Cerita P20

Bagi mereka yang tinggal di Jakarta, naik kendaraan umum Lebak Bulus – Jakarta Pusat/ sebaliknya, pasti sudah tahu apa yang dimaksud jika mendengar ‘P20’. Betul, itu adalah salah kode trayek Kopaja untuk jurusan Lebak Bulus – Pasar Senen. P20 ini ada dua tipe, yang pertama adalah reguler dan yang kedua, AC. Untuk reguler, ya seperti Kopaja klasik biasa -sekarang tarifnya jauh-dekat Rp 3 ribu. Sedangkan P20 AC baru eksis sekitar satu tahun lalu. Kelebihannya, ya iyalah ber-AC, busnya lebih bagus, melewati busway, dan supirnya berkendara lebih ramah ketimbang reguler -tarifnya Rp 5 ribu.

Saya pun salah satu pengguna P20 ini. Awalnya, saya hanya menggunakan jasa angkutan ini setiap kembali ke Jakarta, setelah menikmati masa liburan di Bandung. Tapi seiring perkembangan cinta (hahaa), saya makin sering naik angkutan yang melewati Rasuna Said & Mampang ini. Dan, dari segala cerita yang saya dapat selama naik P20, ada satu cerita yang saya pengin bagi di sini. Mari kita mulai. Oiya sebelumnya, FYI, ‘P’ di P20 itu mengacu pada kode wilayah yg dilalui Kopaja. ‘P’ maksudnya adalah Pusat, karena P20 memang melewati Jakarta pusat.

Saat itu, yang jelas Minggu pagi menjelang siang, saya kembali ke Jakarta dan langsung menuju kantor. Berangkat menggunakan bus Primajasa tujuan Lebak Bulus, saya -seperti biasa- berhenti di Trakindo, Cilandak untuk kemudian menyeberang dan langsung naik P20 AC hingga Gondangdia. Nah, saat P20 tersebut mulai memasuki jalan Rasuna Said, sang supir membawa kendaraannya keluar busway dan ke jalur biasa, padahal semestinya sampai sebelum Jembatan Latuharhari, mereka terus berada di jalur itu. Jadi, halte Trans Jakarta terakhir yang disinggahi oleh P20 yang saya naiki itu adalah Kuningan Timur.

Beberapa menit setelah P20 itu mulai melewati jalur biasa, ada seorang ibu, yang duduk di dekat pintu depan bus, protes. “Loh, kok enggak lewat jalur busway? Saya kan mau ke Dukuh Atas. Kalau saya mau naik busway, berarti harus bayar lagi dong?!” ujar si ibu tersebut dengan nada kesal. Ya, karena P20 sudah keluar busway -untuk kembali masuk busway sudah tak memungkinkan-, dan si ibu itu mau naik Trans Jakarta, dia harus naik dari jembatan di trotoar, dan otomatis dia harus membayar lagi Rp 3500. Lain halnya jika P20 tetap lewat jalur busway, karena si ibu hanya perlu transit di salah satu halte untuk kemudian naik Trans Jakarta menuju Dukuh Atas, jadi tak perlu bayar apa-apa lagi.

Si ibu itu pun kian berang, karena dia tentunya dia merasa sangat rugi. Sementara kondektur dan supir hanya bisa ngeles tak puguh dengan bilang: “Seharusnya ibu tadi turun di halte Kuningan Timur…”. Dalam hal ini, secara aturan, mereka salah. Si ibu pun menjawab dengan nada yang semakin meninggi, “Kalau memang lewat jalur biasa, buat apa saya naik yang AC?! Kan sudah jelas, terintegrasi dengan busway! Pokoknya gak mau tau, saya harus sampai ke Dukuh Atas!”

Mengingat enggak mungkin P20 nya dibawa ke Dukuh Atas, karena banyak penumpang lain di sana, si kondektur pun menyarankan si ibu untuk turun di Latuharhari dan naik kopaja lain yang melewati Dukuh Atas. Si ibu pun menurunkan tuntutannya, “Yaudah pokoknya saya enggak mau bayar lagi nanti, saya minta ongkosnya!” Dikasihlah Rp 5 ribu, sesuai dengan tarif P20 AC itu. Si ibu puas? Nggak juga tuh. “Saya enggak mau goceng, Kopaja (yang akan dinaikinya nanti) kan dua ribu, saya mau uang pas!” Akhirnya, si kondektur pun memberi Rp 2 ribu, hingga akhirnya si ibu turun dari P20 AC setelah melewati jembatan Latuharhari, masih dengan raut wajah penuh kekesalan.

Siapa yang salah? Si ibu jelas meminta haknya, sementara P20 AC sepertinya sengaja lewat jalur biasa, demi mendapat banyak muatan, karena mungkin saat itu, penumpang dari halte Trans Jakarta sepi. Saya pribadi menyayangkan adanya kesetengah-setengahan ini, walaupun di Indonesia, hal-hal seperti ini lumrah terjadi. Semestinya, kalau peraturannya P20 AC itu melewati busway, ya sudah, seperti itulah seterusnya. Jangan ada alasan apapun yang membuat si P20 melenceng dari aturan. Tapi, yaa mau bagaimana lagi, untuk urusan seperti ini, di negara kita sepertinya terlalu banyak maklum. Hmm…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s