Monthly Archives: January 2010

Ekspedisi Pecel Ayam #5: Mc Darmo LA

huh…. sebenarnya saya udah posting ini dan mempublishnya sebelum saya menulis “Jogja, here i come”. Tapi entah kenapa postingan saya tersebut hilang. Argh.. dan berjuta-juta malas kalau saya harus mengulang kembali tulisan yg sama tentang Mc Darmo ini. Jadi saya persingkat saja ya..

Mc Darmo terletak tepat di depan Taman Lalu Lintas. Sebenarnya ini bukanlah tempat asli Darmo. Sebelumnya tenda Darmo ini terletak di Jalan Jawa, tepatnya di depan SMP 5 Bandung. Entah kenapa pindah. Saya bersama 2 rekan Karucel, Ardhy dan Rian menuju Darmo sekitar pukul 20.00. Darmo ini memang sudah cukup terkenal di Bandung. Bisa terlihat dengan banyaknya pengunjung yang datang setiap malamnya.

Sambal pecel di Darmo ini rasanya manis-manis-pedas. Menurut saya sih, enakk.. Ardhy pun bilang begitu, tapi dua teman saya yang lain: Lingga dan Rian bilang kalau mereka tidak suka sambal di sini karena rasa manisnya yg begitu kentara.. Sedangkan rasa ayamnya sendiri, cukup renyah walau tidak terlalu istimewa. Kekuatan Darmo ini sepertinya memang terletak pada sambalnya.

Jadi, bagi Anda yang kurang begitu suka dengan rasa-rasa manis, mungkin Darmo ini bukan pilihan bagus. Tapi sebaliknya, jika Anda tidak bermasalah dengan itu, Anda perlu mencobanya!! Selamat mencoba!

Advertisements

Jogja, here i come…

Saat-saat ini datang juga. Saat saya berhadapan langsung dengan dunia kerja. Ya, mulai 1 Februari besok saya akan memulai kegiatan PKL / Job Training / KP di Harian Jogja selama 2 bulan. Jujur, saya deg-degan. Tapi saya harus percaya diri. Saya pasti bisa. Dan Jogja adalah murni pilihan saya sendiri. Jadi, ya saya harus siap segala-galanya. yeah!

Saya jadi ingat kkn. Saat itu saya jauh dari rumah (Bogor) selama dua bulan, walau 2x sempat pulang ke rumah. Sekarang pun begitu, saya akan jauh dari rumah (bahkan jauh lebih jauh). Yogya! Dan situasinya pun pasti lain. Saat kkn, kami ber-20. dan itu sangat menyenangkan.. Sedangkan besok? saya benar-benar sendiri. Hanya 2 orang yang saya kenal yang tinggal di Jogja. 1.a’Rian (sodara sepupu saya yg kuliah di sana) dan 2.Ayub (teman sekampus saya). Tp tentu saya ga akan bisa banyak bergantung sama mereka. Okay, saya siap! semangat!!

Mudah-mudahan Daerah Istimewa itu jadi tempat yang menyenangkan buat saya selama dua bulan. Semoga.

Selamat tinggal Bandung dengan udara kota terbaik menurut saya, selamat tinggal jajanan Bandung yang melimpah. dan, Halo Jogja! akan saya ubek-ubek kamu.. hahha..

Tunggu cerita saya selama di Jogja ya! wish me a good luck guys…..

Low Cost Holiday in Jogja (4-7 November ’09)

Akhirnya saya bisa menulis cerita perjalanan ini. Cerita perjalanan yang tertunda 1 bulan. Sebenarnya saya ingin menulis ini lebih awal, tapi kesibukan benar-benar menyita waktu saya *geleuh*. Tugas penulisan feature cetak, menyelesaikan Supernatural season 3, ngedit video reunian mamah, baca Cinemags, rasa malas, dan masih banyak lagi deh pokonya hal-hal yang membuat saya menunda ini. Baik, kita mulai saja…

Saya, yang kuliah hanya senin-selasa tiap minggunya, merasa perlu untuk berlibur. Yah, main-main di luar kota lah. Kota tujuan kami ialah Yogyakarta, atau biasa disebut Jogja (bukan dept. store). Saya dan kedua teman saya liburan dengan stelan murah (bukan berarti murahan ya) *naon sih*. Apapun namanya itu, backpacking, low cost traveling, dll. Jadi, dengan budget yang minim mudah-mudahan kami bisa dapat kepuasan di sana. Oya, saya ke kota ini juga sekalian memasukkan surat Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Harian Jogja.

