Monthly Archives: February 2012

Lulus Berhadiah

30 November 2011 akhirnya saya divonis lulus oleh jurusan. Alhamdulilah. Sesungguhnya saya tidak pernah mengharapkan hadiah dari siapapun perihal kelulusan ini. Dengan melepas status mahasiswa pun saya sudah bahagia. Tapi ternyata saya dapat hadiah kelulusan lho. Dari siapa? Marlboro. Kok bisa? Ikuti kisahnya.

Saya sangat jarang ikut kuis-kuisan. Mungkin sejak saya lahir hingga sekarang, jumlahnya bisa dihitung oleh lima jari. Sekitar Oktober 2010, saya dikasih tahu Bobbi kalau Marlboro sedang mengadakan game semacam kuis. Jelas ada hadiahnya. Bermacam-macam pula. Dari mouse, tas, t-shirt, headphone hingga hadiah utamanya yaitu berangkat ke Italia untuk naik Ferrari (kalau tidak salah). Sistem penentuan pemenangnya dengan mengumpulkan poin dari games yang ada di Marlboro.co.id. Sayangnya, Bobbi kasih tahu saya jelang ditutupnya itu event. Bahkan untuk mendapat status verified dari Marlboro pun saya tidak sempat. Sedangkan Bobbi dapat segala macam: t-shirt, mouse, tas, dll. Saya pikir ya sudahlah tidak apa-apa, memang saya telat mendaftar.

Setahun berlalu. Oktober 2011 saya diberi tahu oleh Bobbi kalau Marlboro mengadakan kembali game/kuis seperti tahun lalu. Kali ini bertajuk “Marlboro Light Connection”. Masa penutupannya masih lama. Langsung saja saya mendaftar. Tapi ternyata akun saya sudah verified, karena tahun lalu sudah mendaftar. Kali ini sistemnya berbeda. Untuk memperoleh hadiah, kita diharuskan mengumpulkan berbagai macam badge. Sedangkan cara mendapatkan badge ialah dengan memasukkan kode yang harus kita cari di berbagai tempat. Di antaranya: poster Marlboro Light Connection di Circle-K, billboard Marlboro di biasa ada di pinggir jalan raya, dan yang paling mudah ialah di beberapa situs seperti detik.com, kompas.com, dan kaskus.us. Kita harus sering-sering membuka Marlboro.co.id untuk memperoleh info di mana kode bisa didapatkan pada hari itu. Ada juga games, yang jika sudah dimenangkan maka akan kita akan dapat badge. Jika sudah didapat, badge bisa di-redeem dengan hadiah tertentu. Jadi tiap hadiah memerlukan badge yang berbeda. Dan badge ini keluarnya random alias untung-untungan. Semakin mahal hadiah, semakin susah juga mendapatkan badge yang diperlukannya.

Hadiah-hadiah yang disediakan Marlboro di antaranya: t-shirt dengan 3 desain berbeda, exclusive dinner & party, Samsung Galaxy Tab, dan Samsung Galaxy S2. Sedangkan hadiah utama ialah berangkat ke Istanbul, Berlin, dan New York. Saat itu saya cukup ngebet mendapat Galaxy S2. Menang itu saja saya pikir akan sangat bahagia. Setelah mengumpulkan berbagai badge yang kemudian di-redeem, saya berhasil mendapat dua t-shirt dan tiket exclusive dinner & party. Alhamdulillah. Meski target utama yaitu Galaxy S2 tidak didapat, saya pikir tak apalah, dinner & party juga seru sepertinya. Saya sangatlah beruntung karena setiap kota hanya ada empat pemenang yang mendapat tiket dinner dan party. Dan saya salah satunya. Lucky me.

