Monthly Archives: July 2013

Saya dan Manchester United

Ada dua poster yang terpampang di dinding kamar saya saat menginjak kelas 5 SD, Timnas Jerman dan Manchester United. Ya, saya menyukai segala hal tentang sepak bola sejak masih berseragam putih-merah, tepatnya kelas 3 SD. Kenapa saat itu saya memfavoritkan Timnas Jerman, Manchester United, dan AC Milan? Karena dua teman dekat saya saat itu -mereka lebih tua dan lebih dulu mengenal sepak bola- menyukai tim-tim tersebut. Singkatnya, saya terbawa-bawa oleh mereka. Dan saya benar-benar jadi gila sepakbola. Gila pada MU, gila pada Milan, dan gila pada Timnas Jerman.

Seiring saya bertumbuh, ada dua tim pujaan kemudian yang luntur di hati saya. Pertama, Timnas Jerman. Saat kelas enam SD, sebenarnya saya masih mengidolai mereka. Der Panzer adalah kojo (jagoan) saya di Piala Dunia 1998. Saya masih ingat, betapa sedihnya melihat Andreas Kopke, Jurgen Klinsmann, Oliver Bierhoff dll. dibantai Kroasia 0-3 pada babak perempatfinal. Namun setelah itu, entah kenapa, kecintaan pada Jerman terus meluntur. Piala Dunia-Piala Dunia berikutnya pun saya tak punya kojo. Mungkin, condong ke Italia. Itu pun karena saya a big fan of AC Milan, yang notabene klub Serie A.

Tim kedua adalah MU. Ini yang menarik -makanya saya taruh di judul. Sejatinya, saya adalah benar-benar penggila tim dengan julukan Setan Merah tersebut. Tak dipungkiri, selain karena terbawa-bawa oleh teman dekat saya tadi, saat itu saya adalah bocah yang benar-benar kagum pada MU saat memenangi treble winners pada musim 1998/99. Saya selalu bersemangat setiap melihat cuplikan gol Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solskjaer pada masa-masa injury time Final Liga Champions 1999, yang membawa MU membalikkan keadaan menjadi 2-1 atas Bayern Munich. Bisa dibilang, saya semakin tergila-gila pada MU, yang pada musim itu menggunakan jersey bersponsorkan Sharp, dengan strip logo-logo Umbro di bagian bahu.

Beranjak SMP, SMA, saya masih menyukai MU, meskipun klub yang paling saya utamakan untuk diidolai adalah Milan. Begitupun saat duduk di bangku kuliah, saya juga masih suka MU. Dan, segalanya pun berubah saat saya memasuki semester lima perkuliahan. Perlahan demi perlahan, saya mulai tak suka MU. Awalnya, saya juga tak mengerti kenapa. Dan, setelah saya pikir-pikir lagi, ternyata saya tak sejalan dengan mayoritas sikap fans MU di Tanah Air, atau silakan sebut oknum. Dalam pandangan saya, mereka terlalu arogan dan kerap tidak respek kepada tim-tim lain. Sesederhana itu? Cuma karena hal itu saya jadi anti MU? Entahlah.. tapi yang jelas, saya sejak saat itu, saya benar-benar bukan pendukung Setan Merah.

Hingga sekarang, terkadang saya hanya bisa senyum kasihan kalau ada fans MU yang saking cintanya pada tim tersebut -beberapa orang bilang layaknya orang Manchester asli- menjelek-jelekkan tim/fans lawan dengan cara yang bikin saya pengin bilang, “oh come on, grow up!”. Tapi, saya tekankan, tidak semuanya seperti itu. Saya pikir, ada juga fans Setan Merah yang menunjukkan sikap respek pada tim atau fans manapun yang merupakan lawan MU. Dan saya pun respek pada fans dengan tipe seperti itu. Yang jelas, saat ini, cuma ada satu klub mancanegara yang saya idolai, Rossoneri!

Manchester United 1997/1998. (Foto: Ist)
Manchester United 1997/1998. (Foto: Ist)

Karas, Citumang, dan UFO Sinting!

Perjalanan ini sebenarnya dilakukan berbulan-bulan lalu, dan nyaris setahun. Tapi karena kesibukan melanda (silakan semuanya serempak bilang: WAE!) jadi baru sempat menulisnya sekarang. Saya mikirnya sih, sayang banget kalau enggak ditulis di sini. Jadi, mari, langsung, aja. Ya?