Saya perkenalkan dulu deh teman-teman saya: Sidik dan Rian. Ya, kami hanya bertiga ke sana. Mereka menjadi teman saya sejak SMA. Sekian perkenalan.

Kami bertiga menuju Stasiun Kiara Condong, tepat sesudah Magrib, diantar oleh tetehnya Sidik naik mobil. Menurut jadwal, kereta berangkat pukul 20.20. Tiket sudah dibeli oleh saya tadi siang. Tiketnya bernomor kursi, seharusnya kami tidak perlu khawatir tidak kebagian tempat. Tapi, ini Indonesia, segalanya bisa terjadi (kata Sidik). Kami sengaja datang lebih awal untuk menghindari hal-hal yg tidak diinginkan -baca:ketinggalan kereta. Jadi ketika sampai di Kircon kami masih sempat untuk makan popmie lalu duduk-duduk dekat rel sambil nunggu kereta datang. Oya, ini pengalaman pertama kami naik kereta ekonomi loh… jauh pula.

Pukul 20.15 kereta datang. Kereta yang kami naiki ialah Kahuripan. Start di Padalarang dan berakhir di Kediri. Ternyata banyak penumpang yang naik kereta ini juga. Kami takut tempat duduk kami disamber orang. Setelah menumukan tempat duduk, kami langsung duduk dan alhamdulillah sesuai nomor (walau sebelumnya tempat duduk ini terlihat sedang diduduki orang lain). Suasana di dalam kereta ekonomi benar-benar tidak karuan. Banyak pedagang yg berseliweran, ada yang berdiri, ada yang duduk di tempat untuk orang lewat, dll. Tapi, ya mau tidak mau kami harus menikmati ini semua. Secara.. tiket murah gituh. Bdg-Jogja Rp 24.000.

Kami disuguhkan hal menarik (perhatian) di sini. Ada yang cekcok di saat kereta sedang berjalan. Dua orang penumpang merasa tempatnya direbut oleh orang lain (dua orang juga, pasangan). Namun kedua orang yg sudah duduk itu pun bersikeras kalau tiket yang dia pegang merupakan tiket resmi. Setelah diminta memperlihatkan tiket, ternyata keduanya kadaluarsa. Itu tiket untuk tanggal kemarin. Tapi, mereka mengaku membelinya di loket, jadi mereka ga mau disalahkan. Teruslah ribut itu, saling adu mulut hingga akhirnya petugas datang. Petugas jelas lebih mempercayai tiket yg sesuai dengan tanggal sekarang. Meski terus menggurutu, akhirnya kedua orang itu keluar karena disuruh petugas untuk menghubungi petugas stasiun (ketika itu kereta sedang berhenti sebuah stasiun).

Analisis kami bertiga, kedua orang itu beli tiket di calo yg menjual tiket kemarin, dan mereka ga ngecek dulu. Hah, dasar ya orang Indonesia. Udah ada tiket murah, tetep aja susah untuk teratur. Dari kejadian itu, saya mendapat pelajaran: jangan pernah beli tiket di calo, selalu periksa tanggal keberangkatan di tiket, dan cepat-cepat ke tempat duduk sebelum disambar orang tak bertanggung jawab.

Kereta terus berjalan. Berhubung ini kelas ekonomi, maka kereta ini sering berhenti di stasiun-stasiun yang dilewati. Sidik tampak asyik mendengarkan mp3 playernya, Rian sesekali memejamkan mata tertidur, sedangkan saya harus membaca buku untuk tugas Fetak. ah! Saya ajak ngobrol orang-orang yg duduk berhadapan dengan kami. Ada dua orang mahasiswa STT Telkom angkatan 2009 yang asli Jogja. Ternyata mereka baru pertama kali juga naik kereta ekonomi. Lalu dekat jendela ada mas-mas (angkatan 03 ternyata) yang katanya berprofesi sebagai intel (tapi bukan intel polisi). Ketika yang lain tertidur, selain baca saya juga kerap ngobrol dengan si mas tadi. Ngobrol apa aja.