Pada akhir November saya ditelepon oleh pihak Marlboro. Dia mengucapkan selamat dan memberi tahu kalau acara dinner dan party tersebut dilangsungkan Jumat 25 November 2011. Awalnya saya bilang bisa. Tapi ternyata Jumat itu jadwal saya sidang komprehensif, yang kelulusannya merupakan syarat untuk mengikuti sidang skripsi. Kemudian dengan agak berat hati saya bilang kalau saya tidak bisa ikut acara tersebut. Agak kecewa juga. Tapi mau bagaimana lagi. Tidak mungkin juga saya mengorbankan / menunda kelulusan saya demi hadiah itu. “Segera lulus jauh lebih penting!” ujar saya waktu itu.

Kemudian alhamdulilah saya lulus kuliah setelah melewati rangkaian persidangan itu. Saat sedang menikmati hari-hari pasca kelulusan, saya ditelepon kembali oleh pihak Marlboro. Alhamdulillaaah… mungkin memang rezeki saya ya, ternyata acara dinner dan party diadakan lagi pada 10 Desember. Kemudian saya ditanya apakah bisa ikut atau tidak. Tanpa berlama-lama, saya langsung menyanggupi. Yeehaw, mari pesta! Haha. Saya juga boleh membawa tiga teman ke acara ini. Siapa sajakah teman saya yang terpilih? Pertama, Bobbi. Tentu dia harus diajak. Karena dia, saya jadi tahu games/kuis dari Marlboro ini. Kedua, Rizal. Dia teman paling dekat, dan dengan Bobbi juga udah kenal lama. Ya, kami memang sudah berkelompok sejak lama. Terakhir ialah Rian. Kenapa saya ajak? Selain kami memang dekat juga, dia sudah minta diajak dari waktu itu. Dan beberapa teman memanggilannya Ribok (Rian m***k).haha. “Urang pesta yan!” ujar saya waktu itu. Kepada teman-teman yang tidak saya ajak, saya mohon maaf. Soalnya cuma boleh bawa tiga. Kalau saja tidak terbatas, saya ajak semua.

The Day

Hari yang dinanti pun tiba. Sebenarnya kami ditawarkan untuk dijemput oleh Marlboro di satu tempat. Saya minta kami dijemput di daerah Kopo. Namun ternyata mereka keberatan karena Kopo dikhawatirkan akan macet. Dari pada pusing-pusing, ditambah Bobbi esok paginya harus pulang lebih cepat karena ada undangan, akhirnya kami memutuskan untuk bawa motor saja menuju Hotel Padma. Saya, Rizal, dan Bobbi berangkat dari Kopo sekitar pukul 17.00 wib. Sedangkan Rian dari rumahnya langsung menuju Hotel Padma.

Saat sampai, kami pun langsung check-in di salah satu kamar yang disediakan. Kami mendapat jatah dua kamar. Tapi karena kehabisan kamar atau gimana, satu kamar lagi di Hotel Sheraton Dago. “ya sudahlah, tak apa,” saya pikir. Nanti bisa diatur. Setelah bersiap-siap di kamar, pukul 19.00 wib kami diminta berkumpul di lobby Hotel Padma untuk kemudian segera berangkat menuju tempat dinner. Sampai di lobby, kami dipertemukan dengan dua pemenang lain beserta teman-temannya. Jadi total yang diservis pada malam itu adalah 12 orang. Dan kebetulan dua pemenang lain itu saling kenal, sehingga teman-teman yang mereka bawa pun sudah saling mengenal. Setelah kami berkenalan dan sedikit foto-foto dengan mereka (difoto oleh Marlboro), dua Toyota Vellfire datang menjemput. Akhirnya saya punya kesempatan juga naik mobil kayak begitu. Haha. Kami langsung menuju Maja House.

Sampai di Maja House, kami langsung menuju meja dinner (sekaligus tempat party). Makan sepuasnya! Bebas pilih! Tanpa ragu-ragu kami semua memilih steak dengan harga termahal. Norak? Bodo amat. Jarang-jarang dapat kesempatan kayak gini. Hehe. Dengan setengah bercanda, saya bilang ke teman-teman saya: “Terimakasih telah hadir di acara syukuran ulang tahun dan kelulusan saya,” Hahaha. Kami pun menyantap pesanan-pesanan kami sambil bincang-bincang asyik, juga dengan rombongan sebelah (pemenang lain dan teman-temannya). Mereka itu semuanya kerja di lingkungan yang sama yaitu Universitas Advent. Beberapa di antaranya sebagai pengajar. Sebagian lagi saya tidak sempat bertanya.

