Category Archives: # Kelana

3 Hari di Pulau Bacan, Halmahera Selatan

Akhirnya merasakan juga Waktu Indonesia Timur (WIT). Jadi, 6-9 Juni 2014 kemarin, saya dapat kesempatan untuk menginjakkan kaki di Kepulauan Halmahera, Maluku Utara. Saya ke sana dalam rangka meliput acara Kemenpora, perlombaan renang massal di pesisir pantai, di Pulau Bacan, Halmahera Selatan.

Hari 1. Awalnya agak bingung, karena enggak ada informasi agenda acara, kumpul di mana, jam berapa. Saya hanya dikirim tiket online pesawat Jakarta-Ternate dan Ternate-Jakarta via email. Alhasil, dengan dibantu pacar terkasih, saya berkemas dan akhirnya berangkat pukul 22.30 WIB, menggunakan taksi. Ternyata, dari Kalipasir ke Cengkareng hanya membutuhkan waktu 30 menit saja. Karena sudah malam juga.

Terminal 2 dalam keadaan sepi. Saya hanya mencoba untuk menghubungi cp di emai tiket pesawat tadi. Ternyata langsung berkumpul di dalam, di lounge Garuda Indonesia. Di sana sudah ada beberapa staf kementrian dan juga beberapa awak media yang juga berangkat. Pesawat pun akhirnya lepas landas pukul 01.15 WIB.

Mendarat di Bandara Sultan Babullah, Ternate, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit. Sampai di sana, kami naik pesawat kecil, Express Air menuju Bandara Usman Sadik, Labuha, Pulau Bacan. Dari sana, dijemput mobil-mobil rentalan, kemudian makan di RM Apollo, mungkin ini salah satu yang terkenal. Di sini, obrolan sudah tentang batu. Ya, Batu Bacan memang terkenal. Bagus dan harganya mahal.

Selepas makan, kami ke penginapan dan tidur. Teman sekamar saya beda kloter berangkat, jadi saya tiduran pulas memanfaatkan kamar sendirian, sampe akhirnya terbangun untuk Jumatan. Lalu makan siang, kembali ke hotel, istirahat lagi, makan malam, sampai tidur menuju hari berikutnya. Hari pertama ini lebih banyak diisi makan dan istirahat. Oya, penginapannya bernama Habibi, tepat di depan Pelabuhan Labuha.

Hari 2. Pagi-pagi diajak ke daerah sekitar Pelabuhan Babang, tempat berlabuhnya kapal-kapal dari Ternate, oleh anak MetroTV, yang hendak mengambil stok gambar. Kami langsung ke Pantai Dermaga Biru. Pantainya kecil, tapi sangat bersih. Katanya, itu milik pribadi. Sempat foto-foto, kami langsung balik arah menuju Bandara Usman Sadik, karena pak menteri tiba. Dia akan menghadiri perayaan Ulang Tahun ke-11 Kabupaten Halmahera Selatan. Selain itu, kementrian juga memang memiliki rangkaian acara di sini, bernama “Lintas Khatulistiwa Pemuda”. Lomba renang itu masuk ke dalam bagiannya.

Saya kembali ke hotel untuk mandi, dan lanjut ke lapangan utama, lupa namanya, tempat dilangsungkannya upacara HUT Halmahera Selatan. Setelah itu, ada acara makan-makan di pusat kota, yang merupakan bagian dari tradisi di Bacan. Saya dan beberapa kawan memilih makan di RM Apollo saja, sebelum akhirnya kembali menuju Pelabuhan Babang guna mengikuti agenda pak menteri berikutnya: meresmikan Tugu Khatulistiwa di Pulau Kayoa, masih di Halmahera Selatan. Menuju Kayoa, kami, beserta rombongan menteri, naik kapal Bahari Ekspress, dengan waktu tempuh dua jam.

Tiba di Kayoa, kami jalan menuju tugu Khatulistiwa. Jaraknya tak begitu jauh. Masyarakat tumpah ruah menyambut kedatangan menteri dan rombongan, seperti sedang menyambut pahlawan yang habis bertanding di Piala Dunia atau Liga Champions. FYI, ini merupakan tugu Khatulistiwa kedua yang diresmikan pada 2014 ini. Yang pertama letaknya di Pulau Kawe, Kepulauan Raja Ampat, beberapa pekan sebelumnya. Berikutnya ada di Sulawesi Tengah, Kalimantan Barat, dan Sumatera Barat.

Selepas itu, kami kembali ke Bacan, tapi ada acara terlebih dulu di Pulau Nusara, yang letaknya tak jauh dari Pelabuhan Labuha. Pulau Nusara sendiri sebenarnya salah satu gugusan indah yang ada di Halmahera Selatan. Namun, sayangnya keindahan itu tak bisa dinikmati, karena malam hari. Apa daya. Setelah makan dan acara utama, salah satunya pertunjukan aksi bambu gila, kami kembali ke penginapan untuk tidur pulas.

Hari 3. Dari pagi sudah siap, karena perlombaan renang dimulai pagi. Dilepas oleh menteri, sekitar 1700 peserta berenang di pesisir pantai Labuha, sejauh 1,5 km. Antusiasme masyarakatnya cukup seru. Acara selesai, kami kembali ke penginapan, untuk, lagi-lagi tidur. Sebenarnya ada waktu untuk jalan-jalan, namun karena kami rombongan, ya karena enggak ada di agenda, jadi agak sulit untuk inisiatif bergerak.

Siang hari, kembali makan, dan kembali di RM Apollo. Setelah itu, kami kembali ke penginapan dan mulai bersiap-siap. Saya memilih jalan kaki ke pasar untuk mencari oleh-oleh. Saya juga membeli bongkahan batu biasa, yang hargnya Rp10 ribu saja. Warnanya lumayan. Tapi batu itu enggak ada apa-apanya jika dibandingkan Batu Bacan yang harganya ratusan ribu hingga jutaan. Sedangkan oleh-oleh makanan, saya beli Kamplang, kerupuk yang terbuat dari sagu dan ikan. Saya juga beli ikan asap.

