King Henry

Thierry Henry. Masih terekam dalam ingatan, pemain ini bermain membela Juventus pada 1999. Ia mengenakan jersey dengan nomor punggung enam. Kebetulan saat itu saya sudah menjadi milanisti dan kerap menyaksikan tayangan Highlight Lega Calcio di RCTI setiap Minggu siang. Sama sekali tidak terpikir kalau ia akan menjadi bintang sepakbola dunia. Tidak ada yang istimewa yang ia berikan bagi Juventus. Didatangkan dari AS Monaco di pertengahan musim, Henry bermain 16 kali dan hanya mencetak tiga gol.

Arsene Wenger adalah sosok yang sama sekali tidak bisa dilepaskan dari kesuksesan Henry. Dengan jeli, ia merekrut Henry dari Juventus pada musim panas 1999. Saya kira semua sepakat bahwa kepindahan Henry dari Juventus ke Arsenal ini merupakan salah satu perekrutan terbaik dalam sejarah sepakbola. Bagaimana tidak, Kini Henry adalah seorang raja bagi semua fans Arsenal. Torehan 174 gol dari 254 penampilannya sudah cukup membuat ia menjadi “yang tak terlupakan” di Arsenal. Ia membantu The Gunners dua kali meraih gelar juara liga, empat kali juara Piala FA, satu kali runner up Liga Champions, dan satu kali runner up Piala UEFA (kini Liga Eropa). Pada 2007, Henry akhirnya memutuskan untuk hijrah ke Barcelona, semusim setelah markas Arsenal pindah dari Highbury ke Emirates Stadium. Ia seakan ingin mencicipi dulu Emirates Stadium sebelum benar-benar meninggalkan klub yang membesarkan namanya tersebut.

Bagi saya- yang bukan penggemar Arsenal tetapi hanya penikmat Liga Inggris, masa-masa Henry di Arsenal adalah masa yang takkan terlupakan dalam jagat persepakbolaan Inggris. Saat itu saya masih menjadi pendukung United (kini tidak!). Meski membela klub yang menjadi musuh utama United, saat itu saya tak sungkan memuji kemampuannya dalam bermain sepakbola. Satu kata yang ada di pikiran saya saat itu: brilian! Kemampuannya mengolah bola, beradu sprint, mengelabui bek lawan, mengeksekusi tendangan bebas, dan placing bola saat one on one dengan kiper benar-benar membuat saya terkagum. Ia pemain yang komplit.

Kini, Henry kembali ke Arsenal dengan status pinjaman dari New York Red Bulls. Di usianya yang menginjak 34 tahun, sulit rasanya jika kita mengharapkan permainan cepat dan lincah sebagaimana yang ia lakukan lima atau sepuluh tahun silam. Tapi ia diyakini mampu membawa spirit bagi permainan Arsenal. Karena Henry adalah Arsenal, dan Arsenal adalah Henry. Patung Henry yang dibangun di depan Emirates Stadium adalah bukti besarnya cinta Arsenal dan pedukungnya terhadap Henry.

Sekali lagi, saya bukanlah fan Arsenal. Namun bagi saya, sungguh menjadi sesuatu yang yang menyentuh ketika melihat seorang pemain besar kembali ke markas klub yang membesarkan namanya. Dan ia begitu dielu-elukan. Menunjukkan betapa pentingnya ia bagi klub tersebut. Dan ini menjadi semakin menyentuh ketika Henry mencetak gol penentu bagi Arsenal saat menjamu Leeds United di Emirates Stadium. Emosional. Yes, this is The Return of The King! Caranya mencetak gol pun ‘sangat Henry’. Ia menempatkan bola dengan tendangan datar melengkung yang tak mampu dijangkau kiper Leeds. Luar biasa! Ketika tim membutuhkan gol kemenangan agar lolos ke babak IV Piala FA, ia hadir di sana sebagai penyelamat.

Menjadi pujaan fans sepertinya bukanlah perkara yang mudah. Permainan cantik bukan satu-satunya jaminan. Namun sikap dan rasa hormat terhadap klub dan fans juga perlu dikedepankan. Henry sudah melakukan itu. Ya, ialah sang legenda Arsenal. Thierry Henry 14.

“Arsenal and me has always been a love story, with some bad days. Hopefully people agree with me that there were more good days than bad, but i just love the club,”  Thierry Henry 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s