Kami kenyang. Tentu saja. Dan ketika waktu menunjukkan pukul 22.00 party dimulai. Jujur saja, sebelumnya saya belum pernah ke tempat clubbing seperti ini . DJ dari Inggris (kalau tidak salah) mulai beraksi. Ruangan semakin penuh oleh para clubber. Musiknya seru juga. Mungkin lebih seru dan asyik untuk goyang2 badan dan kepala bagi yang sedang jangar. Saya dan teman-teman sih di meja saja. Mau ikutan berdiri sambil goyang-goyang juga rasanya kagok dan tidak biasa. Haha. Oiya, sejak party dimulai, di meja kami ada dua botol minuman beralkohol dengan asesoris-asesoris lainnya. Maksudnya gelas, es batu, pemanis, snack dll. Tidak ada drugs kok. Aman. Silakan enjoy the party mamen! Haha.

Pukul 02.00, mari pulang ke hotel. Party-nya sudah cukup. Awas, ada yang mabok! Haha. Kami pun akhirnya tidak perlu terpisah karena rombongan sebelah bersedia menukar kamar. Jadi mereka semua di Sheraton, kami ber-empat tetap di Padma. Saya sekamar dengan Rian, sedangkan Rizal dengan Bobbi. Kami pun istirahat setelah menikmati malam yang takkan terlupakan yaitu diservis penuh oleh Marlboro, mulai dari exclusive dinner, party, hingga menginap gratis di Hotel Padma selama satu malam. Aneh juga rasanya menginap di hotel, tetapi di Kota Bandung juga. Ya.. mari nikmati sajalah.hehe.

Kami bangun pagi. Padahal baru tidur sekitar tiga jam lebih. Saya memutuskan untuk menikmati salah satu fasilitas hotel yaitu kolam renang. Lumayan olah raga. Meski air kolam renangnya dingin, tapi kita juga bisa menghangatkan badan di jacuzzi sebelah kolam renang. Rian dan Rizal ikut turun untuk menikmati hangat/panasnya air di  jacuzzi. Sedangkan Bobbi memilih ngopi saja di kamar dan breakfast duluan. Setelah selesai berenang dan berendam, kami menyusul Bobbi yang sudah ada dari tadi di tempat breakfast. Inilah saatnya menikmati hadiah terakhir dari Marlboro: breakfast di hotel. Santap hingga kenyang, bung!

Di antara kami hanya Rian yang membawa kamera. Sayangnya tertinggal di tas saat kami dinner dan party kemarin. Jadi selama acara ini, kami hanya melakukan satu kali foto bersama yaitu selepas breakfast. Setelah itu pun kami menuju kamar untuk mandi dan kemudian pulang. Ke rumah masing-masing. Dan cerita ini pun berakhir di sini. Sekali lagi, bagi saya ini sangat alhamdulillah, karena mendapat ‘hadiah’ sesaat setelah lulus kuliah.

Terakhir. Uniknya, saya dan dua pemenang lain itu tidak merokok. Tapi kami diservis penuh oleh perusahaan rokok yang cukup ternama. Thanks, Marlboro! 😀

Foto Diambil dari Facebook Rian
Advertisements

Wisoeda

Alhamdulillah. Setelah selama ini menghadiri perayaan wisuda teman-teman, akhirnya pada 8 Februari 2012 saya merasakan juga menjadi wisudawan. Jujur saja, sebelumnya, setiap datang ke perayaan wisuda teman-teman rasa galau kerap muncul. “Saya kapan ya?” Meskipun tidak sepenuhnya, karena saat itu juga saya bergembira untuk teman-teman yang akhirnya diwisuda. Dan saat waktunya tiba, tentu saya tidak mau melewatkan hari itu.