Saat awal puasa 2012, saya dan teman-teman selingkungan rumah memang merencanakan jalan-jalan ke pantai pascalebaran. Tujuan kami (saya, Erdi, Bobbi, Rizal) adalah Pantai Batu Karas, Pangandaran. Alasannya simpel, Batu Karas salah satu pantai yang masih agak bersih, seru buat main pasir, dan di sekitarnya juga banyak objek wisata lain. Selain itu, penginapan di sana juga sudah cukup banyak dengan berbagai varian fasilitas dan harga. Fixed, kami sepakat ke nge-Batu Karas.

Kamis (6/1/2012), perjalanan kami berempat pun dimulai dari… rumah masing-masing, kecuali saya yang baru pulang piket di kantor. Kami ke sana pakai mobilnya Erdi. Normalnya, jalur ke Pangandaran dan sekitarnya itu ya lewat Ciamis dan Banjar. Tapi, saya sukses meyakinkan teman-teman untuk ikut arahan saya. Ya, sejak beberapa tahun lalu, saya memang terobsesi menyusuri pantai Selatan. Jadi, saya pun menggiring si Erdi dan mobilnya agar ke Cipatujah, lalu menyusur pantai ke timur sampai Batu Karas, meskipun saya juga tahu, pasti bakal memakan waktu lebih lama.

Awalnya, saya pikir pemandangan pantai selatan Jawa akan terus menemani kami sampai Batu Karas. Tapi ternyata, enggak. Saya salah perkiraan, dan hasilnya pun di luar ekspektasi. Selain kerap terhalang pohon, semak-semak atau apapun itu, ternyata beberapa jalan kondisinya tak mulus. Tapi, saya enggak menyesal. Coba kalau saat itu enggak mencoba, saya enggak akan tahu dan rasa penasaran menyusur pantai selatan akan terus menghantui (iya iya, ini memang berbau pembelaan :p).

Setelah menempuh enam jam perjalanan, kami pun sampai di Batu Karas, sekitar pukul 19.00. Sempat tanya beberapa penginapan sana-sini, akhirnya semua setuju menginap di Penginapan Teratai -yang terkenal itu. Harganya lupa, yang jelas sangat terjangkau. Kamarnya lumayan luas, isinya: kasur besar satu (tapi cukup buat berempat), kipas angin, dan kamar mandi. Hari pertama cukup melelahkan, apalagi saya yang malam sebelumnya begadang untuk piket di kantor. Jadi, pada pengujung hari pertama ini, kami hanya cari makan, dan kemudian tidur. Zzz..

Hari kedua. Pada hari ini, tepatnya Jumat, kami punya waktu seharian penuh untuk bermain-main. Awalnya, susunan acara belum terencana. Pukul 09.00 kami pun memutuskan beranjak menuju Sungai Citumang. Jadi, sehari sebelumnya, lewat BBM, teman saya Giwang memberi saran untuk mencoba body rafting di Citumang. “Caina jernih minta ampun,” kata Giwang saat itu. Jadi, untuk acara pagi hari, diputuskanlah main ke sana. Letaknya? Antara Batu Karas dan Pangandaran. Kalau dari Karas, belokan masuknya setelah Batu Hiu, sebelah kiri.

Setelah sempat bertanya-tanya ke penduduk sekitar, dan melalui jalanan yang cukup sempit, akhirnya kami sampai di Citumang. Di sekitar parkiran, masih belum tampak si sungai yang katanya jernih itu. Harus jalan kaki dulu katanya. Pas di depan mobilnya Erdi diparkir, ada rumah, seperti base camp para pecinta alam. Awalnya, kami kira beli tiket di situ, ternyata mereka menawarkan paket body rafting, pake life jacket gitu nyusuri sungai. Harga? 75 ribu. “Buset, mahal banget,” kata saya dalam hati. Setelah dipikir, kami menolaknya, dan rela hanya bermain-main di sungai tanpa nge-body rafting.

Usai berjalan sekitar 200 meter, barulah ada loket untuk beli tiket masuk Citumang. Dan di situ juga ada yang menawarkan life jacket untuk disewa. Saya lupa harganya, tapi kami masih nahan dulu, karena liat sungainya aja belum. Dan… beberapa meter kemudian, kami pun sampai di sungai itu. Wow, memang jernih! Lalu kami main-main air. Tapi, tanpa life jacket, katanya dilarang berenang. Melihat jernihnya air sungai, kami luluh juga. Nggak tahan ingin berenang dan nyusuri sungai. Tapi, kami yakin kalau sewa life jacket plus nyewa guide buat body rafting, harganya bisa ditawar. Berapa harga yang akhirnya didapat? 45 ribu. Lumayan lah. Yay, mari berenang!

