Monthly Archives: June 2012

Tentang Kosan..

Ini adalah cerita tentang pengalaman pertama saya tinggal sendiri di Jakarta. Jadi, setelah saya diterima untuk bekerja di oke#one, saya mencari kamar sewaan alias kosan atau kos-kosan. Kantor oke#one sendiri terletak di Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Sebelum mencari, saya sudah mendapat info dari teman-teman, mengenai harga sewa kosan di sekitar Kebon Sirih. Tapi, itu sempat membingungkan. Auzan, teman di kantor bilang kalau harganya mahal-mahal, meski yang murah tetap ada. Sementara Bobbi, sekitar tiga tahun lalu, tinggal di kosan yang harganya sangat murah, meski keadaannya kamarnya memang sangat biasa.

Untuk membuktikan mana yang benar, akhirnya saya memulai pencarian. Setelah tanda tangan kontrak, saya sengaja minta ke HRD untuk tidak langsung mulai kerja, karena akan mencari kosan. Pencarian pun dimulai dari Kebon Sirih Timur (paling dekat dengan kantor) hingga Kebon Sirih Barat (dekat Jalan Jaksa). Di timur, simpulan yang saya dapat adalah rata-rata sekitar 700ribu/ bulan. Barat? Sama saja. Padahal, rencana saya adalah menyewa kosan seharga 400-500ribu/ bulan. Hasilnya? Sulit, benar-benar sulit mencari kosan dengan harga segitu. Sempat nemu kosan 400ribu/ bulan, tapi keadaan kamarnya sungguh tak layak. Parah.

Karena saat itu saya tidak bisa berlama-lama untuk nyari kosan (harus kembali ke BDG dan lusanya mulai kerja), apa yang ada di pikiran pun berubah. Kalau sebelumnya saya berpikir ‘Biarin, kosan yang murah dulu, nanti ke depannya cari yang harganya lebih mahal tapi enak’, maka saat itu langsung berubah 180 derajat menjadi ‘Biarin, kosan yang mahal dulu, nanti ke depannya cari yang agak murah’ haha. Akhirnya, saya menyewa kosan dengan tarif 700ribu/ bulan, selanjutnya sebut saja kosan1. Kamar mandi di dalam, TAPI, kamar mandi itu letaknya di dalam kamar, jadi ngabisin ruang. Kosan1 ini sempit (gara2 kamar mandi itu). Tapi, kelebihannya adalah kosan ini baru selesai dibangun sekitar sebulan. Jadi, masih sangat baru dan kamar mandinya bersih.

Kosan1 ini ada empat kamar. Dua diisi oleh keluarga, dan dua lagi oleh perorangan (salah satunya saya). Keluarga pertama, yang ada di pojok, merupakan mas-mas beserta istri dan anaknya. Mereka asal Makasar. Mas itu bernama Abdul. Dia kerja di tempat semacam travel/ biro perjalanan/ tempat menjual tiket perjalanan di Jalan Jaksa. Dia itu satu-satunya warga kosan yang suka mengobrol dengan saya. Keluarga kedua, bapak-bapak sekitar 40 tahun-an tinggal bersama istri dan anak perempuannya yang masih kecil. Ini kamar yang paling menarik. Kenapa? Suami-istri ini sering sekali ribut, sangat sering! Sangat mengganggu! Pemicu keributan adalah si bapak yang sangat sensitif dan pemarah. Masalah-masalah kecil jadi besar. Hampir setiap hari istrinya dia marahi. Tapi, menurut saya, yang paling kasihan adalah anaknya yang masih kecil. Tinggal di ruangan sekecil itu, anaknya mau tidak mau pasti sering dengerin ayah-ibunya ribut. Saya pikir gak bagus lah itu buat sisi psikologis si anak. Si Ayub, yang pernah nginep di kosan saya, menyebut ‘tayangan wayang’ jika suami istri itu sedang ribut. Haha.