Berikut beberapa foto di luar Graha Sanusi Hardjadinata, setelah prosesi wisuda dilangsungkan:



Switched at Birth (2011)

Apa yang pertama kali terlintas di pikiran Anda kalau mendengar ada serial televisi berjudul Switched at Birth? Betul, betul. Langsung terbesit tanya: Apakah ini ‘Putri yang Ditukar’ versi US? Haha. Tapi rasanya (hampir) tidak mungkin US meniru tayangan di negeri ini yang cukup fenomenal itu. Lantas, tentang apa ‘Switched at Birth’ ini bercerita?

Cerita dimulai saat Bay (Vanessa Marano) menginjak usia remaja dan mempertanyakan mengapa ia tidak mirip dengan anggota keluarga lainnya. Ia berambut hitam sedangkan ayah, ibu, dan kakaknya pirang. Ia meminta kedua orang tuanya untuk mengecek ulang apakah saat lahir dirinya tertukar dengan bayi keluarga lain. Dan setelah ditelusuri oleh pihak rumah sakit, ternyata ia tertukar dengan Daphne (Katie Leclerc). Setelah dipastikan bahwa putri mereka memang tertukar sejak lahir, dua keluarga pun bertemu.

Bay tinggal di rumah mewah bersama ayahnya John Kennish (D.W Moffett), ibunya Kathryn (Lea Thompson), dan kakaknya Toby (Lucas Grabeel). John merupakan mantan pemain bisbol profesional yang memiliki usaha jasa cuci mobil. Sedangkan Daphne tinggal di rumah sederhana bersama ibunya Regina (Constance Marie) dan neneknya Adrianna (Ivonne Coll). Daphne sendiri mengalami gangguan pendengaran yang mulai dideritanya saat masih kecil akibat meningitis. Meski begitu, ia tidak begitu sulit untuk berkomunikasi karena selain mampu membaca gerakkan bibir, ia juga terlatih berbicara, selain menggunakan bahasa isyarat tentunya.

Selanjutnya, mereka (John-Kathryn dan Regina) ingin mengenal lebih jauh anak biologis mereka yang telah terpisah belasan tahun. Karena satu dan lain hal, akhirnya Regina beserta Daphne dan Adrianna tinggal di guest house milik keluarga Kennish. Di sinilah berbagai permasalahan muncul. Perbedaan gaya hidup dan cara mendidik anak menimbulkan gesekan-gesekan di antara dua keluarga tersebut, terutama John-Kathryne dan Regina. Tidak lupa, masalah percintaan anak muda yang melibatkan Bay dan Daphne dengan kekasih-kekasih mereka pun tersaji dalam serial ini.

Cerita dalam serial ini tidak terbatas pada bagaimana orang tua yang bertemu anak kandung setelah terpisah lama. Justru itu hanyalah permulaan. Cerita terus berkembang dengan menarik dan menyuguhkan konflik-konflik yang terjadi di antara mereka. Secara keseluruhan serial ini menarik dan layak untuk diikuti. Buang jauh-jauh pemikiran bahwa cerita dalam serial ini mirip dengan ‘Putri yang Ditukar’. Sangat berbeda, meskipun sebenarnya saya tidak follow sinetron yang terkenal dengan tokoh Pak Prabu dan soundtrack D’Masiv nya. 😀 Jika sinetron-sinetron di Indonesia pada umumnya menampilkan secara jelas mana si baik dan mana si jahat, di Switched at Birth, hal itu tidak ada. Sikap yang ditunjukkan masing-masing karakternya mempunyai alasan tersendiri sehingga penonton dipersilakan untuk memilih siapa karakter favoritnya.

Bagi penyuka drama dengan cerita yang ringan dan alur yang cepat, jangan lewatkan serial yang tayang di ABC ini. Sekali lagi, buang jauh-jauh pemikiran bahwa serial ini sama dengan ‘Putri yang Ditukar’ 😀 Anda hanya perlu duduk santai dan enjoy the show.

