapat informasi tentang tempat ini dari salah satu teman SD, Dimas Nugroho. Menurutnya, sambal pecel di tempat ini enak, cenderung juara malah. Maka itu saya masukkan pula ke dalam list tempat-tempat perburuan.

Malam itu, saya berangkat dari rumah bersama Lingga yang sudah berada di rumah saya sejak siang. Kami janjian bertemu Rian di SMAN 4, karena sebelum ke lokasi utama, kami berencana untuk mendatangi pameran karena Rian ingin membeli DVD Rom. Sedangkan Ardhy, sorenya bermain futsal di Jatinangor. Jadi ketemuan di lokasi saja. Setelah bertemu, berangkatlah kami. Ketika Rian mencari-cari DVD Rom, saya dan Lingga memutuskan untuk ngemil (apa makan ya?) baso tahu yg jualan di depan gedung Landmark- tempat berlangsungnya pameran. Setelah kenyang dan Rian memutuskan untuk tidak jadi membeli DVD Rom di sana, kami pun berangkat menuju lokasi.

Kami bertiga janjian dengan Ardhy di depan Carefour Kircon. Tapi berhubung sudah lapar (lah, bukannya td baru makan bastah?!), kami memutuskan langsung ke lokasi saja. Ardhy suruh nyari sendiri saja tempatnya. Ga susah ko nyarinya. Letaknya berada di Jalan Terusan Buah Batu, tidak jauh dari perempatan Buah Batu-Soekarno Hatta. Jika dari arah Kircon, di perempatan belok kiri. Nah, jalan terus hingga menemukan Pecel Lele Ayam di sebelah kiri. Langsung ada ko. Ketika sampai, saya membaca tulisan “Cak Imam”. Oh.. ini namanya Cak Imam……

Kesan pertama saat masuk, “lumayan bersih ya tempatnya”. Beda dengan tempat Pecel Ayam yg lainnya. Lalu apa lagi yang beda? Di meja ada menu dan nota untuk pemesanan! weks, baru pertama kali saya melihat ada tempat pecel ayam yang pakai kaya begituan. haha. Baiklah, kita coba. Saya memesan menu andalan: Ayam+tahu. Rian: Ayam (ajah). Lingga: Soto (katanya sedang ingin yang berkuah). Di sini ada nasi uduk loh. Jadi saya pesan nasi uduk. Selang berapa lama, Ardhy datang. Ia masuk sambil bilang “assalamualaikum” (ini bohong). Kemudian ia memesan juga. Soto ayam, biar ada suasana berbeda katanya.

DSC_0119DSC_0128Pesanan datang. Disajikan dengan menarik. Piring plastik dan juga ceper. Rangkaian ayam, sambal, dan kolnya rapi. Sotonya juga terlihat enak. Langsung saja saya coba sambalnya dengan tahu. mm… tidak terlalu istimewa menurut saya. Tapi bisa dibilang lumayan lah. Bumbunya tidak jauh berbeda dengan bumbu pecel ayam pada umumnya. Ada rasa kacang, tomat, terasi, dan rasa pedasnya juga lumayan terasa. Ayamnya lumayan. Tapi dengan sajian yang rapih serta tempat yang bersih juga sudah membuat kami makan dengan nyaman dan nikmat. Apa kata mereka?

Rian d’masiv : “bumbunya mirip sama yg di Wastukecana, biasa aja. Tapi tempatnya rapih dan enak,” ucapnya.

Lingga Boy Jati : “Sotonya enak.., ”

Ardhy : “ngeunahhh siahh..!”

*Harga: Nasi uduk+ayam+tahu = Rp 9.000

Jadi intinya, menurut saya tempat ini enak untuk mengajak teman-teman yang jumlahnya agak banyak karena tempatnya lumayan bersih dan nyaman (dibandingkan tempat pecel ayam lain). Rasanya pun tidak mengecewakan. Walau tidak tergolong isitimewa, tapi termasuk enak kok!

Selamat mencoba ah brader…!!