Malamnya, kami siap pulang dan menuju Pelabuhan Babang untuk menaiki kapal menuju Ternate. Ada kamar-kamar di kapal ini. Satu kamar berisi dua tempat tidur yang bersusun tingkat. Ada AC nya juga. Mengobrol-ngobrol di luar kapal, saya pun kemudian terlelap di tengah dinginnya udara AC dan goyangan kapal.

Hari 4. Akhirnya kapal pun tiba di Ternate sekitar pukul 05.00. Selanjutnya, kami dijemput mobil menuju Bandara Sutan Babullah. Sempat ngopi-ngopi, akhirnya pesawat pun berangkat menuju Cengkareng sekira pukul 08.15 WIT. Menempuh perjalanan 3,5 jam, alhamdulillah kami mendarat dengan selamat di Jakarta.

Perjalanan yang cukup jauh,meskipun tak puas-puas amat. Karena tak bisa mengeksplor Pulau Bacan lebih banyak. Selain memang cukup jauh untuk menuju pantai-pantai untuk berenang, daerah tersebut memang belum jadi salah satu tujuan utama wisatawan. Tapi, terima kasih untuk tiga hari yang cukup menyenangkan.

SAM_1555.JPG_effected

Karas, Citumang, dan UFO Sinting!

Perjalanan ini sebenarnya dilakukan berbulan-bulan lalu, dan nyaris setahun. Tapi karena kesibukan melanda (silakan semuanya serempak bilang: WAE!) jadi baru sempat menulisnya sekarang. Saya mikirnya sih, sayang banget kalau enggak ditulis di sini. Jadi, mari, langsung, aja. Ya?

Saat awal puasa 2012, saya dan teman-teman selingkungan rumah memang merencanakan jalan-jalan ke pantai pascalebaran. Tujuan kami (saya, Erdi, Bobbi, Rizal) adalah Pantai Batu Karas, Pangandaran. Alasannya simpel, Batu Karas salah satu pantai yang masih agak bersih, seru buat main pasir, dan di sekitarnya juga banyak objek wisata lain. Selain itu, penginapan di sana juga sudah cukup banyak dengan berbagai varian fasilitas dan harga. Fixed, kami sepakat ke nge-Batu Karas.

Kamis (6/1/2012), perjalanan kami berempat pun dimulai dari… rumah masing-masing, kecuali saya yang baru pulang piket di kantor. Kami ke sana pakai mobilnya Erdi. Normalnya, jalur ke Pangandaran dan sekitarnya itu ya lewat Ciamis dan Banjar. Tapi, saya sukses meyakinkan teman-teman untuk ikut arahan saya. Ya, sejak beberapa tahun lalu, saya memang terobsesi menyusuri pantai Selatan. Jadi, saya pun menggiring si Erdi dan mobilnya agar ke Cipatujah, lalu menyusur pantai ke timur sampai Batu Karas, meskipun saya juga tahu, pasti bakal memakan waktu lebih lama.

Awalnya, saya pikir pemandangan pantai selatan Jawa akan terus menemani kami sampai Batu Karas. Tapi ternyata, enggak. Saya salah perkiraan, dan hasilnya pun di luar ekspektasi. Selain kerap terhalang pohon, semak-semak atau apapun itu, ternyata beberapa jalan kondisinya tak mulus. Tapi, saya enggak menyesal. Coba kalau saat itu enggak mencoba, saya enggak akan tahu dan rasa penasaran menyusur pantai selatan akan terus menghantui (iya iya, ini memang berbau pembelaan :p).

Setelah menempuh enam jam perjalanan, kami pun sampai di Batu Karas, sekitar pukul 19.00. Sempat tanya beberapa penginapan sana-sini, akhirnya semua setuju menginap di Penginapan Teratai -yang terkenal itu. Harganya lupa, yang jelas sangat terjangkau. Kamarnya lumayan luas, isinya: kasur besar satu (tapi cukup buat berempat), kipas angin, dan kamar mandi. Hari pertama cukup melelahkan, apalagi saya yang malam sebelumnya begadang untuk piket di kantor. Jadi, pada pengujung hari pertama ini, kami hanya cari makan, dan kemudian tidur. Zzz..

Hari kedua. Pada hari ini, tepatnya Jumat, kami punya waktu seharian penuh untuk bermain-main. Awalnya, susunan acara belum terencana. Pukul 09.00 kami pun memutuskan beranjak menuju Sungai Citumang. Jadi, sehari sebelumnya, lewat BBM, teman saya Giwang memberi saran untuk mencoba body rafting di Citumang. “Caina jernih minta ampun,” kata Giwang saat itu. Jadi, untuk acara pagi hari, diputuskanlah main ke sana. Letaknya? Antara Batu Karas dan Pangandaran. Kalau dari Karas, belokan masuknya setelah Batu Hiu, sebelah kiri.

Setelah sempat bertanya-tanya ke penduduk sekitar, dan melalui jalanan yang cukup sempit, akhirnya kami sampai di Citumang. Di sekitar parkiran, masih belum tampak si sungai yang katanya jernih itu. Harus jalan kaki dulu katanya. Pas di depan mobilnya Erdi diparkir, ada rumah, seperti base camp para pecinta alam. Awalnya, kami kira beli tiket di situ, ternyata mereka menawarkan paket body rafting, pake life jacket gitu nyusuri sungai. Harga? 75 ribu. “Buset, mahal banget,” kata saya dalam hati. Setelah dipikir, kami menolaknya, dan rela hanya bermain-main di sungai tanpa nge-body rafting.