Akhirnya kereta tiba di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta pukul 05.40. Perjalanan yang melelahkan. Membuat kaki pegal, pantat aga sakit. Sebenernya kursi agak empuk, tapi kita tidak menaruh barang-barang kita di atas melainkan menggendongnya, sehingga ruang gerak jadi sempit. Seudah turun, kami sempat foto-foto di samping kereta hingga ada “tangan metal” misterius yang keluar dari jendela kereta. hahaha. Kemudian kami memutuskan untuk istirahat sejenak di Musholla di stasiun tersebut, sekalian shalat subuh. Mushollanya bersih. Jika dibandingkan dengan Stasiun Kircon, Lempuyangan benar-benar jauh lebih bersih! Padahal keduanya sama, tempat pemberhentian kereta ekonomi.

Istirahat cukup. Kalau kami lanjutkan tidur di musholla, mungkin akang bangun jam 12 siang. Jadi, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Tujuan berikutnya: mencari penginapan. Yang murah tentunya! Keluar stasiun kami seperti orang bingung karena benar-benar buta tentang Jogja. Aha! untung saya membawa peta. Saya mengeluarkan peta lalu mencari arah jalan. Ya, kami harus ke kanan. Sambil berjalan, banyak tukang becak yang menawarkan jasanya kepada kami. Mungkin kami terlihat seperti turis. Kami pun menolaknya dengan sopan.

Kami menuju Malioboro. Karena kami memang berencana mencari penginapan di sekitar Malioboro. Ternyata capek juga jalan dari Lempuyangan sampai Malioboro. Karena sebelumnya saya mendapat info bahwa di Jalan Sosrowijayan ada penginapan murah, kami pun langsung menuju jalan itu. Oya, saat berada di Malioboro, ada seorang calo yang menawarkan penginapan. Namun karena menghindari percaloan, kami pun menolaknya dengan baik-baik. Tapi ternyata dia calo yang baik. Ia memberikan peta Jogja yang lumayan bagus (berbeda dgn yang saya print di rumah). Dan ia bilang bawa saja. Terimakasih banyak mas!

Sampailah kami di Jalan Sosrowijayan. Jalannya tidak begitu lebar. Dan ternyata Jalan Sosrowijayan itu memang daerah penginapan karena banyak sekali kita temukan penginapan di sana. Termasuk hotel. Banyak sekali calo yang menawarkan penginapan. Huh! Karena penasaran dengan harga, kami pun mencoba salah satu penginapan yg ditawarkan calo. Namun, harganya tidak cocok. Jadi kami pun berniat mencari lagi. Tapi karena kami bertiga lapar, kami memutuskan untuk sarapan dulu di angkringan. Rian dan Sidik makan nasi kucing. Nasi yg dibungkus kecil dengan isi tempe kalo ga salah dan harganya murah. cuma serebu! Kalo saya sih, makan gorengan aja.. dan minum teh manis (ups, kalo di sana udah pasti manis) hehe. Sehabis sarapan murah, kami melanjutkan perjalanan untuk mencari penginapan. Karena merasa gandeng alias berisik mendengar ocehan calo, kami memutuskan jalan saja ke arah yg berlawanan dengan arah Malioboro.

Sampai di ujung jalan, kami ngampar-ngampar di depan bengkel yang masih tutup. fiuh.. cape juga. bawa tas berat soalnya dud!! Ketika kami duduk-duduk, ada tukang becak yang sudah benar-benar tua menghampiri, kami ngobrol-ngobrol. Sidik memberinya sebatang rokok. Karena sepertinya itu bengkel udah mau buka, kami lanjut saja. Ternyata si kakek-kakek tadi berniat mencarikan kami penginapan yg murah. Baik sekali dia.. Setelah negosiasi di beberapa tempat akhirnya kami dapat tempat yg harganya cocok. Di mana? di Sosrowijayan juga. hahaha. Harga per malamnya Rp 40.000 tapi karena kami bertiga jadi kena charge Rp 20.000, yah lumayan lah jadi seorang 20rebu. Tempatnya lumayan bersih. Kamar memang tidak terlalu luas, tapi enak lah dengan harga segitu. Ada ruang untuk nonton tvnya juga lagi. Kamar mandi di luar dan bersih banget… Namanya “Losmen Fadel”.

