Monthly Archives: November 2014

1995-2014: Antara Siliwangi dan Jakabaring

Terekam dalam ingatan, bagaimana saya menyaksikan pertandingan final Liga Indonesia pertama, musim 1994/95 dari televisi. Tentu, itu adalah laga yang sangat dinanti, karena mempertemukan tim idola saya, Persib Bandung dan Petrokimia Gresik. Bisa dibilang, Liga Indonesia I adalah masa-masa pertama saya menyaksikan dan mengikuti segala perkembangan sepakbola nasional. Asal-usul kenapa saya suka Persib? Saya asli Bandung. Lahir dan besar di Bandung. Itu sudah amat cukup menjawab, saya pikir.

Saya tak ingat menit per menitnya, tapi saya ingat betapa emosionalnya saya ketika striker Maung Bandung saat itu, Sutiono mencetak gol. Juga bingung kenapa ada gol Petrokimia yang dianulir, meski senang-senang saja. Persib pun dipastikan menjadi juara, dengan mengalahkan Petrokimia 1-0. Senang bukan main, karena saya mengikuti betul perjalanan Persib musim itu. Lampu stadion dipadamkan dan ada laser-laser menghiasi lapangan sebelum perayaan. Ada logo Telkom. Juga sambutan Ketum PSSI, Azwar Anas.

Bandung berpesta! Ada arak-arak tim Persib bersama trofi Liga Indonesia. Ketika itu saya kelas 3 SD. Kebetulan, saya sekolah di SD Banjarsari yang lokasinya di Jalan Merdeka, berseberangan dengan Balai Kota Bandung. Demi menyaksikan pawai, saya dan beberapa teman nekat keluar kelas dan menunggu iring-iringan tim Persib di pinggir jalan. Namun, karena takut dimarahi, sebelum pawai tiba, kami sudah masuk kelas. Sial. Tak jadi ikut pesta, Ibu Ida, wali kelas kami, juga tetap marah-marah di dalam kelas. **

Musim selanjutnya, saya masih (dan makin) cinta sepakbola nasional. Tentu, masih dengan rasa bangga kepada Persib. Bahkan, ketika tim asal Bandung lainnya, Manstrans Bandung Raya menjuarai Liga Indonesia II. Saat itu, saya malah ingin finalis lainnya, PSM Ujungpandang juara, karena tak ingin ada tim dari Bandung selain Persib yang juara Liga Indonesia. Padahal, jika berpikir dengan cara lain, kurang keren apa, Bandung merajai sepak bola Indonesia dalam dua tahun berturut-turut! Tapi saya tetap tak rela.

Musim-musim berikutnya, sepakbola Indonesia tetap menarik. Mulai dari Persebaya yang juara Liga Indonesia III, Bandung Raya yang membubarkan diri, kompetisi tiga wilayah, hingga situasi politik Indonesia yang membikin Liga Indonesia IV berhenti di tengah jalan. Sayangnya, pencapaian Persib seakan begitu-begitu saja. Kendati demikian, hal itu tak membikin saya absen dari sepak bola Indonesia. Tentu saya juga tak melewatkan final Liga Indonesia V, di mana ada pemain bernama Tugiyo yang seketika populer.

Singkat cerita, saya memasuki masa SMP, atau era 2000an, di mana ada striker Persib yang tak jarang dielu-elukan bobotoh, Sujana. Padahal skill biasa saja, postur kurus, dan jersey kegedean. Tapi, dia cukup rajin mencetak kala itu, maka muncul sebutan Sujagol. Mungkin, bisa dibilang dia Filippo Inzaghi-nya Persib. Lalu, bagaimana prestasi Maung Bandung? Masih begitu-begitu saja. Harapan untuk menjadi juara selalu tenggelam di tengah jalan. Dan era ini pula muncul perselisihan antara Viking dan Jakmania.

Beranjak SMA, saya lebih bergairah dalam mendukung. Di masa ini pula lah saya pertama kalinya menonton langsung Persib dari stadion. Dalam dua musim, saya juga terdaftar resmi sebagai anggota Viking Persib Club. Tribun Timur/Utara Stadion Siliwangi, konvoi, kibar bendera, rela hujan-hujanan adalah hal-hal yang saya kerap temui/lakukan ketika itu. Tapi, Persib masih begitu-begitu saja, bahkan nyaris terdegradasi pada 2003, sebelum akhirnya lolos dari playoff. (Pelatih) Juan Paez jadi penyelamat Persib saat itu.