Usai berjalan sekitar 200 meter, barulah ada loket untuk beli tiket masuk Citumang. Dan di situ juga ada yang menawarkan life jacket untuk disewa. Saya lupa harganya, tapi kami masih nahan dulu, karena liat sungainya aja belum. Dan… beberapa meter kemudian, kami pun sampai di sungai itu. Wow, memang jernih! Lalu kami main-main air. Tapi, tanpa life jacket, katanya dilarang berenang. Melihat jernihnya air sungai, kami luluh juga. Nggak tahan ingin berenang dan nyusuri sungai. Tapi, kami yakin kalau sewa life jacket plus nyewa guide buat body rafting, harganya bisa ditawar. Berapa harga yang akhirnya didapat? 45 ribu. Lumayan lah. Yay, mari berenang!

Ternyata, sebelum memulai, kami diajak untuk loncat dari tebing dengan ketinggian tujuh meter. Kami pun tertantang. Pertama-tama, si aa-nya kasih contoh gimana naik ke tebing dengan manjat akar pohon hingga akhirnya loncat ke sungai. Satu per satu dari kami sampai di atas dan loncat. Sensasinya? GILA! Serem-serem seru! Saya berniat teriak untuk membuang segala rasa takut saat meloncat. Tapi, yang ada teriakan saya bunyinya terputus-putus, karena saking tegangnya waktu ada di udara. Seperti sesak napas! Karena seru, saya pun naik dan loncat lagi. Tapi, yang kedua berakhir menyeramkan bagi saya, karena saat nyebur, ternyata posisi kaki saya dekat dengan karang. Saya hanya beberapa meter dari maut! Astagfirulloh. Jadi, ternyata saya salah. Harusnya, pas dari tebing, saat loncat, jangan ambil langkah terlalu jauh, karena sungainya pun enggak lebar.

Selanjutnya, kami pun menyusuri sungai alias body rafting tea. Keren juga, ada sungai yang jernih kaya gini. Tapi, selama body rafting sensasinya standar-standar aja, ga ada yang istimewa. Untungnya, kami enggak ngerasa rugi soalnya ngerasain sensasi loncat dari ketinggian tujuh meter tadi. Oiya, body rafting tadi itu, finisnya di dekat parkiran. Jadi setelah sampai, kami pun ganti pakaian dan kembali menuju Karas. Sebelumnya sempat terpikir ke Green Canyon, tapi karena baju kering tinggal yang terpakai, plus agak malas juga, yasudah rencana itu pun batal. Kami makan, dan setelah itu langsung ke penginapan. Tiba sekitar pukul 14.00, kami langsung istirahat.

Sore hari, sesuai dengan rencana, kami main wahana-wahana di pantai Batu Karas. Paketannya adalah untuk dua wahana: Banana Boat dan Crazy UFO. Untuk wahana yang disebut terakhir, saya belum pernah menaikinya, jadi agak-agak penasaran. Kemudian, kami memulainya dengan UFO. Bentuknya bulat dan seperti Banana, ditarik oleh speed boat. Awalnya terasa biasa dan seru-seru saja, terutama saat berbelok arah. Tapi, segalanya jadi gila -seperti namanya ‘Crazy’- saat dalam kecepatan tinggi, UFO menabrak deburan ombak. Kami -yang terus berusaha untuk tidak terlempar ke laut dengan berpegangan pada alat pegangan yang ada- pun berloncatan tak jelas. Tangan, kaki, membentur badan UFO. Posisi mendarat pun tak jelas. Kami minta dipelankan. Tapi, kemudian malah kian parah, dan kami melihat ada darah di sekitar mulut Bobbi. Itu akibat benturan keras ke badan UFO.

Main Crazy UFO selesai. Kami protes kenapa bisa kaya gitu, tapi ya sudahlah. Kalau kata si Erdi, di Bali, main kaya begini ada asuransinya, makanya harganya bisa lebih mahal. Bobbi akhirnya mendapat perawatan dari ‘UKS’ setempat. Dan dia gak ikut naik Banana Boat. Kami bertiga? Tetep naik, karena udah terlanjur bayar paketan sama si Crazy UFO. Tapi saat naik Banana boat sensasinya garing, karena udah ketakutan duluan naik UFO. Salah strategi emang, harusnya naik Banana dulu baru UFO. Yasudahlah, yang jelas, itu UFO benar-benar sinting. Tangan, kaki kami pun sakit-sakit setelahnya. Dan, hari kedua kami pun berakhir dengan sedikit tragis, khususnya buat Bobbi. Padahal, sebenarnya, sebelum UFO jalan, dia paling semangat dan langsung milih tempat paling depan. Haha. Sing sabar, Bob!

Hari ketiga, tepatnya Sabtu, adalah waktunya pulang. Tapi, pagi-paginya kami sempat berenang dan susurfingan di pantai, untuk selanjutnya foto-fotoan. Khusus hari ini (mungkin Minggu juga), Karas rame banget. Dan, seiring keramaian itu hadir, kami pun beranjak pulang. Tentu, kali ini jalur yang dilewati adalah jalur biasa, Banjar-Ciamis. Sempat mampir di salah satu rumah makan, hingga akhirnya… alhamdulillah kami sampai di rumah masing-masing.

Lala
Sebelum memulai body rafting. (Foto: Facebook Rizal)
Loncat dari ketinggian 7 meter. (Foto: Facebook Rizal)
Loncat dari ketinggian 7 meter. (Foto: Facebook Rizal)
Hendak body rafting di Citumang. (Foto: Facebook Rizal)
Hendak body rafting di Citumang. (Foto: Facebook Rizal)

Ekspedisi Pecel Ayam #5: Mc Darmo LA

huh…. sebenarnya saya udah posting ini dan mempublishnya sebelum saya menulis “Jogja, here i come”. Tapi entah kenapa postingan saya tersebut hilang. Argh.. dan berjuta-juta malas kalau saya harus mengulang kembali tulisan yg sama tentang Mc Darmo ini. Jadi saya persingkat saja ya..