Arghh.. akhirnya kami bisa merebahkan badan di kasur. Karena belum mandi seharian, kami bergiliran untuk mandi saat itu. Setelah semua mandi, Sidik dan Rian memutuskan untuk istirahat setelah menempuh perjalanan jauh Bdg-Jogja. Sedangkan saya, ada keperluan. Saya mau ke Harian Jogja untuk memasukkan surat untuk PKL. Sendiri saja. Tanpa tau harus naik apa ke sana. Tapi peta tetap saya pegang.. Saya pun berangkat. Tak lupa membeli susu di mini market. Di Malioboro saya bertanya ke tukang parkir-tukang parkir. Apa yang bisa saya naiki untuk sampai ke Jalan MT.Haryono- jalan di mana kantor Harian Jogja berada. Seorang tukang parkir bilang, saya jalan dulu, lalu nanti saya naik bus. Ya sudah, saya ikuti. Saya naik bus entah apa namanya, pokonya mau ke MT Haryono. Ternyata saya harus naik bus 2x, jadi disambung gituh. Ongkos bus, sepertinya jauh-dekat Rp 2.500.

Saya pun sampai di Jalan MT. Haryono, dan harus jalan sedikit karena bus itu tidak sepenuhnya lewat jalan itu. Ah, ketemu juga itu kantor Harjo. Setelah mengurusi semuanya, tinggal pulang nih! naik apa ya? saya bertanya kepada tukang parkir lagih. ternyata saya cukup naik bus satu kali sampai Malioboro. Nah, di bus ituh saya merasa sedikit ditipu. Saya dilempar pertanyaan oleh kondektur dengan bahasa jawa sambil menagih ongkos. Ngomongnya cepat sekali. Benar-benar ngga ngerti. Alhasil, saya bilang aja “ngga ngerti mas”. Lalu dia bilang “turunnya di mana”.. oh… saya bilang “malioboro”. Saya kasih uang 5.000. tapi dikembalikannya 2.000. Harusnya kn 2.500. huh. tp tak apalah. hehe..

Dari Malioboro, saya jalan sampai losmen. Cape juga. Sesampainya di losmen, saya titiduran bentar. Tapi karena sudah waktunya makan siang, kami bertiga memutuskan untuk keluar cari makan. Sampailah di Malioboro. Entah kenapa kami memilih tempat itu. Sidik makan gudeg komplit yang keliatannya tidak komplit. Sedangkan saya dan rian makan mie ayam. Minumnya? sudah pasti teh (pasti manis). Rasanya: Kata Sidik, gudednya biasa saja. tapi harganya tidak biasa!! 17.000 kalo ga salah. Mie ayam? gak enak! kuahnya cairr sekali! harga sih murah, tp es tehnya mahal! shit! biarlah..

Selepas makan, kami memutuskan jalan-jalan sambil foto-fotoan lah. Pertama ke stasiun dan kami popotoan di bawah terik matahari. Sesudah dari sana, kami penasaran dengan Tugu Jogja. Kami harus jalan dan lumayan juga! lumayan jauh! Lalu ada apa di Tugu? biasa saja… sial,udah jalan jauh2.. Tugu nya biasa aja. Gede juga ngga. Kami pun memutuskan untuk balik lagi.. jauh lagih.. huh! Tujuan kami berikutnya langsung saja losmen karena udah benar2 capek. Sesampainya di losmen, hanya ada satu kata untuk saya: tidur!! ah…

Bangun-bangun sudah Maghrib.. Setelah sholat, aga maleman dikit, kami memutuskan untuk mencari makan di luar sekaligus cari-cari barang untuk oleh-oleh.. Oya, saudara saya, A Rian yg kuliah di Jogja mau ke losmen malem ini. Setelah siap berangkat, kami langsung menuju Malioboro. Cari-cari barang untuk oleh-oleh. Alhasil saya dapet beberapa baju dan gantungan kunci..  mh, sepertinya emang harus dengan bahasa Jawa agar tawar-menawar bisa berjalan dengan baik. Setelah dapat semua barang, kami cari makan. Tempat makan yang kami hindari: Lesehan di Malioboro. Katanya harganya sangat mahal. Khusus harga turis. Kami pun keluar dari area Malioboro. akhirnya kami menemukan tempat makan. Ada ayam penyet, ada juga soto apa sih lupa namanya. itu lah. Sidik dan Rian pesan soto, saya telor penyet.. hehe, murah meriah gan. Rasanya? standar, biarlah, yang penting makan!