Zaman kuliah, mendukung langsung dari stadion agak berkurang, tapi fanatisme, rasa cinta terhadap Persib, ya masih sama. Hanya mungkin, masa gila-gilaan konvoi pakai motor, bawa-bawa bendera dan hal semacamnya sudah berakhir bagi saya, meskipun beberapa kali tetap menonton di Si Jalak Harupat, yang letaknya tak jauh dari tumah saya. Di era Indonesia Super League (ISL), Persib sempat menapaki papan atas, tapi tetap saja, gelar juara tampaknya masih belum mau dekat-dekat dengan kami. **

Sampailah pada ISL 2014, di mana kompetisi kembali dibagi menjadi dua wilayah. Persib asuhan Djadjang Nurjaman sukses masuk 8 besar, dan berhadapan dengan Arema Cronus di semi final, di Jakabaring, Palembang. Arema bukan tim sembarangan. Saya bilang, Persib cukup beruntung di laga ini, karena dua andalan lini tengah Singo Edan, Gustavo Lopez dan Ahmad Bustomi tak main full, karena cedera. Menurut saya, ini menentukan. Dan, lewat perjuangan luar biasa, Persib menang 3-1 via extra time.

Di final, Persib bertemu Persipura, si raja Liga Indonesia, di Jakabaring. Sudah empat kali mereka juara. Secara kualitas tim, harus diakui, Persib kalah dibanding tim langganan AFC Cup itu. Tapi, entah apa kami harus menyebutnya, ada hal yang membuat yakin kalau Persib bakal juara kali ini. Sampai-sampai, puluhan ribu bobotoh hadir di Jakabaring, yang lokasinya beribu-ribu km dari Bandung! Ungkapan paling cocok: “Now or Never” dan “Kagok Juara”. Sudah 19 tahun berlalu sejak Persib merasakan gelar juara liga.

Tak sampai 10 menit laga berjalan, Persib langsung dihentak oleh gol Ian Kabes. Kecolongan menit awal! Gila. Selanjutnya, Persipura menunjukkan kualitas sebagai rajanya Liga Indonesia. Teknik individu mumpuni, tenang, dan sabar. Meskipun, barisan depan kerap dibendung para pemain bertahan Persib. Sebaliknya, Persib jauh dari harapan. Kalah dalam organisasi permainan, mereka mengandalkan bola-bola panjang dan berhasil. Tapi, lini depan buruk. Beruntung ada gol bunuh diri Manu Wanggai.

Babak II, Persib sedikit lebih percaya diri. Mereka unggul jumlah pemain, karena pada akhir babak I, bek Jayapura, Bio Paulin dikartu merah. Dan, Persib pun berbalik unggul lewat gol M. Ridwan. Namun, Persipura –yang hanya 10 pemain– justru dominan dan memaksakan extra time berkat gol Boaz Solossa. Extra time, Persib mencairi gol, sedangkan Persipura tampaknya mengincar adu penalti. Sampai akhirnya, dilaksanakanlah adu penalti. Gawat. Persipura, jelas, unggul mentalitas.

Satu pertanyaan, Kenapa Djanur tak mengoptimalkan dua jatah sisa pergantian pemain? Keputusan cukup aneh menurut saya, karena pemain fresh seharusnya bisa dimanfaatkan. Paling tidak, sisakan satu saja jatah pergantian pemain. Tapi, pada akhirnya semua itu tak penting atau terlupakan, karena apapun keputusan Djanur, dia lah pria yang pada akhirnya mengatasi kerinduan 19 tahun juara Persib. Ya, asisten Indra Thohir saat juara Liga Indonesia I itu melakukannya lagi! Persib menang adu penalti dengan skor 5-3.

Penantian pun berakhir di angka 19. Saya berpesta, kami berpesta. Bandung biru berpesta. #PersibJuara

Persib Bandung juara ISL 2014 (Foto: ANTARA)
Persib Bandung juara ISL 2014 (Foto: ANTARA)