Mc Darmo terletak tepat di depan Taman Lalu Lintas. Sebenarnya ini bukanlah tempat asli Darmo. Sebelumnya tenda Darmo ini terletak di Jalan Jawa, tepatnya di depan SMP 5 Bandung. Entah kenapa pindah. Saya bersama 2 rekan Karucel, Ardhy dan Rian menuju Darmo sekitar pukul 20.00. Darmo ini memang sudah cukup terkenal di Bandung. Bisa terlihat dengan banyaknya pengunjung yang datang setiap malamnya.

Sambal pecel di Darmo ini rasanya manis-manis-pedas. Menurut saya sih, enakk.. Ardhy pun bilang begitu, tapi dua teman saya yang lain: Lingga dan Rian bilang kalau mereka tidak suka sambal di sini karena rasa manisnya yg begitu kentara.. Sedangkan rasa ayamnya sendiri, cukup renyah walau tidak terlalu istimewa. Kekuatan Darmo ini sepertinya memang terletak pada sambalnya.

Jadi, bagi Anda yang kurang begitu suka dengan rasa-rasa manis, mungkin Darmo ini bukan pilihan bagus. Tapi sebaliknya, jika Anda tidak bermasalah dengan itu, Anda perlu mencobanya!! Selamat mencoba!

Low Cost Holiday in Jogja (4-7 November ’09)

Akhirnya saya bisa menulis cerita perjalanan ini. Cerita perjalanan yang tertunda 1 bulan. Sebenarnya saya ingin menulis ini lebih awal, tapi kesibukan benar-benar menyita waktu saya *geleuh*. Tugas penulisan feature cetak, menyelesaikan Supernatural season 3, ngedit video reunian mamah, baca Cinemags, rasa malas, dan masih banyak lagi deh pokonya hal-hal yang membuat saya menunda ini. Baik, kita mulai saja…

Saya, yang kuliah hanya senin-selasa tiap minggunya, merasa perlu untuk berlibur. Yah, main-main di luar kota lah. Kota tujuan kami ialah Yogyakarta, atau biasa disebut Jogja (bukan dept. store). Saya dan kedua teman saya liburan dengan stelan murah (bukan berarti murahan ya) *naon sih*. Apapun namanya itu, backpacking, low cost traveling, dll. Jadi, dengan budget yang minim mudah-mudahan kami bisa dapat kepuasan di sana. Oya, saya ke kota ini juga sekalian memasukkan surat Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Harian Jogja.

Saya perkenalkan dulu deh teman-teman saya: Sidik dan Rian. Ya, kami hanya bertiga ke sana. Mereka menjadi teman saya sejak SMA. Sekian perkenalan.

Kami bertiga menuju Stasiun Kiara Condong, tepat sesudah Magrib, diantar oleh tetehnya Sidik naik mobil. Menurut jadwal, kereta berangkat pukul 20.20. Tiket sudah dibeli oleh saya tadi siang. Tiketnya bernomor kursi, seharusnya kami tidak perlu khawatir tidak kebagian tempat. Tapi, ini Indonesia, segalanya bisa terjadi (kata Sidik). Kami sengaja datang lebih awal untuk menghindari hal-hal yg tidak diinginkan -baca:ketinggalan kereta. Jadi ketika sampai di Kircon kami masih sempat untuk makan popmie lalu duduk-duduk dekat rel sambil nunggu kereta datang. Oya, ini pengalaman pertama kami naik kereta ekonomi loh… jauh pula.

Pukul 20.15 kereta datang. Kereta yang kami naiki ialah Kahuripan. Start di Padalarang dan berakhir di Kediri. Ternyata banyak penumpang yang naik kereta ini juga. Kami takut tempat duduk kami disamber orang. Setelah menumukan tempat duduk, kami langsung duduk dan alhamdulillah sesuai nomor (walau sebelumnya tempat duduk ini terlihat sedang diduduki orang lain). Suasana di dalam kereta ekonomi benar-benar tidak karuan. Banyak pedagang yg berseliweran, ada yang berdiri, ada yang duduk di tempat untuk orang lewat, dll. Tapi, ya mau tidak mau kami harus menikmati ini semua. Secara.. tiket murah gituh. Bdg-Jogja Rp 24.000.

Kami disuguhkan hal menarik (perhatian) di sini. Ada yang cekcok di saat kereta sedang berjalan. Dua orang penumpang merasa tempatnya direbut oleh orang lain (dua orang juga, pasangan). Namun kedua orang yg sudah duduk itu pun bersikeras kalau tiket yang dia pegang merupakan tiket resmi. Setelah diminta memperlihatkan tiket, ternyata keduanya kadaluarsa. Itu tiket untuk tanggal kemarin. Tapi, mereka mengaku membelinya di loket, jadi mereka ga mau disalahkan. Teruslah ribut itu, saling adu mulut hingga akhirnya petugas datang. Petugas jelas lebih mempercayai tiket yg sesuai dengan tanggal sekarang. Meski terus menggurutu, akhirnya kedua orang itu keluar karena disuruh petugas untuk menghubungi petugas stasiun (ketika itu kereta sedang berhenti sebuah stasiun).

Analisis kami bertiga, kedua orang itu beli tiket di calo yg menjual tiket kemarin, dan mereka ga ngecek dulu. Hah, dasar ya orang Indonesia. Udah ada tiket murah, tetep aja susah untuk teratur. Dari kejadian itu, saya mendapat pelajaran: jangan pernah beli tiket di calo, selalu periksa tanggal keberangkatan di tiket, dan cepat-cepat ke tempat duduk sebelum disambar orang tak bertanggung jawab.