Saat berjalan menuju losmen, a ian (panggilan a rian) sms. Ternyata ia sudah sampai di Losmen Fadel. Saya bilang tunggu, saya masih di jalan. Pas di Sosrowijayan, ternyata ia dan satu temannya sedang nunggu di depan minimarket tempat saya beli susu. Akhirnya saya ajaklah mereka ke losmen. Yah, ngobrol2 lah.. Ga terlalu lama, karena katanya mau jenguk siapa gitu.. di RS. nah, rencana kami berikutnya ialah ke Kopi Joss! Kopi yang dimasukin areng panas. unik kan? yeah! Ya, agak maleman, kami menuju tempat itu. Melewati Jalan Sarkem yang terkenal itu. wew! udah jam segituh, yg ada yang tua2…haha.. sesampainya di tempat kopi jos itu.. huwaw! rame sekali… padahal bukan weekend! di tempat lesehannya yang berjejer panjang, penuh dengan anak muda! udah kaya lagi tahlilan aja. Kami pun cari tempat duduk. tapi bukan di lesehan, melainkan di angkringannya saja. Kami pun pesan Kopi joss. Rasanya? joss… sama saja seperti kopi biasa.hehee… ngemilnya gorengan. nasi kucing juga ada…

Selepas dari sana, kami menuju losmen lagi. sempat foto-foto bentar langsung balik deh ke losmen. Sesampainya di losmen, hareudang bukan main. Saya memutuskan untuk mandi dahulu sebelum tidur karena hareudang sekali.. Ah, setelah mandi, saya langsung menuju tempat tidur. Besok masih ada perjalanan lagih. apa? Pantai!! yeah!!

ESOK HARI

Sesudah solat Subuh (Solat teu nya?) hehe.., kami packing-packing barang bawaan karena rencana kami ialah: seharian bermain di pantai lalu malamnya langsung naik kereta menuju Bandung. Ini memang di luar rencana sebelumnya di mana kami berencana satu hari lebih lama di Jogja. Namun karena tidak tahu mau ke mana lagi, jadi kami putuskan untuk pulang di hari kedua di Jogja ini. Kemudian saya dan Rian mencari tempat penyewaan motor karena ke daerah pantai tersebut sulit jika naik kendaraan umum *kayaknya harus hitchhiking*. Jadi, lebih enak kalau nyewa motor saja. Akhirnya kami pun dapat tempat penyewaan motor tersebut. Selama 12 jam harganya Rp 50.000. Sayang memang jumlah kami ganjil. Tapi mau gimana lagi. Hajar sajah!

Akhirnya kami segera meninggalkan Losmen Fadel, losmen yang cuma kami tempati satu malam. Oiya, kenapa kita bawa semua barang bawaan ke pantai? karena waktu check out ialah jam 12 siang. Jadi mau tak mau kita kudu bawa barang bawaan kita dari sekarang. Sebelum berangkat, kita foto-foto dulu di ruang tamu losmen bersama si penjaga, siapa y lupa namanya. Ya pokonya dia yg saya minta pinjam sajadah, saya minta pinjam sisir. Maka berikutnya terjadi banjir air mata (ini mah bohong).

Kami bertiga akhirnya berangkat menuju pantai-pantai tersebut, di daerah Wonosari, Gunung Kidul kalo ga salah. Saya boncengan dengan Rian, Sidik sendiri, soalnya dia bawa backpack yg berat. Di perjalanan, sekitar 10 menit perjalanan, kami sarapan dulu. Kenapa? karena kami lapar. Ada sebuah gerobak dengan tenda di pinggir jalan *ya iya atuh di pinggir jalan, kalo di tengah mah udah ketabrak mereun* GARING. Sedia gado-gado dan Indomie rebus. Makanlah kami, Rian dan Sidik makan gado-gado, kalo saya indomie saja. (takit ga enak gado-gadonya) Kalo indomie mah ga mungkin beda kn ya rasanya… Tapi kata sidik, gado-gadonya itu enak. harganya 6.000. Kami juga ngobrol ama si bapa dan ibu penjualnya yang sudah agak tua. Kami bilang mau ke pantai sana. Terus si ibu bilang, di Pantai Baron ada tempat asyik, terus di sana ada yang jual makanan2 laut kaya kepiting dengan harga murah! sayangnya saya ga suka makanan laut. mmphh..