Kue Balok

Beberapa bulan ke belakang, kue balok tampaknya jadi trending topic di otak saya. Gimana enggak, teman saya @ardhy_akmal adalah sarjana yang sedang merintis usaha kue balok. Saya pun paling tidak jadi sedikit tahu, apa sih kue balok. Karena sejujurnya, saya baru dengar kue balok ini saat kuliah semester akhir. Padahal kue ini sudah eksis sejak lama.

Menurut info yang saya dapat, kue balok ialah jajanan tradisional yang berasal dari Garut. Sebenarnya bahan adonannya tidak terlalu berbeda dengan kue manis lainnya seperti pukis, pancong (bandros), ataupun kue cubit. Namun untuk membuat kue balok diperlukan teknik khusus baik dalam membuat adonan maupun memasaknya. Yang pasti, memasak kue balok ini harus dengan arang, tidak bisa dengan kompor gas. Dan bukan hanya bagian bawah kue yang dimasak dengan arang. Bagian atas pun dipanaskan hingga kue terlihat mengembang.

Cita rasa yang dihasilkan kue balok ini begitu simple. Manisnya pas, sehingga tidak membuat eneg saat disantap. Seiring perkembangan, di beberapa tempat, kue balok tersedia dalam berbagai rasa: coklat, keju, strawberry, dll. Ada juga pilihan kematangan: setengah matang, matang, dan gosong. Kopi adalah teman yang paling pas saat menikmati kue balok. Bahkan beberapa orang suka mencelupkannya ke dalam kopi sebelum dimakan.

Di sebagian tempat, kue balok dijual pagi hari dan sebagian lainnya sore hingga malam. Kue balok yang dijual pagi hari biasanya terletak di sekitar pasar tradisional. Sedangkan kedai kue balok yang buka malam hari umumnya dijadikan tempat nongkrong oleh para pembeli. Dan sebenarnya tidak masalah mau disantap pagi atau malam. Nikmatnya sama. Supaya lebih nikmat, kue balok yang sudah dingin dipanaskan terlebih dahulu sebelum disantap.

Foto Diambil dari Facebook Bilik Balok

Di Bandung terdapat beberapa kedai kue balok. Saya merekomendasikan Bilik Balok yang terletak di Jalan Gatot Subroto (+/- 350 m dari BSM, arah Kiaracondong). Selain yang original, pilihan rasanya juga beragam: coklat, keju, strawberry, nanas hingga blueberry. Rasanya bikin nagih. Cukup dengan Rp 1.500 saja kita sudah dapat menikmati kue balok original. Sedangkan untuk kue balok dengan rasa-rasa dijual Rp 2.000/kue. Tersedia juga berbagai macam minuman hangat: kopi, teh, dan teh tarik. Bilik Balok yang mulai buka pukul 19.00 ini juga asyik dijadikan tempat nongkrong dengan rekan-rekan.

Wasit

Dalam suatu pertandingan sepakbola, wasit adalah pemimpin. Ia yang mengawal jalannya pertandingan agar berjalan dengan adil. Sudah semestinya wasit bersikap netral. Artinya tidak memberi keputusan yang merugikan salah satu tim. Tapi bisakah wasit selalu benar? Tidak mungkin. Wasit pun manusia. Dan manusia mana yang tidak pernah melakukan kesalahan? Tapi alasan itu tidak selamanya bisa digunakan. Wasit dalam pertandingan resmi bukanlah orang secara acak dipilih. Bukan juga orang yang sekedar menyukai sepakbola. Wasit merupakan orang-orang terlatih untuk menjadi pengadil di lapangan.

Namun, wasit kerap dimanfaatkan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab untuk memenangkan pertandingan dengan cara yang tidak sepatutnya dilakukan. Wasit disuap. Wasit diiming-imingi uang banyak agar keputusan-keputusannya menguntungkan salah satu tim. Sangat disayangkan jika permainan cantik dua tim yang berlaga harus dirusak dengan keputusan-keputusan wasit yang kontroversial. Itulah sepakbola kotor. Sepakbola yang jauh dari nilai-nilai sportivitas.

