Monthly Archives: August 2012

Dua Bulan Dua Sakit

Beberapa orang bilang, karena hawa dan udaranya berbeda (bagi yang sudah terbiasa di Bandung), tinggal di Jakarta itu butuh adaptasi. Dan, bentuk adaptasinya pun mungkin bisa bermacam-macam. Saya, yang pernah tinggal dua bulan di Jogja, berpikir akan gatal-gatal selama dua minggu pertama di Jakarta, karena, hal itulah yang saya dapat ketika di Jogja. Tapi, ternyata tidak hanya itu. Selain gatal-gatal, selama dua bulan pertama, saya dua kali jatuh sakit. Mungkin, penyebab sakit ini tidak hanya terbatas pada hawa dan cuaca. Tapi, saya juga sedang melakukan penyesuaian dengan perpindahan pola hidup dari anak rumah (halah) ke anak kosan. “Welcome to Jakarta!”.

Sakit 1

Ini terjadi saat saya masih tinggal di kosan pertama (bulan pertama di Jakarta). Bangun tidur, badan terasa kurang fit. Tapi saya tetap paksakan mandi, karena harus ke kantor. Dan, jelang siang, tidak enak badan pun semakin menjadi. Saya demam. Walau begitu, saya tidak izin pulang karena merasa masih mampu untuk mengetik berita. Saat sudah waktunya pulang, saya pun bergegas. Dan tak lupa beli makan malam.

Sampailah saya di kosan. Saya langsung makan dan diteruskan dengan minum panadol biru –obat paling cocok dengan saya. Kemudian, saya pun istirahat. Saya ingat, saya sempat bangun pukul lima subuh, dan masih terasa demam, hingga akhirnya saya paksakan tidur lagi. Lalu saat membuka mata di pagi hari, alhamdulilah. Saya sudah merasa enak. Tidak demam.

Apa penyebab sakit saya ini? Kemungkinan karena saya mandi malam-malam (sekitar pukul 00:00) sehari sebelumnya. Saat itu saya mandi karena merasa sangat gerah setelah bermain futsal. Mungkin, saat handukan, badan saya kurang kering sehingga terciptalah masuk angin. Dari situ, saya selalu menghindari mandi larut malam. Kajeun gerah.

Sakit 2

Ini yang agak heboh. Sakit ini didapat saat saya udah pindah ke kosan (bulan ke dua di Jakarta). Awalnya biasa, gak enak badan plus demam. Beberapa kali merasa enakan, tapi susah banget sampe bener-bener bisa sembuh total. Malah, dalam kondisi belum benar-benar fit, saya sempat ke Bandung dan nonton The Avengers bareng adik. Kembali ke Jakarta, saya mulai gak enak badan lagi. Dan, puncaknya adalah mual-mual. Saya pikir, saya kena maag. Karena maag itu harus makan teratur, sedangkan saya tinggal di kosan, harus beli makanan dan ribet, jadi saya memutuskan pulang. Izin ke kantor untuk beberapa hari.

Saya ingat, saya pulang malam-malam pukul 20:00. Sangat ngedadak. Nelepon travel Cipaganti, sudah tidak ada yang berangkat, soalnya terakhir pukul 19:00 -kalo gak salah. Ya udah, satu-satunya pilihan adalah naik bus Primajasa dari BKN Cililitan. Dan, untuk sampai sana, saya harus naik Trans Jakarta dulu. Benar-benar perjuangan lah, dalam keadaan gak enak badan dan mual. Dan, setelah sekitar dua jam perjalanan saya pun sampai di rumah. Minum Mylanta lalu tidur.

Besoknya, saya disuruh mamah untuk ke dokter saja. Saat di dokter, dia periksa mata saya, terus dia bilang kalau mual itu bukan dari maag, tapi HEPATITIS. Waduh! Dokter kemudian nanya: “kencingnya kuning warna teh, nggak?”Saya jawab: “Iya dok, tapi saya kira itu pengaruh obat,” Dan, kencing dengan warna itu ternyata adalah ciri-ciri hepatitis. Dokter pun lalu menyarankan saya ke lab supaya ketahuan hepatitis jenis apa.

Setelah hasil lab keluar, saya langsung berikan kepada dokter. Dan, hasilnya, seperti yang diperkirakan, hepatitis A. Kalau B dan C, itu sudah masuk kategori parah, dan sulit untuk disembuhkan. Jadi, hepatitis itu bisa menular dari pemakaian sendok/ gelas/ piring bersama atau bisa juga dari urin atau feses (di kloset). Maka, dokter pun menyuruh saya untuk memeberikan cairan antiseptic setiap selesai buang air kecil/ besar selama belum sembuh. Oiya, proses penyembuhan hepatitis juga memakan waktu lama. Pokoknya saya harus istirahat total. Berapa lama? Tiga minggu. Ya, selama tiga minggu saya terpaksa izin tidak masuk kantor.

Sekembalinya ke Jakarta -setelah sembuh, saya jadi selalu menjaga kondisi tubuh. Pokoknya, lapar tak lapar, kalau sudah waktunya makan, ya makan. Lalu, tak lupa minum peningkat daya tahan tubuh. Jadi, buat teman-teman –apalagi yang tinggal di kos, kondisi itu benar-benar harus dijaga lah. Asli, sakit di kosan itu benar-benar menyedihkan.