Setelah mengisi perut, kini giliran motor yang diisi. Diisi apa? ya bensin! Selanjutnya, perjalanan dimulai! yeah! Kami benar-benar belum pernah ke daerah sana sebelumnya. Percayalah! Jadi ini benar-benar sebuah petualangan! Saya sangat suka ini! Kami melewati daerah yang berkelak-kelok seperti di Cipatat atau di Puncak. Kami bertanya pada penduduk setiap ada belokan-belokan besar yang tidak ada petunjuknya. Beberapa menit sebelum sampai, kami bertemu dengan trunk tanki yang biasa bertuliskan Pertamina, namun ini lain tulisannya adalah “Pertaminum” hahaha. Tentunya kami tidak akan membiarkan begitu saja momen ini. Jeprettt! Setelah sempat kesal karena merasa tidak nyampe-nyampe… akhirnya… kami sampai di gerbang wisata pantai tersebut. Dari Kota Jogja, kira-kira kami menghabiskan waktu selama  2,5 jam. Kami bertiga harus membayar Rp 8.000 katanya. *jumlah yang aneh ya buat bertiga?!*

Ternyata memang banyak pantai di sini. Ada Drini, Sundak, Krakal, Kukup, Baron. Kayanya ada yang blm kesebut. Lupa. Baron belok kanan. Kukup lurus. Sedangkan sisanya belok kiri. Karena tujuan pertama kami ialah Krakal, maka kami pilih belok kiri. Setelah sempat kesal karena ga nyampe-nyampe.. akhirnya.. ombak laut Samudra Hindia itu melambai-lambai kepada kami. yeah!! kami sampai di Pantai Krakal. Motor langsung di parkir. Tanpa pikir panjang kami langsung menuju pantai yang benar-benar sepi itu. Tidak sabar seindah apa pantai yg kata Mas Ayub paling oke di Jogja itu. Kesan pertama, mmh… bersih sih, tapi banyak karang, jadi kalo kita injak rada-rada sakit. Kami pun buka baju, berenang-renang kecil. Kami melihat ada sekelompok orang yang berenang juga di ujung sana. Lumayan jauh. Kami coba untuk ke sana, berjalan.. Aha, meskipun tidak sampai pada kumpulan orang yang sedang berenang itu, kami menemukan spot yang kayanya enak untuk dipake berenang.

Whoaa! airnya jernih! kaya di kolam renang.. Mmhh.. bener-bener deh. Pantai terbaik yang pernah saya datangi di Indonesia (seriusan) belum pernah sebelumnya saya liat pantai sebagus ini. Kami pun berenang-renang sepuasnya. Pantai serasa milik kami sendiri karena tidak ada lagi yang berenang. Hari semakin siang. Sekitar jam 1-an (ya, kami tidak Shalat Jumat, karena ribet mandi-wudu-lalu berenang lagih karena blm puas). Ya, jam 1 akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi bermain air. Oya, tentu kami juga tidak lupa foto-foto di sana. Kebetulan di dekat sana ada pemandian, mandilah kami di situ. Biaya pemandian sekitar 2ribu atau 3ribu gitu, saya lupa. Berikutnya kami akan mendatangi pantai-pantai lain. Kami pun beranjak dari Krakal.

Berikutnya kami menuju Kukup dan Baron. Tapi karena sepertinya waktunya tidak cukup, langsung aja ke Baron. Karena Rian dan Sidik juga sudah lapar. Ada cerita menarik, saat menuju Baron, motor yang saya kemudikan menabrak ayam yang sedang menyebrang hingga kelepek2 di jalan. *Maafkan saya yam, lagian kenapa kamu juga nyebrang ga liat kanan-kiri dulu!?*Sampailah kami di Baron. Mmh,, pantainya biasa saja. ada beberapa kapal nelayan. Tapi ada aliran dari laut menuju tebing-tebing gitu, seperti sungai. Nah, di situ ada bule-bule lagi berenang. Ternyata mereka dari Spanyol. Sempat menyapa kami dan meminta Rian untuk membantu mengabadikan kegiatan mereka bermain air. Setelah itu, kami menuju tempat penjualan makanan laut. Ada kepiting, Udang, Kakap Merah, dll lah. Dan harganya murah gan! Sidik dan Rian membelinya untuk di makan. Jadi di warung makannya, tinggal beli nasi dan minuman. Mh.. sayangnya saya tidak suka aneka makanan laut, sayang seribukali sayang. Yasudah lah.