Apakah suap menjadi satu-satunya penyebab wasit bersikap tidak adil? Saya pikir tidak. Faktor lainnya ialah kemampuan wasit itu sendiri dalam memimpin suatu pertandingan. Mari lihat perwasitan Indonesia. Mudahnya begini, mengapa sepakbola Indonesia masih bisa belum bersaing di kancah dunia? Bahkan Asia. Bahkan Asia Tenggara. Salah satunya ialah karena skill yang dimiliki para pemain Indonesia masih kalah dibanding negara-negara lain yang sudah maju dalam urusan sepakbola. Begitupula dengan wasit. Kemampuan wasit maupun asisten wasit di Indonesia dalam memimpin pertandingan masih perlu dipertanyakan. Andaikan ada kompetisi wasit antar negara, saya pikir wasit asal Indonesia akan jauh tertinggal.

Masalah suap-menyuap sudah begitu lekat dengan Indonesia. Pun dengan sepakbolanya. Sehingga jika ada kontroversi yang melibatkan wasit, orang-orang kerap mengaitkannya dengan suap-menyuap. Padahal, menurut saya, tidak melulu seperti itu. Ada hal lain yang menjadi pertanyaan. Apakah wasit dan asisten wasit sudah dibekali pelatihan yang cukup? Jika ya, mengapa masih saja terjadi kesalahan-kesalahan mendasar yang dilakukan wasit dan asisten wasit? Intinya, ada dua hal penting yang perlu dibenahi dalam urusan perwasitan di Indonesia. Pertama, berantas mafia wasit! Kedua, tingkatkan kualitas pelatihan bagi para wasit! Tugas Anda adalah menjaga pertandingan yang adil dan bersih, bukan justru merusaknya.

Sensasi Dominasi

Apa yang paling diharapkan oleh fans suatu klub sepakbola? Tentu saja gelar juara. Sesungguhnya seluruh pecinta sepakbola yang fanatik pada suatu klub adalah glory hunter. Tidak mungkin ada fans yang ingin tim kesayangannya hanya bertengger di papan tengah atau bawah klasemen. Mungkin beberapa kelompok fans bersikap realistis dengan tidak berekspektasi lebih terhadap tim yang didukungnya. Biasanya ini terjadi pada fans tim medioker. Tapi tetap saja, fans mana yang tidak ingin tim kesayangannya meraih trofi? Rasanya semua ingin.

Kemudian yang menjadi menarik ialah, dengan cara yang bagaimana hingga akhirnya suatu tim meraih gelar juara. Apakah dengan mudah meninggalkan para pesaingnya di papan klasemen? Atau bersusah payah hingga harus ditentukan di pertandingan terakhir? Rasanya tentu beda. Sensasi yang didapat dari perjuangan hingga pertandingan akhir dala suatu musim tentu lebih indah. Atau keindahan tersebut juga bisa jadi mimpi buruk jika akhirnya tim yang berjuang hingga akhir tersebut gagal juara.

Kompetitif atau tidaknya suatu kompetisi bisa dipengaruhi oleh pergerakan klub-klub pada bursa transfer. Tentu saja, yang kaya yang belanja. Tengoklah Liga Spanyol. Siapa lagi kalau bukan Real Madrid yang menguasai bursa transfer. Komposisi pemain Madrid tidak diragukan lagi adalah para pemain berlabel superstar. Sedikit berbeda, Barcelona lebih mengandalkan pemain-pemain dari ‘La Masia’, akademi sepakbola Barcelona. Sudah banyak bintang lahir di akademi tersebut. Meski begitu, hal tersebut tidak menutup kemungkinan Barcelona juga melakukan aktivitas belanja pemain. Uang yang biasa dikeluarkan Barcelona pun jumlahnya tidak sedikit.