Advertisements

21 Jump Street (2012)

twenty_one_jump_streetGenre: Komedi. Aksi. Drama.
Sutradara: Phil Lord, Chris Miller
Pemain: Jonah Hill, Channing Tatum, Brie Larson, Dave Franco

Diadaptasi dari serial televisi berjudul sama (1987-1991), 21 Jump Street mengisahkan tentang persahabatan antara dua polisi konyol, Schmidt (Hill) dan Jenko (Tatum). Setelah menyebabkan kekacauan di kota, mereka berdua dikirim ke proyek investigasi transaksi obat-obatan terlarang. Schmidt dan Jenko harus menyamar menjadi dua siswa salah satu SMA, yang di dalamnya terdapat transaksi narkoba, dan misi yang harus mereka selesaikan adalah mengungkap siapakah gembong di balik semuanya.

Dalam penyamarannya, mereka harus berbaur dengan beberapa geng di sekolahan tersebut. Namun, Schmidt yang agak polos terlalu terbawa suasana, apalagi hubungannya dengan si manis Molly (Larson) menjadi sangat akrab. Hal itu bertolak belakang dengan Jenko yang bersikap keras dan fokus pada tugas yang sedang jalankan. Perbedaan tersebut rupanya menciptakan kerenggangan di antara Schmidt dan Jenko, sehingga menghambat pekerjaan mereka dalam mengungkap gembong narkoba di SMA tersebut.

Dengan segala permasalahan yang harus dihadapi, apakah akhirnya mereka mampu menyelesaikan misi tersebut? Lalu, siapakah sebenarnya gembong narkoba mereka buru? *

Jika kebanyakan orang memberikan pujian hebat kepada film ini, entah kenapa, saya merasa biasa saja. Jonah Hill memang sangat lucu -seperti biasa, tapi duet dengan Channing Tatum? Menurut saya bukan kolaborasi yang bagus, apalagi saya baru pertama kali menonton Tatum di genre komedi. Cerita dalam film ini cukup sederhana dan berpotensi untuk digarap dengan luar biasa. Sayangnya, saya tidak puas. Terasa nanggung. Bagaimana mereka awalnya berteman dan kompak, kemudian merenggang, hingga akhirnya kembali solid, tidak pada titik yang pas.

Apa saya harus menonton serial tv nya dulu untuk bisa puas? Mungkin saja, karena sebelumnya saya memang tak tahu menahu tentang serial tv nya -yang total ada 5 season. Saat Johnny Depp (pemeran utama 21 Jump Street versi tv) muncul sebagai cameo pada 20 menit terakhir, saya bilang ‘wow! Pertunjukan seperti ini yang saya tunggu!’. Tapi, terlepas dari itu semua, secara kesuluruhan film ini layak ditonton. Lucu, gila, dan tidak membosankan.

Skor: 3 / 5

The Descendants (2011)

Genre: Drama. Komdescendants_ver3_xlgedi.
Sutradara: Alexander Payne
Pemain: George Clooney, Shailene Woodley, Amara Miller, Nick Krause, Patricia Hastie

Diangkat dari novel berjudul sama, the Descendants bercerita tentang Matt (Clooney), seorang pria kaya raya yang tinggal di Hawaii dan memiliki istri bernama Elizabeth (Hastie). Ia juga mempunyai dua anak perempuan, Alex (Woodley) dan Scottie (Miller). Sejak awal film, Elizabeth sudah dalam keadaan koma, akibat kecelakaan saat berolahraga ski air. Menyaksikan istrinya yang terbaring tak bergerak, Matt baru sadar kalau selama ini ia terlalu sibuk dengan pekerjaan, sehingga cuek terhadap istri dan kedua anaknya. Kenyataan terpahit yang harus diterima Matt adalah kondisi istrinya semakin memburuk dan sudah tak ada harapan. Dan, itu bertambah pahit ketika Alex mengatakan kalau belakangan ini ibunya berselingkuh dengan pria lain.

Mendengar hal itu, Matt penasaran dan mulai mencari tahu siapa pria yang telah berselingkuh dengan istrinya. Dengan bantuan Alex -yang juga geram dengan perselingkuhan ibunya, Matt mencari-cari pria tersebut hingga ke luar kota untuk sekedar memberitahukan kalau Elizabeth akan meninggal. Masalah semakin rumit ketika ternyata pria tersebut ada hubungannya dengan rencana penjualan tanah warisan nenek Matt. Ya, Matt diwarisi puluhan hektar tanah oleh neneknya, dan ia mendapat sedikit tekanan dari para sepupunya untuk menjual tanah tersebut, demi menghasilkan uang banyak. Apa yang dilakukan Matt ketika bertemu pria yang telah berselingkuh dengan istrinya? Lalu, apa keputusannya terkait warisan tanah tersebut? *

Melihat judul dan poster filmnya, saya 3/4 yakin kalau film ini akan membosankan. Tapi, dengan banyaknya pujian yang mengalir, plus lima nominasi Oscar (satu dimenangkan), saya jadi penasaran. Setelah menonton, ya, pujian pun tak malu-malu saya lontarkan. Jalan cerita yang menarik, akting George Clooney yang luar biasa, dan pemandangan yang tak membosankan (ya, itu Hawaii!) berbaur menjadi satu.

Salah satu kekuatan lain di film ini adalah hubungan seorang ayah dengan dua anak perempuannya yang terbangun dengan apik. Chemistry ketiganya -terutama Matt dan Alex begitu terasa, terutama untuk hal: sebagaimanapun kurang perhatiannya sang ayah, selingkuh tetaplah sesuatu yang tidak dapat dibenarkan. Bagi para penggemar drama ringan tentang kehidupan -yang ditambahkan bumbu-bumbu komedi, film ini sangat disarankan untuk ditonton.

Skor: 4 / 5