Kereta terus berjalan. Berhubung ini kelas ekonomi, maka kereta ini sering berhenti di stasiun-stasiun yang dilewati. Sidik tampak asyik mendengarkan mp3 playernya, Rian sesekali memejamkan mata tertidur, sedangkan saya harus membaca buku untuk tugas Fetak. ah! Saya ajak ngobrol orang-orang yg duduk berhadapan dengan kami. Ada dua orang mahasiswa STT Telkom angkatan 2009 yang asli Jogja. Ternyata mereka baru pertama kali juga naik kereta ekonomi. Lalu dekat jendela ada mas-mas (angkatan 03 ternyata) yang katanya berprofesi sebagai intel (tapi bukan intel polisi). Ketika yang lain tertidur, selain baca saya juga kerap ngobrol dengan si mas tadi. Ngobrol apa aja.

Akhirnya kereta tiba di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta pukul 05.40. Perjalanan yang melelahkan. Membuat kaki pegal, pantat aga sakit. Sebenernya kursi agak empuk, tapi kita tidak menaruh barang-barang kita di atas melainkan menggendongnya, sehingga ruang gerak jadi sempit. Seudah turun, kami sempat foto-foto di samping kereta hingga ada “tangan metal” misterius yang keluar dari jendela kereta. hahaha. Kemudian kami memutuskan untuk istirahat sejenak di Musholla di stasiun tersebut, sekalian shalat subuh. Mushollanya bersih. Jika dibandingkan dengan Stasiun Kircon, Lempuyangan benar-benar jauh lebih bersih! Padahal keduanya sama, tempat pemberhentian kereta ekonomi.

Istirahat cukup. Kalau kami lanjutkan tidur di musholla, mungkin akang bangun jam 12 siang. Jadi, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Tujuan berikutnya: mencari penginapan. Yang murah tentunya! Keluar stasiun kami seperti orang bingung karena benar-benar buta tentang Jogja. Aha! untung saya membawa peta. Saya mengeluarkan peta lalu mencari arah jalan. Ya, kami harus ke kanan. Sambil berjalan, banyak tukang becak yang menawarkan jasanya kepada kami. Mungkin kami terlihat seperti turis. Kami pun menolaknya dengan sopan.

Kami menuju Malioboro. Karena kami memang berencana mencari penginapan di sekitar Malioboro. Ternyata capek juga jalan dari Lempuyangan sampai Malioboro. Karena sebelumnya saya mendapat info bahwa di Jalan Sosrowijayan ada penginapan murah, kami pun langsung menuju jalan itu. Oya, saat berada di Malioboro, ada seorang calo yang menawarkan penginapan. Namun karena menghindari percaloan, kami pun menolaknya dengan baik-baik. Tapi ternyata dia calo yang baik. Ia memberikan peta Jogja yang lumayan bagus (berbeda dgn yang saya print di rumah). Dan ia bilang bawa saja. Terimakasih banyak mas!

Sampailah kami di Jalan Sosrowijayan. Jalannya tidak begitu lebar. Dan ternyata Jalan Sosrowijayan itu memang daerah penginapan karena banyak sekali kita temukan penginapan di sana. Termasuk hotel. Banyak sekali calo yang menawarkan penginapan. Huh! Karena penasaran dengan harga, kami pun mencoba salah satu penginapan yg ditawarkan calo. Namun, harganya tidak cocok. Jadi kami pun berniat mencari lagi. Tapi karena kami bertiga lapar, kami memutuskan untuk sarapan dulu di angkringan. Rian dan Sidik makan nasi kucing. Nasi yg dibungkus kecil dengan isi tempe kalo ga salah dan harganya murah. cuma serebu! Kalo saya sih, makan gorengan aja.. dan minum teh manis (ups, kalo di sana udah pasti manis) hehe. Sehabis sarapan murah, kami melanjutkan perjalanan untuk mencari penginapan. Karena merasa gandeng alias berisik mendengar ocehan calo, kami memutuskan jalan saja ke arah yg berlawanan dengan arah Malioboro.

Sampai di ujung jalan, kami ngampar-ngampar di depan bengkel yang masih tutup. fiuh.. cape juga. bawa tas berat soalnya dud!! Ketika kami duduk-duduk, ada tukang becak yang sudah benar-benar tua menghampiri, kami ngobrol-ngobrol. Sidik memberinya sebatang rokok. Karena sepertinya itu bengkel udah mau buka, kami lanjut saja. Ternyata si kakek-kakek tadi berniat mencarikan kami penginapan yg murah. Baik sekali dia.. Setelah negosiasi di beberapa tempat akhirnya kami dapat tempat yg harganya cocok. Di mana? di Sosrowijayan juga. hahaha. Harga per malamnya Rp 40.000 tapi karena kami bertiga jadi kena charge Rp 20.000, yah lumayan lah jadi seorang 20rebu. Tempatnya lumayan bersih. Kamar memang tidak terlalu luas, tapi enak lah dengan harga segitu. Ada ruang untuk nonton tvnya juga lagi. Kamar mandi di luar dan bersih banget… Namanya “Losmen Fadel”.

Arghh.. akhirnya kami bisa merebahkan badan di kasur. Karena belum mandi seharian, kami bergiliran untuk mandi saat itu. Setelah semua mandi, Sidik dan Rian memutuskan untuk istirahat setelah menempuh perjalanan jauh Bdg-Jogja. Sedangkan saya, ada keperluan. Saya mau ke Harian Jogja untuk memasukkan surat untuk PKL. Sendiri saja. Tanpa tau harus naik apa ke sana. Tapi peta tetap saya pegang.. Saya pun berangkat. Tak lupa membeli susu di mini market. Di Malioboro saya bertanya ke tukang parkir-tukang parkir. Apa yang bisa saya naiki untuk sampai ke Jalan MT.Haryono- jalan di mana kantor Harian Jogja berada. Seorang tukang parkir bilang, saya jalan dulu, lalu nanti saya naik bus. Ya sudah, saya ikuti. Saya naik bus entah apa namanya, pokonya mau ke MT Haryono. Ternyata saya harus naik bus 2x, jadi disambung gituh. Ongkos bus, sepertinya jauh-dekat Rp 2.500.