Real Madrid dan Barcelona menjadi dua tim terkuat di La Liga. Lalu bagaimana dengan tim lain? Tampaknya tidak ada yang bisa mengganggu persaingan dua tim tersebut. Paling tidak dalam tujuh terakhir di mana gelar juara hanya diraih oleh Real Madrid dan Barcelona. Terakhir kali La Liga dimenangi oleh tim selain Madrid dan Barcelona ialah pada musim 2003/2004. Saat itu Valencia berhasil meraih gelar juara, mengulang sukses dua tahun sebelumnya.

Melihat statistik dan sejarah sebenarnya sudah sejak lama La Liga didominasi oleh Real Madrid dan Barcelona. Tercatat 31 kali Madrid meraih gelar juara. Sedangkan Barcelona di urutan ke dua dengan 21 gelar. Torehan keduanya terlampau jauh dengan pemegang peringkat tiga yaitu Atletico Madrid dengan sembilan gelar juara. Jadi sebenarnya memang sudah sejak lama La Liga didominasi oleh dua tim tersebut. Masalahnya, sampai kapan dominasi ini akan terus berlanjut? Atau akan selalu seperti ini? Kejayaan dua tim besar yang sama sekali tak bisa disaingi oleh tim-tim lainnya. Tidak heran selama ini banyak ungkapan “La Liga itu kompetisi yang hanya diikuti oleh 2 tim” Siapapun berhak setuju maupun tidak. Namun yang jelas, suatu kompetisi/ liga akan semakin menarik jika di papan atas klasemen terjadi persaingan yang ketat. Bukan hanya dua tim. Tapi minimal empat sampai lima tim saling sikut untuk merebut gelar juara.

Berbeda dengan La Liga, persaingan menuju gelar juara di Serie-A dan Barclays Premiere League (BPL) lebih terasa. Kompetisi terasa sangat kompetitif dan tidak hanya didominasi oleh tim yang itu-itu saja. Persaingan di papan atas Serie-A sangatlah ketat. Ini terlihat dari perbedaan poin yang tidak terlampau jauh di antara tim-tim yang bersaing. Begitu pun dengan BPL, dinamika persaingan di papan atas klasemen begitu terasa. Maka penggemar BPL tidak asing dengan istilah THE BIG FOUR, yaitu Man.United, Arsenal, Chelsea, dan Liverpool. Meski kini mulai terusik dengan kehadiran Man.City dan Tottenham Hotspur yang ikut meramaikan persaingan papan atas.

Sesungguhnya syarat menjadi juara tidak harus kaya raya. Tidak harus belanja pemain bintang. Strategi pelatih serta integritas yang ditujukan para pemain bisa menjadi kunci keberhasilan sebuah tim untuk meraih gelar juara. Lihatlah Borussia Dortmund. Tak ada yang menyangka tim yang baru promosi ke divisi satu itu menjadi juara di musim 2010/2011. Mereka mengalahkan Bayern Munchen yang notabene diisi para pemain kenamaan. Namun sayangnya hal seperti ini masih jarang ditemukan di liga-liga ternama di Eropa. Kompetisi di Spanyol, Inggris, dan Italia masih dikuasai tim-tim besar dengan budget yang tidak mampu disaingi tim-tim medioker atau tim kecil.

Pergerakan transfer pemain yang hanya didominasi oleh satu hingga dua tim saja cukup memengaruhi nilai persaingan dalam suatu kompetisi/ liga. Kompetisi akan semakin menarik jika tim-tim pesertanya bersusah payah hingga akhir musim, hingga akhirnya muncul tim terbaik melalui perjuangan yang manis. Dan sekali lagi, uang bukanlah segalanya dalam sepakbola. Segala kemungkinan bisa terjadi. Jadi, seberapa besarkah perjuangan tim kesayangan Anda?

King Henry

Thierry Henry. Masih terekam dalam ingatan, pemain ini bermain membela Juventus pada 1999. Ia mengenakan jersey dengan nomor punggung enam. Kebetulan saat itu saya sudah menjadi milanisti dan kerap menyaksikan tayangan Highlight Lega Calcio di RCTI setiap Minggu siang. Sama sekali tidak terpikir kalau ia akan menjadi bintang sepakbola dunia. Tidak ada yang istimewa yang ia berikan bagi Juventus. Didatangkan dari AS Monaco di pertengahan musim, Henry bermain 16 kali dan hanya mencetak tiga gol.

