HP Saya Pernah Masuk Saku Pencopet

Pernah dengar atau lihat seseorang panik karena kehilangan HP/dompet di angkutan umum? Nah, saya pernah jadi orang yang panik itu. Ini terjadi pada 22 Oktober 2013, saat saya hendak liputan acara bulu tangkis di Taman Barito, Jakarta. Untuk menuju lokasi, dari kosan di Kalipasir, saya naik Kopaja 502 untuk dilanjutkan bus Transjakarta jurusan Kota-Blok M.

Sebelum naik Kopaja, seperti biasa saya masukkan dompet ke dalam tas ransel, sementara tas sendiri saya balikkan arahnya ke depan. Kalau HP (BB), biasanya saya biarkan di saku samping kiri, karena saya pikir kalau ada apa-apa, saku samping lebih kerasa ketimbang saku belakang celana. Terlebih, saya juga sudah merasa cukup rajin mengecek keberadaan dompet atau HP.

Sampai perempatan Bank Indonesia, tepat saat Kopaja berhenti karena lampu merah, saya pun turun. Baru jalan beberapa langkah, saya kaget karena enggak ada BB di saku samping kiri celana. Di dalam tas pun enggak ada. Lagian, saya emang yakin kalau HP enggak dimasukin tas. “Ah euy, kecopetan ini mah. Yaudah lah mau gimana lagi, mungkin bukan rezeki saya atau kurang beramal,” ucap saya pasrah dalam hati, ketika panik sekitar tiga detik itu.

Dalam kepasrahan, saya menoleh ke kiri ke arah Kopaja tadi, yang masih ada karena memang ketahan lampu merah. Bisikan dalam hati bilang kalau saya enggak boleh menyerah, saya harus naik lagi ke Kopaja itu. Naik lah saya, dan langsung bilang ke kondektur kalau saya hilang HP, tapi dia tampak gak peduli.

Meski bisa saja si pencopet sudah turun dari tadi, saya tetap penasaran. Kemudian saya mengeluarkan HP satu lagi, yang disimpen di dalam tas, dan menelepon ke BB saya yang raib itu. Masih nyambung! Saya kemudian sibuk sendiri memperhatikan bunyi ringtone BB, tapi sayangnya suara mesin Kopaja terlalu berisik. Nah, saat saya nelepon, bus jalan. Kemudian ada satu orang yang beranjak dari duduknya dan berdiri di pintu kopaja yang terbuka, sambil menelepon. Saya lihat, yang dia pake bukan BB saya. Tapi dia tetap mencurigakan. Dia juga langsung turun setelah Kopaja melewati perempatan. Insting: Ikutin orang itu!

Saya kemudian ikut turun dan ngikutin dia ke mana dia jalan. Dia mulai keliatan agak panik karena saya ikutin. Pada titik ini, saya udah mulai yakin dia pencopetnya. Lalu dia nyeberang, dan tentunya saya ikutin juga. Saat dia udah di seberang jalan, saya masih ketahan di tengah-tengah, di pembatas antara kedua jalur. Saya nyaris tertinggal, karena dia nyoba berhentiin Metromini. Beruntung, Metromini enggak berhenti, karena mobil-mobil yang lewat sedang kencang dan dia juga berhentiinnya ngedadak. Udah makin yakin nih dia pencopetnya. Saya kemudian nyeberang dan nyamperin orang itu.

Dia di trotoar, sementara saya di bahu jalan. Kami terpisahkan tumbuhan dan pagar dari tali. Ini tepat di depan/samping Bank Indonesia. Dia berjalan menjauh, sementara saya langsung manggil dan memulai percakapan.

Adit: Mas, bentar dong, saya hilang HP

Copet: Apa? Jadi kamu nuduh saya? (nada tinggi)

A: Saya minta waktunya bentar, cuma pengen mastiin. Saya ngomong baik-baik.

C: Saya buru-buru mau ke sana (nunjuk ke arah Tanah Abang). ~udah makin aneh nih tingkahnya~

(Dia jalan, saya terus ikutin sampe dia makin annoyed dan kesudut)

C: Yaudah periksa sini (nyuruh saya ke trotoar yang memang sepi)

A: Enggak, situ yang sini, saya cuma pengen meriksa.

C: Nih, silakan periksa (sambil ngasih tas selempang mininya) ~dan di tas itu emang gak ada~

A: Sekarang saya mau periksa sakunya.

C: (Lagi-lagi mengelak) saya buru-buru!

A: Saya minta udah baik-baik nih. Saya juga buru-buru.

Setelah makin kesudut, dia nyamperin ke bahu jalan. Bukannya langsung ngaku, tapi masih sempet-sempetnya bilang, “Tadi yang ngambil HP itu yang di belakang kamu waktu di bus.”

A: Udah buruan, saya cuma mau periksa sakunya! (emosi)

Checkmate! Dia pun akhirnya ngaku dan bilang HP saya emang ada. Dia bilang lagi butuh uang. Saya enggak peduli dan langsung minta HP nya. Dan~ dia pun mengeluarkan BB saya satu-satunya itu dari saku. “Alhamdulillah bener masih ada,” kata saya dalam hati. Sedikit bentak-bentak, saya pun langsung pergi, karena emang udah harus buru-buru ke tempat liputan.

Fiuh, itulah pengalaman dicopet pertama kalinya di Jakarta. Intinya, harus hati-hati, bener-bener hati-hati di manapun, khususnya di tempat umum. Saya saja, yang merasa cukup sudah sering memeriksa hp/dompet, perhatiannya bisa teralihkan -entah lewat apa. Pokoknya, selalu hati-hati ya teman-teman!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s