Saya pun sampai di Jalan MT. Haryono, dan harus jalan sedikit karena bus itu tidak sepenuhnya lewat jalan itu. Ah, ketemu juga itu kantor Harjo. Setelah mengurusi semuanya, tinggal pulang nih! naik apa ya? saya bertanya kepada tukang parkir lagih. ternyata saya cukup naik bus satu kali sampai Malioboro. Nah, di bus ituh saya merasa sedikit ditipu. Saya dilempar pertanyaan oleh kondektur dengan bahasa jawa sambil menagih ongkos. Ngomongnya cepat sekali. Benar-benar ngga ngerti. Alhasil, saya bilang aja “ngga ngerti mas”. Lalu dia bilang “turunnya di mana”.. oh… saya bilang “malioboro”. Saya kasih uang 5.000. tapi dikembalikannya 2.000. Harusnya kn 2.500. huh. tp tak apalah. hehe..

Dari Malioboro, saya jalan sampai losmen. Cape juga. Sesampainya di losmen, saya titiduran bentar. Tapi karena sudah waktunya makan siang, kami bertiga memutuskan untuk keluar cari makan. Sampailah di Malioboro. Entah kenapa kami memilih tempat itu. Sidik makan gudeg komplit yang keliatannya tidak komplit. Sedangkan saya dan rian makan mie ayam. Minumnya? sudah pasti teh (pasti manis). Rasanya: Kata Sidik, gudednya biasa saja. tapi harganya tidak biasa!! 17.000 kalo ga salah. Mie ayam? gak enak! kuahnya cairr sekali! harga sih murah, tp es tehnya mahal! shit! biarlah..

Selepas makan, kami memutuskan jalan-jalan sambil foto-fotoan lah. Pertama ke stasiun dan kami popotoan di bawah terik matahari. Sesudah dari sana, kami penasaran dengan Tugu Jogja. Kami harus jalan dan lumayan juga! lumayan jauh! Lalu ada apa di Tugu? biasa saja… sial,udah jalan jauh2.. Tugu nya biasa aja. Gede juga ngga. Kami pun memutuskan untuk balik lagi.. jauh lagih.. huh! Tujuan kami berikutnya langsung saja losmen karena udah benar2 capek. Sesampainya di losmen, hanya ada satu kata untuk saya: tidur!! ah…

Bangun-bangun sudah Maghrib.. Setelah sholat, aga maleman dikit, kami memutuskan untuk mencari makan di luar sekaligus cari-cari barang untuk oleh-oleh.. Oya, saudara saya, A Rian yg kuliah di Jogja mau ke losmen malem ini. Setelah siap berangkat, kami langsung menuju Malioboro. Cari-cari barang untuk oleh-oleh. Alhasil saya dapet beberapa baju dan gantungan kunci..  mh, sepertinya emang harus dengan bahasa Jawa agar tawar-menawar bisa berjalan dengan baik. Setelah dapat semua barang, kami cari makan. Tempat makan yang kami hindari: Lesehan di Malioboro. Katanya harganya sangat mahal. Khusus harga turis. Kami pun keluar dari area Malioboro. akhirnya kami menemukan tempat makan. Ada ayam penyet, ada juga soto apa sih lupa namanya. itu lah. Sidik dan Rian pesan soto, saya telor penyet.. hehe, murah meriah gan. Rasanya? standar, biarlah, yang penting makan!

Saat berjalan menuju losmen, a ian (panggilan a rian) sms. Ternyata ia sudah sampai di Losmen Fadel. Saya bilang tunggu, saya masih di jalan. Pas di Sosrowijayan, ternyata ia dan satu temannya sedang nunggu di depan minimarket tempat saya beli susu. Akhirnya saya ajaklah mereka ke losmen. Yah, ngobrol2 lah.. Ga terlalu lama, karena katanya mau jenguk siapa gitu.. di RS. nah, rencana kami berikutnya ialah ke Kopi Joss! Kopi yang dimasukin areng panas. unik kan? yeah! Ya, agak maleman, kami menuju tempat itu. Melewati Jalan Sarkem yang terkenal itu. wew! udah jam segituh, yg ada yang tua2…haha.. sesampainya di tempat kopi jos itu.. huwaw! rame sekali… padahal bukan weekend! di tempat lesehannya yang berjejer panjang, penuh dengan anak muda! udah kaya lagi tahlilan aja. Kami pun cari tempat duduk. tapi bukan di lesehan, melainkan di angkringannya saja. Kami pun pesan Kopi joss. Rasanya? joss… sama saja seperti kopi biasa.hehee… ngemilnya gorengan. nasi kucing juga ada…

Selepas dari sana, kami menuju losmen lagi. sempat foto-foto bentar langsung balik deh ke losmen. Sesampainya di losmen, hareudang bukan main. Saya memutuskan untuk mandi dahulu sebelum tidur karena hareudang sekali.. Ah, setelah mandi, saya langsung menuju tempat tidur. Besok masih ada perjalanan lagih. apa? Pantai!! yeah!!