Arsene Wenger adalah sosok yang sama sekali tidak bisa dilepaskan dari kesuksesan Henry. Dengan jeli, ia merekrut Henry dari Juventus pada musim panas 1999. Saya kira semua sepakat bahwa kepindahan Henry dari Juventus ke Arsenal ini merupakan salah satu perekrutan terbaik dalam sejarah sepakbola. Bagaimana tidak, Kini Henry adalah seorang raja bagi semua fans Arsenal. Torehan 174 gol dari 254 penampilannya sudah cukup membuat ia menjadi “yang tak terlupakan” di Arsenal. Ia membantu The Gunners dua kali meraih gelar juara liga, empat kali juara Piala FA, satu kali runner up Liga Champions, dan satu kali runner up Piala UEFA (kini Liga Eropa). Pada 2007, Henry akhirnya memutuskan untuk hijrah ke Barcelona, semusim setelah markas Arsenal pindah dari Highbury ke Emirates Stadium. Ia seakan ingin mencicipi dulu Emirates Stadium sebelum benar-benar meninggalkan klub yang membesarkan namanya tersebut.

Bagi saya- yang bukan penggemar Arsenal tetapi hanya penikmat Liga Inggris, masa-masa Henry di Arsenal adalah masa yang takkan terlupakan dalam jagat persepakbolaan Inggris. Saat itu saya masih menjadi pendukung United (kini tidak!). Meski membela klub yang menjadi musuh utama United, saat itu saya tak sungkan memuji kemampuannya dalam bermain sepakbola. Satu kata yang ada di pikiran saya saat itu: brilian! Kemampuannya mengolah bola, beradu sprint, mengelabui bek lawan, mengeksekusi tendangan bebas, dan placing bola saat one on one dengan kiper benar-benar membuat saya terkagum. Ia pemain yang komplit.

Kini, Henry kembali ke Arsenal dengan status pinjaman dari New York Red Bulls. Di usianya yang menginjak 34 tahun, sulit rasanya jika kita mengharapkan permainan cepat dan lincah sebagaimana yang ia lakukan lima atau sepuluh tahun silam. Tapi ia diyakini mampu membawa spirit bagi permainan Arsenal. Karena Henry adalah Arsenal, dan Arsenal adalah Henry. Patung Henry yang dibangun di depan Emirates Stadium adalah bukti besarnya cinta Arsenal dan pedukungnya terhadap Henry.

Sekali lagi, saya bukanlah fan Arsenal. Namun bagi saya, sungguh menjadi sesuatu yang yang menyentuh ketika melihat seorang pemain besar kembali ke markas klub yang membesarkan namanya. Dan ia begitu dielu-elukan. Menunjukkan betapa pentingnya ia bagi klub tersebut. Dan ini menjadi semakin menyentuh ketika Henry mencetak gol penentu bagi Arsenal saat menjamu Leeds United di Emirates Stadium. Emosional. Yes, this is The Return of The King! Caranya mencetak gol pun ‘sangat Henry’. Ia menempatkan bola dengan tendangan datar melengkung yang tak mampu dijangkau kiper Leeds. Luar biasa! Ketika tim membutuhkan gol kemenangan agar lolos ke babak IV Piala FA, ia hadir di sana sebagai penyelamat.

Menjadi pujaan fans sepertinya bukanlah perkara yang mudah. Permainan cantik bukan satu-satunya jaminan. Namun sikap dan rasa hormat terhadap klub dan fans juga perlu dikedepankan. Henry sudah melakukan itu. Ya, ialah sang legenda Arsenal. Thierry Henry 14.

“Arsenal and me has always been a love story, with some bad days. Hopefully people agree with me that there were more good days than bad, but i just love the club,”  Thierry Henry