Setelah kenyang (kecuali saya), kami bertiga memutuskan langsung pulang. Sebelum mencapai gerbang, kami melihat ada belokan dengan petunjuk bahwa ke sana adalah ke arah Jogja. Dengan jalan yang baru diaspal, kami memilih jalan situ saja. Terus saja kami mengikuti jalan utama.. jalanan benar-benar sepi, tidak seperti waktu berangkat. Hingga akhirnya kami menyadari bahwa kami melintasi jalan yang berbeda dengan saat berangkat. Akhirnya kami pun sampai lagi di Jogja dengan selamat. Alhamdulillah.

Kami menuju daerah yang banyak menjual bakpia. Untuk oleh-oleh.. Setelah bakpia dibungkus, kami menuju Stasiun Lempuyangan. Saat itu kira-kira pukul 17.30 lah. Jadi, Sidik bersama barang-barang kami ditinggal di stasiun. sedangkan saya dan Rian mengembalikkan motor. Bagus kan strategi kami? heheh.. Ah, motor pun sudah kami kembalikan dengan kondisi body dan bensin sesuai dengan kondisi awal. Saya dan Rian naik becak menuju stasiun, karena sudah tidak kuat lagi jika harus berjalan..

Sampai di stasiun, saya dan Rian langsung menuju Mushola, tempat Sidik menunggu. Kami beristirahat sambil menunggu loket dibuka. Ya, loket dibuka satu jam sebelum kereta berangkat. Kali ini tiket tidak ada nomernya, karena si kereta start di Kediri. Itu artinya kami harus bersaing dengan penumpang lain untuk mendapat tempat duduk. Nikmati saja… Saya mencari tukang nasi goreng di luar stasiun, karena hanya saya yg belum makan dari siang.hehe.. Dapat juga. Makanlah saya dengan lahap. nyam-nyam-nyam.. Sesudah itu saya kembali ke mushola untuk menunggu kereta datang. Akhirnya loket dibuka. Kami membeli tiket dengan harga yang sama waktu kami berangkat. Yaitu Rp 24.000. Menunggu dan menunggu, akhirnya kereta itu pun datang! dan,, keretanya pun penuh.. kami pesimis bakal langsung dapat tempat duduk. Tapi yang penting, kami masuk dulu.

Ternyata benar, kami berdiri. Siapa yang pertama dapat tempat duduk? dialah Sidik. Jadi ia hanya berdiri sekitar 15 menit-an. Termasuk beruntung. Tapi tidak lama kemudian, sekitar 10 menit kemudian, saya dan Rian pun kebagian tempat duduk. Alhamdulillah. Kami cukup beruntung hanya berdiri dalam beberapa menit. hehe. Ada cerita menarik. Di tempat duduk Sidik, ada seorang ibu rela duduk di bawah demi anaknya yang sedang terlelap. Luar biasa..

Saya pun tertidur-bangun-tertidur-bangun dan begitu seterusnya selama perjalanan. Hingga akhirnya kereta sampai di Stasiun Kiaracondong. Di sana sudah ada tetehnya Sidik yang menjemput pakai mobil. Kami melewati kembali jalanan Bandung yang penuh angkot. Ya, angkot penyebab kemacetan karena ngetem seenaknya yang tidak akan kamu temukan di Jogja.

Hwaa.. perjalanan yang sangat berkesan. Benar-benar tidak akan terlupakan. Mungkin inilah perjalanan backpacking pertama saya. Terimakasih untuk orang-orang yang sudah membantu selama di perjalanan maupun di Kota Jogja. Terimakasih rekan-rekan perjalanan saya, Rian Irawan dan Sidik Permana. Mudah-mudahan saya dapat menulis cerita-cerita perjalanan saya berikutnya. I Love Jogja!