ESOK HARI

Sesudah solat Subuh (Solat teu nya?) hehe.., kami packing-packing barang bawaan karena rencana kami ialah: seharian bermain di pantai lalu malamnya langsung naik kereta menuju Bandung. Ini memang di luar rencana sebelumnya di mana kami berencana satu hari lebih lama di Jogja. Namun karena tidak tahu mau ke mana lagi, jadi kami putuskan untuk pulang di hari kedua di Jogja ini. Kemudian saya dan Rian mencari tempat penyewaan motor karena ke daerah pantai tersebut sulit jika naik kendaraan umum *kayaknya harus hitchhiking*. Jadi, lebih enak kalau nyewa motor saja. Akhirnya kami pun dapat tempat penyewaan motor tersebut. Selama 12 jam harganya Rp 50.000. Sayang memang jumlah kami ganjil. Tapi mau gimana lagi. Hajar sajah!

Akhirnya kami segera meninggalkan Losmen Fadel, losmen yang cuma kami tempati satu malam. Oiya, kenapa kita bawa semua barang bawaan ke pantai? karena waktu check out ialah jam 12 siang. Jadi mau tak mau kita kudu bawa barang bawaan kita dari sekarang. Sebelum berangkat, kita foto-foto dulu di ruang tamu losmen bersama si penjaga, siapa y lupa namanya. Ya pokonya dia yg saya minta pinjam sajadah, saya minta pinjam sisir. Maka berikutnya terjadi banjir air mata (ini mah bohong).

Kami bertiga akhirnya berangkat menuju pantai-pantai tersebut, di daerah Wonosari, Gunung Kidul kalo ga salah. Saya boncengan dengan Rian, Sidik sendiri, soalnya dia bawa backpack yg berat. Di perjalanan, sekitar 10 menit perjalanan, kami sarapan dulu. Kenapa? karena kami lapar. Ada sebuah gerobak dengan tenda di pinggir jalan *ya iya atuh di pinggir jalan, kalo di tengah mah udah ketabrak mereun* GARING. Sedia gado-gado dan Indomie rebus. Makanlah kami, Rian dan Sidik makan gado-gado, kalo saya indomie saja. (takit ga enak gado-gadonya) Kalo indomie mah ga mungkin beda kn ya rasanya… Tapi kata sidik, gado-gadonya itu enak. harganya 6.000. Kami juga ngobrol ama si bapa dan ibu penjualnya yang sudah agak tua. Kami bilang mau ke pantai sana. Terus si ibu bilang, di Pantai Baron ada tempat asyik, terus di sana ada yang jual makanan2 laut kaya kepiting dengan harga murah! sayangnya saya ga suka makanan laut. mmphh..

Setelah mengisi perut, kini giliran motor yang diisi. Diisi apa? ya bensin! Selanjutnya, perjalanan dimulai! yeah! Kami benar-benar belum pernah ke daerah sana sebelumnya. Percayalah! Jadi ini benar-benar sebuah petualangan! Saya sangat suka ini! Kami melewati daerah yang berkelak-kelok seperti di Cipatat atau di Puncak. Kami bertanya pada penduduk setiap ada belokan-belokan besar yang tidak ada petunjuknya. Beberapa menit sebelum sampai, kami bertemu dengan trunk tanki yang biasa bertuliskan Pertamina, namun ini lain tulisannya adalah “Pertaminum” hahaha. Tentunya kami tidak akan membiarkan begitu saja momen ini. Jeprettt! Setelah sempat kesal karena merasa tidak nyampe-nyampe… akhirnya… kami sampai di gerbang wisata pantai tersebut. Dari Kota Jogja, kira-kira kami menghabiskan waktu selama  2,5 jam. Kami bertiga harus membayar Rp 8.000 katanya. *jumlah yang aneh ya buat bertiga?!*

Ternyata memang banyak pantai di sini. Ada Drini, Sundak, Krakal, Kukup, Baron. Kayanya ada yang blm kesebut. Lupa. Baron belok kanan. Kukup lurus. Sedangkan sisanya belok kiri. Karena tujuan pertama kami ialah Krakal, maka kami pilih belok kiri. Setelah sempat kesal karena ga nyampe-nyampe.. akhirnya.. ombak laut Samudra Hindia itu melambai-lambai kepada kami. yeah!! kami sampai di Pantai Krakal. Motor langsung di parkir. Tanpa pikir panjang kami langsung menuju pantai yang benar-benar sepi itu. Tidak sabar seindah apa pantai yg kata Mas Ayub paling oke di Jogja itu. Kesan pertama, mmh… bersih sih, tapi banyak karang, jadi kalo kita injak rada-rada sakit. Kami pun buka baju, berenang-renang kecil. Kami melihat ada sekelompok orang yang berenang juga di ujung sana. Lumayan jauh. Kami coba untuk ke sana, berjalan.. Aha, meskipun tidak sampai pada kumpulan orang yang sedang berenang itu, kami menemukan spot yang kayanya enak untuk dipake berenang.

Whoaa! airnya jernih! kaya di kolam renang.. Mmhh.. bener-bener deh. Pantai terbaik yang pernah saya datangi di Indonesia (seriusan) belum pernah sebelumnya saya liat pantai sebagus ini. Kami pun berenang-renang sepuasnya. Pantai serasa milik kami sendiri karena tidak ada lagi yang berenang. Hari semakin siang. Sekitar jam 1-an (ya, kami tidak Shalat Jumat, karena ribet mandi-wudu-lalu berenang lagih karena blm puas). Ya, jam 1 akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi bermain air. Oya, tentu kami juga tidak lupa foto-foto di sana. Kebetulan di dekat sana ada pemandian, mandilah kami di situ. Biaya pemandian sekitar 2ribu atau 3ribu gitu, saya lupa. Berikutnya kami akan mendatangi pantai-pantai lain. Kami pun beranjak dari Krakal.

