Dua Bulan Dua Sakit

Beberapa orang bilang, karena hawa dan udaranya berbeda (bagi yang sudah terbiasa di Bandung), tinggal di Jakarta itu butuh adaptasi. Dan, bentuk adaptasinya pun mungkin bisa bermacam-macam. Saya, yang pernah tinggal dua bulan di Jogja, berpikir akan gatal-gatal selama dua minggu pertama di Jakarta, karena, hal itulah yang saya dapat ketika di Jogja. Tapi, ternyata tidak hanya itu. Selain gatal-gatal, selama dua bulan pertama, saya dua kali jatuh sakit. Mungkin, penyebab sakit ini tidak hanya terbatas pada hawa dan cuaca. Tapi, saya juga sedang melakukan penyesuaian dengan perpindahan pola hidup dari anak rumah (halah) ke anak kosan. “Welcome to Jakarta!”.

Sakit 1

Ini terjadi saat saya masih tinggal di kosan pertama (bulan pertama di Jakarta). Bangun tidur, badan terasa kurang fit. Tapi saya tetap paksakan mandi, karena harus ke kantor. Dan, jelang siang, tidak enak badan pun semakin menjadi. Saya demam. Walau begitu, saya tidak izin pulang karena merasa masih mampu untuk mengetik berita. Saat sudah waktunya pulang, saya pun bergegas. Dan tak lupa beli makan malam.

Sampailah saya di kosan. Saya langsung makan dan diteruskan dengan minum panadol biru –obat paling cocok dengan saya. Kemudian, saya pun istirahat. Saya ingat, saya sempat bangun pukul lima subuh, dan masih terasa demam, hingga akhirnya saya paksakan tidur lagi. Lalu saat membuka mata di pagi hari, alhamdulilah. Saya sudah merasa enak. Tidak demam.

Apa penyebab sakit saya ini? Kemungkinan karena saya mandi malam-malam (sekitar pukul 00:00) sehari sebelumnya. Saat itu saya mandi karena merasa sangat gerah setelah bermain futsal. Mungkin, saat handukan, badan saya kurang kering sehingga terciptalah masuk angin. Dari situ, saya selalu menghindari mandi larut malam. Kajeun gerah.

Sakit 2

Ini yang agak heboh. Sakit ini didapat saat saya udah pindah ke kosan (bulan ke dua di Jakarta). Awalnya biasa, gak enak badan plus demam. Beberapa kali merasa enakan, tapi susah banget sampe bener-bener bisa sembuh total. Malah, dalam kondisi belum benar-benar fit, saya sempat ke Bandung dan nonton The Avengers bareng adik. Kembali ke Jakarta, saya mulai gak enak badan lagi. Dan, puncaknya adalah mual-mual. Saya pikir, saya kena maag. Karena maag itu harus makan teratur, sedangkan saya tinggal di kosan, harus beli makanan dan ribet, jadi saya memutuskan pulang. Izin ke kantor untuk beberapa hari.

Saya ingat, saya pulang malam-malam pukul 20:00. Sangat ngedadak. Nelepon travel Cipaganti, sudah tidak ada yang berangkat, soalnya terakhir pukul 19:00 -kalo gak salah. Ya udah, satu-satunya pilihan adalah naik bus Primajasa dari BKN Cililitan. Dan, untuk sampai sana, saya harus naik Trans Jakarta dulu. Benar-benar perjuangan lah, dalam keadaan gak enak badan dan mual. Dan, setelah sekitar dua jam perjalanan saya pun sampai di rumah. Minum Mylanta lalu tidur.

Besoknya, saya disuruh mamah untuk ke dokter saja. Saat di dokter, dia periksa mata saya, terus dia bilang kalau mual itu bukan dari maag, tapi HEPATITIS. Waduh! Dokter kemudian nanya: “kencingnya kuning warna teh, nggak?”Saya jawab: “Iya dok, tapi saya kira itu pengaruh obat,” Dan, kencing dengan warna itu ternyata adalah ciri-ciri hepatitis. Dokter pun lalu menyarankan saya ke lab supaya ketahuan hepatitis jenis apa.

Setelah hasil lab keluar, saya langsung berikan kepada dokter. Dan, hasilnya, seperti yang diperkirakan, hepatitis A. Kalau B dan C, itu sudah masuk kategori parah, dan sulit untuk disembuhkan. Jadi, hepatitis itu bisa menular dari pemakaian sendok/ gelas/ piring bersama atau bisa juga dari urin atau feses (di kloset). Maka, dokter pun menyuruh saya untuk memeberikan cairan antiseptic setiap selesai buang air kecil/ besar selama belum sembuh. Oiya, proses penyembuhan hepatitis juga memakan waktu lama. Pokoknya saya harus istirahat total. Berapa lama? Tiga minggu. Ya, selama tiga minggu saya terpaksa izin tidak masuk kantor.

Sekembalinya ke Jakarta -setelah sembuh, saya jadi selalu menjaga kondisi tubuh. Pokoknya, lapar tak lapar, kalau sudah waktunya makan, ya makan. Lalu, tak lupa minum peningkat daya tahan tubuh. Jadi, buat teman-teman –apalagi yang tinggal di kos, kondisi itu benar-benar harus dijaga lah. Asli, sakit di kosan itu benar-benar menyedihkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s