Lalu, penghuni yang terakhir adalah perempuan berkerudung yang bekerja di BANK Syariah Mandiri. Orangnya sangat tertutup dan sangat jarang saya berbincang dengan dia, soalnya, selain emang jarang ketemu, ya itu tadi, dia sepertinya emang gak mau bercengkrama dengan orang lain di kosan. Dua teman saya yang pernah menginap yaitu Rully a.k.a Ule dan Ayub bilang, perempuan itu cantik. Bahkan Ayub bilang dia sekilas mirip Nabila Syakieb. Menurut saya, sekilas memang menarik sih, tapi, ah, banyak yang lebih menarik, haha.

Merasa tarif di kosan1 ini terhitung mahal dengan berbagai kekurangannya seperti kamar sempit, banyak nyamuk, dan orang-orang di sekitarnya kurang menyenangkan, saya ingin pindah. Saya sempat iseng-iseng mencari di daerah Kebon Kacang, tapi gak ada yang cocok. Kata Ule, daerah situ mah Bronx pisan. Dan, akhirnya, setelah tinggal dua bulan di Kebon Sirih Barat, saya pindah ke daerah Kali Pasir, dekat Cikini. Mau tau tarifnya berapa? 450ribu/ bulan dan itu termasuk fasilitas cuci-setrika (FYI, di Jakarta, setrika=gosok). Kamar mandi memang di luar, tapi ada dua dan dua-duanya sangat bersih, bahkan, WC-nya pun WC duduk. Kosan ini lebih luas ketimbang kosan1. Tapi, tentu harga murah nggak mungkin nggak ada kekurangan. Ya, kekurangannya adalah dinding kamarnya bukan tembok, tapi triplek, jadi mungkin akan lebih terasa panas. Tapi, secara keseluruhan, saya rasa, kelebihannya lebih banyak daripada kekurangannya. Jadi, saya merasa beruntung dapat kosan ini. Sekarang, saya baru sebulan menempati kosan2. Mudah-mudahan ke depannya saya semakin merasa nyaman, Amin.

Saya jadi ingin menulis rincian perbandingan kosan1 dan kosan2:

Kosan1 (Jalan Kebon Sirih Barat Dalam) – Rp 700ribu/ bulan

(+) Kamar mandi dalam; Bangunan baru; Jarak ke kantor cukup dekat- sekitar 500m

(-) Mahal; Sempit; Banyak nyamuk; Lingkungan tak enak; Gang menuju kosan gelap & suka banyak ti ucing (dan update!)

Kosan2 (Jalan Kali Pasir- Cikini) – Rp 450ribu/ bulan

(+) Murah; Sudah termasuk cuci-setrika; Kamar mandi bersih; Di bawah adalah dapurnya si ibu- ada air galon, kulkas, kompor gas;  Deket Menteng Huis (mall kecil)- ada Giant, Domino’s Pizza,dll.

(-) Dinding triplek; Jarak ke kantor lumayan- sekitar 1km

*Karena ada beberapa orang yang tanya, jadi saya mau menambahkan: Kalau di sekitar Jalan Kali Pasir, untuk saat ini, kemungkinan rata-rata harganya Rp 500-700 ribu. Di sekitar Kebon Sirih Timur/Barat, Rp 600-800 ribu (daerah sini memang agak mahal). Kalau mau nyari ke daerah lain mungkin bisa ke Kwitang (dekat Tugu Tani) atau Kebon Kacang (dekat Sarinah), tapi kalau untuk harganya, saya nggak tahu :).

Babak Baru

Alhamdulilah, untuk pertama kalinya saya punya pekerjaan. Ya, dalam artian, saya punya pekerjaan dan mendapat penghasilan tetap per bulannya. Saya bekerja di oke#one, salah satu perusahaan media massa online yang bernaung di bawah #NC Group. Cerita saya mulai dari awal saja ya? Yuk.

