Saya dan Manchester United

Ada dua poster yang terpampang di dinding kamar saya saat menginjak kelas 5 SD, Timnas Jerman dan Manchester United. Ya, saya menyukai segala hal tentang sepak bola sejak masih berseragam putih-merah, tepatnya kelas 3 SD. Kenapa saat itu saya memfavoritkan Timnas Jerman, Manchester United, dan AC Milan? Karena dua teman dekat saya saat itu -mereka lebih tua dan lebih dulu mengenal sepak bola- menyukai tim-tim tersebut. Singkatnya, saya terbawa-bawa oleh mereka. Dan saya benar-benar jadi gila sepakbola. Gila pada MU, gila pada Milan, dan gila pada Timnas Jerman.

Seiring saya bertumbuh, ada dua tim pujaan kemudian yang luntur di hati saya. Pertama, Timnas Jerman. Saat kelas enam SD, sebenarnya saya masih mengidolai mereka. Der Panzer adalah kojo (jagoan) saya di Piala Dunia 1998. Saya masih ingat, betapa sedihnya melihat Andreas Kopke, Jurgen Klinsmann, Oliver Bierhoff dll. dibantai Kroasia 0-3 pada babak perempatfinal. Namun setelah itu, entah kenapa, kecintaan pada Jerman terus meluntur. Piala Dunia-Piala Dunia berikutnya pun saya tak punya kojo. Mungkin, condong ke Italia. Itu pun karena saya a big fan of AC Milan, yang notabene klub Serie A.

Tim kedua adalah MU. Ini yang menarik -makanya saya taruh di judul. Sejatinya, saya adalah benar-benar penggila tim dengan julukan Setan Merah tersebut. Tak dipungkiri, selain karena terbawa-bawa oleh teman dekat saya tadi, saat itu saya adalah bocah yang benar-benar kagum pada MU saat memenangi treble winners pada musim 1998/99. Saya selalu bersemangat setiap melihat cuplikan gol Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solskjaer pada masa-masa injury time Final Liga Champions 1999, yang membawa MU membalikkan keadaan menjadi 2-1 atas Bayern Munich. Bisa dibilang, saya semakin tergila-gila pada MU, yang pada musim itu menggunakan jersey bersponsorkan Sharp, dengan strip logo-logo Umbro di bagian bahu.

Beranjak SMP, SMA, saya masih menyukai MU, meskipun klub yang paling saya utamakan untuk diidolai adalah Milan. Begitupun saat duduk di bangku kuliah, saya juga masih suka MU. Dan, segalanya pun berubah saat saya memasuki semester lima perkuliahan. Perlahan demi perlahan, saya mulai tak suka MU. Awalnya, saya juga tak mengerti kenapa. Dan, setelah saya pikir-pikir lagi, ternyata saya tak sejalan dengan mayoritas sikap fans MU di Tanah Air, atau silakan sebut oknum. Dalam pandangan saya, mereka terlalu arogan dan kerap tidak respek kepada tim-tim lain. Sesederhana itu? Cuma karena hal itu saya jadi anti MU? Entahlah.. tapi yang jelas, saya sejak saat itu, saya benar-benar bukan pendukung Setan Merah.

Hingga sekarang, terkadang saya hanya bisa senyum kasihan kalau ada fans MU yang saking cintanya pada tim tersebut -beberapa orang bilang layaknya orang Manchester asli- menjelek-jelekkan tim/fans lawan dengan cara yang bikin saya pengin bilang, “oh come on, grow up!”. Tapi, saya tekankan, tidak semuanya seperti itu. Saya pikir, ada juga fans Setan Merah yang menunjukkan sikap respek pada tim atau fans manapun yang merupakan lawan MU. Dan saya pun respek pada fans dengan tipe seperti itu. Yang jelas, saat ini, cuma ada satu klub mancanegara yang saya idolai, Rossoneri!

Manchester United 1997/1998. (Foto: Ist)
Manchester United 1997/1998. (Foto: Ist)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s