Ternyata, sebelum memulai, kami diajak untuk loncat dari tebing dengan ketinggian tujuh meter. Kami pun tertantang. Pertama-tama, si aa-nya kasih contoh gimana naik ke tebing dengan manjat akar pohon hingga akhirnya loncat ke sungai. Satu per satu dari kami sampai di atas dan loncat. Sensasinya? GILA! Serem-serem seru! Saya berniat teriak untuk membuang segala rasa takut saat meloncat. Tapi, yang ada teriakan saya bunyinya terputus-putus, karena saking tegangnya waktu ada di udara. Seperti sesak napas! Karena seru, saya pun naik dan loncat lagi. Tapi, yang kedua berakhir menyeramkan bagi saya, karena saat nyebur, ternyata posisi kaki saya dekat dengan karang. Saya hanya beberapa meter dari maut! Astagfirulloh. Jadi, ternyata saya salah. Harusnya, pas dari tebing, saat loncat, jangan ambil langkah terlalu jauh, karena sungainya pun enggak lebar.

Selanjutnya, kami pun menyusuri sungai alias body rafting tea. Keren juga, ada sungai yang jernih kaya gini. Tapi, selama body rafting sensasinya standar-standar aja, ga ada yang istimewa. Untungnya, kami enggak ngerasa rugi soalnya ngerasain sensasi loncat dari ketinggian tujuh meter tadi. Oiya, body rafting tadi itu, finisnya di dekat parkiran. Jadi setelah sampai, kami pun ganti pakaian dan kembali menuju Karas. Sebelumnya sempat terpikir ke Green Canyon, tapi karena baju kering tinggal yang terpakai, plus agak malas juga, yasudah rencana itu pun batal. Kami makan, dan setelah itu langsung ke penginapan. Tiba sekitar pukul 14.00, kami langsung istirahat.

Sore hari, sesuai dengan rencana, kami main wahana-wahana di pantai Batu Karas. Paketannya adalah untuk dua wahana: Banana Boat dan Crazy UFO. Untuk wahana yang disebut terakhir, saya belum pernah menaikinya, jadi agak-agak penasaran. Kemudian, kami memulainya dengan UFO. Bentuknya bulat dan seperti Banana, ditarik oleh speed boat. Awalnya terasa biasa dan seru-seru saja, terutama saat berbelok arah. Tapi, segalanya jadi gila -seperti namanya ‘Crazy’- saat dalam kecepatan tinggi, UFO menabrak deburan ombak. Kami -yang terus berusaha untuk tidak terlempar ke laut dengan berpegangan pada alat pegangan yang ada- pun berloncatan tak jelas. Tangan, kaki, membentur badan UFO. Posisi mendarat pun tak jelas. Kami minta dipelankan. Tapi, kemudian malah kian parah, dan kami melihat ada darah di sekitar mulut Bobbi. Itu akibat benturan keras ke badan UFO.

Main Crazy UFO selesai. Kami protes kenapa bisa kaya gitu, tapi ya sudahlah. Kalau kata si Erdi, di Bali, main kaya begini ada asuransinya, makanya harganya bisa lebih mahal. Bobbi akhirnya mendapat perawatan dari ‘UKS’ setempat. Dan dia gak ikut naik Banana Boat. Kami bertiga? Tetep naik, karena udah terlanjur bayar paketan sama si Crazy UFO. Tapi saat naik Banana boat sensasinya garing, karena udah ketakutan duluan naik UFO. Salah strategi emang, harusnya naik Banana dulu baru UFO. Yasudahlah, yang jelas, itu UFO benar-benar sinting. Tangan, kaki kami pun sakit-sakit setelahnya. Dan, hari kedua kami pun berakhir dengan sedikit tragis, khususnya buat Bobbi. Padahal, sebenarnya, sebelum UFO jalan, dia paling semangat dan langsung milih tempat paling depan. Haha. Sing sabar, Bob!

Hari ketiga, tepatnya Sabtu, adalah waktunya pulang. Tapi, pagi-paginya kami sempat berenang dan susurfingan di pantai, untuk selanjutnya foto-fotoan. Khusus hari ini (mungkin Minggu juga), Karas rame banget. Dan, seiring keramaian itu hadir, kami pun beranjak pulang. Tentu, kali ini jalur yang dilewati adalah jalur biasa, Banjar-Ciamis. Sempat mampir di salah satu rumah makan, hingga akhirnya… alhamdulillah kami sampai di rumah masing-masing.

Lala
Sebelum memulai body rafting. (Foto: Facebook Rizal)
Loncat dari ketinggian 7 meter. (Foto: Facebook Rizal)
Loncat dari ketinggian 7 meter. (Foto: Facebook Rizal)
Hendak body rafting di Citumang. (Foto: Facebook Rizal)
Hendak body rafting di Citumang. (Foto: Facebook Rizal)