Suatu siang pada bulan Februari 2012, lupa tanggal berapa, saya mengirim lamaran via email kepada oke#one, untuk posisi reporter. Oya, status saya saat itu adalah sudah sarjana, sudah diwisuda, dan sedang aktif mencari pekerjaan di bidang yang (insyaAllah) saya minati. Nah, kalau tidak salah, saya mengirim email (berisi CV, pas foto, dan pindaian KTP) pukul 10 pagi. Ternyata, sekitar pukul dua siang saya langsung mendapat telepon dari oke#one yang mengundang saya untuk wawancara esok harinya pukul satu siang. Saya, yang memang ingin segera punya pekerjaan, langsung saja menyanggupinya.

Esok hari, saya berangkat dari Bandung ke kantor oke#one di Jalan Kebon Sirih Jakarta, menggunakan kereta api. Selain belum tahu travel/ menuju daerah sana, saya pikir kereta cukup praktis dan lokasinya tidak terlalu jauh dari St. Gambir (malamnya saya googling). Karena saya pikir saya akan diwawancara untuk posisi reporter news, maka saya beli koran dan baca-baca, isu apa aja sih yang sedang hangat. Saya membaca koran sambil brunch di salah satu tempat makan di sekitar Sarinah (saat itu saya baru tahu kalau Sarinah cukup dekat dengan lokasi).

Waktu wawancara pun tiba. Saya diwawancarai oleh dua orang, entah siapa (sekarang sih sudah kenal. Hehe). Setelah menceritakan pengalaman yang saya miliki saat PKL (Praktek Kerja Lapangan) a.k.a magang tea, saya kemudian ditanya, kira-kira seperti ini, ‘Ini kan buat bola/sports ya, apa yang kamu tahu tentang bola saat ini?’ Zelegurr! (Petir lembut berwarna pink menyambar). Ternyata bukan posisi reporter news yang ditawarkan kepada saya, tetapi reporter bola/sports. Sedikit kaget (20%), tapi saya juga senang (80%), karena, sepakbola mah, ya emang SAYA PISAN lah. Alhasil, ya dengan senang hati saya menerangkan pengetahuan tentang sepakbola yang saya tahu.

Tapi, ternyata tidak berhenti di kesenangan itu. Berikutnya, saya diminta untuk menerjemahkan satu berita bola dan satu berita sport, dari bahasa Inggris ke Indonesia, sehingga menjadi berita yang enak untuk dibaca. Jujur saja, hasil saya waktu itu cukup amburadul, karena saat itu, saya gak terpikirkan bagaimana menerjemahkan berita asing menjadi berita dalam bahasa Indonesia dengan baik. Jadi, mungkin, perkiraan saya sendiri, hasilnya adalah: translate 70% lancar, tapi, untuk menjadi berita yang enak dibaca, saya pikir hanya 50% lancar. Saat itu, saya pikir, ya sudahlah, kalau jodoh ya mungkin diterima, kalau bukan ya gak akan ada panggilan lanjutan. Akhirnya, setelah selesai semuanya di hari itu, resepsionis bilang kalau nanti dihubungi lagi.

Setelah itu, saya pun pulang dengan perasaan yang terbagi dua. Pertama, sedikit kecewa karena saya gagal menyelesaikan berita, yang disadur dari berita asing, dengan baik. Kedua, saya senang karena posisi yang akan ditempati (jika diterima) adalah reporter bola/sports yang mana itu merupakan bidang yang super-duper extra-ultra saya senangi. Dan, selanjutnya, saya hanya bisa berdoa semoga saya bisa diterima.

Setelah beberapa lama, ternyata panggilan datang juga. Beberapa tahap yang saya lalui berikutnya adalah wawancara dengan HRD #NC, HRD oke#one, dan tanda tangan kontrak. Akhirnya, saya pun menandatangani kontrak satu tahun kerjasama dengan oke#one dan mulai bekerja per 9 Maret 2012. Sejauh ini, saya senang dengan apa yang saya kerjakan dan juga nyaman dengan lingkungan kerja. Selanjutnya, mudah-mudahan saya bisa menjalani pekerjaan dengan baik. Amin.