Berikutnya kami menuju Kukup dan Baron. Tapi karena sepertinya waktunya tidak cukup, langsung aja ke Baron. Karena Rian dan Sidik juga sudah lapar. Ada cerita menarik, saat menuju Baron, motor yang saya kemudikan menabrak ayam yang sedang menyebrang hingga kelepek2 di jalan. *Maafkan saya yam, lagian kenapa kamu juga nyebrang ga liat kanan-kiri dulu!?*Sampailah kami di Baron. Mmh,, pantainya biasa saja. ada beberapa kapal nelayan. Tapi ada aliran dari laut menuju tebing-tebing gitu, seperti sungai. Nah, di situ ada bule-bule lagi berenang. Ternyata mereka dari Spanyol. Sempat menyapa kami dan meminta Rian untuk membantu mengabadikan kegiatan mereka bermain air. Setelah itu, kami menuju tempat penjualan makanan laut. Ada kepiting, Udang, Kakap Merah, dll lah. Dan harganya murah gan! Sidik dan Rian membelinya untuk di makan. Jadi di warung makannya, tinggal beli nasi dan minuman. Mh.. sayangnya saya tidak suka aneka makanan laut, sayang seribukali sayang. Yasudah lah.

Setelah kenyang (kecuali saya), kami bertiga memutuskan langsung pulang. Sebelum mencapai gerbang, kami melihat ada belokan dengan petunjuk bahwa ke sana adalah ke arah Jogja. Dengan jalan yang baru diaspal, kami memilih jalan situ saja. Terus saja kami mengikuti jalan utama.. jalanan benar-benar sepi, tidak seperti waktu berangkat. Hingga akhirnya kami menyadari bahwa kami melintasi jalan yang berbeda dengan saat berangkat. Akhirnya kami pun sampai lagi di Jogja dengan selamat. Alhamdulillah.

Kami menuju daerah yang banyak menjual bakpia. Untuk oleh-oleh.. Setelah bakpia dibungkus, kami menuju Stasiun Lempuyangan. Saat itu kira-kira pukul 17.30 lah. Jadi, Sidik bersama barang-barang kami ditinggal di stasiun. sedangkan saya dan Rian mengembalikkan motor. Bagus kan strategi kami? heheh.. Ah, motor pun sudah kami kembalikan dengan kondisi body dan bensin sesuai dengan kondisi awal. Saya dan Rian naik becak menuju stasiun, karena sudah tidak kuat lagi jika harus berjalan..

Sampai di stasiun, saya dan Rian langsung menuju Mushola, tempat Sidik menunggu. Kami beristirahat sambil menunggu loket dibuka. Ya, loket dibuka satu jam sebelum kereta berangkat. Kali ini tiket tidak ada nomernya, karena si kereta start di Kediri. Itu artinya kami harus bersaing dengan penumpang lain untuk mendapat tempat duduk. Nikmati saja… Saya mencari tukang nasi goreng di luar stasiun, karena hanya saya yg belum makan dari siang.hehe.. Dapat juga. Makanlah saya dengan lahap. nyam-nyam-nyam.. Sesudah itu saya kembali ke mushola untuk menunggu kereta datang. Akhirnya loket dibuka. Kami membeli tiket dengan harga yang sama waktu kami berangkat. Yaitu Rp 24.000. Menunggu dan menunggu, akhirnya kereta itu pun datang! dan,, keretanya pun penuh.. kami pesimis bakal langsung dapat tempat duduk. Tapi yang penting, kami masuk dulu.

Ternyata benar, kami berdiri. Siapa yang pertama dapat tempat duduk? dialah Sidik. Jadi ia hanya berdiri sekitar 15 menit-an. Termasuk beruntung. Tapi tidak lama kemudian, sekitar 10 menit kemudian, saya dan Rian pun kebagian tempat duduk. Alhamdulillah. Kami cukup beruntung hanya berdiri dalam beberapa menit. hehe. Ada cerita menarik. Di tempat duduk Sidik, ada seorang ibu rela duduk di bawah demi anaknya yang sedang terlelap. Luar biasa..

Saya pun tertidur-bangun-tertidur-bangun dan begitu seterusnya selama perjalanan. Hingga akhirnya kereta sampai di Stasiun Kiaracondong. Di sana sudah ada tetehnya Sidik yang menjemput pakai mobil. Kami melewati kembali jalanan Bandung yang penuh angkot. Ya, angkot penyebab kemacetan karena ngetem seenaknya yang tidak akan kamu temukan di Jogja.

Hwaa.. perjalanan yang sangat berkesan. Benar-benar tidak akan terlupakan. Mungkin inilah perjalanan backpacking pertama saya. Terimakasih untuk orang-orang yang sudah membantu selama di perjalanan maupun di Kota Jogja. Terimakasih rekan-rekan perjalanan saya, Rian Irawan dan Sidik Permana. Mudah-mudahan saya dapat menulis cerita-cerita perjalanan saya berikutnya. I Love Jogja!

Ekspedisi Pecel Ayam #4: Jalan Hasanuddin (Samping Borromeus)

DSC_0270
Dalam keadaan kosong, karena sudah larut malam.

Tak terasa, sudah 4 minggu berlalu sejak ekspedisi edisi pembuka. Tujuan kali ini ialah pecel ayam yang terletak di samping RS Borromeus (terkenal karena selalu dipenuhi pengunjung). Ya, setiap melewat jalan ini, pasti kami menemukan kumpulan orang yang sedang menunggu giliran untuk bisa duduk. Atas dasar itulah kami ingin mencoba pecel ayam ini. Kami ingin tahu, apa kelebihan tempat ini sehingga kerap dipenuhi pengunjung.

Kali ini ekspedisi dilakukan tidak seperti biasanya. Jika sebelum-sebelumnya dilaksanakan setiap Jumat, kali ini kami berangkat hari Sabtu. Saya berangkat dari rumah setelah Magrib menuju rumah Ardhy. Hari itu ia baru pulang dari Jakarta karena sedang melaksanakan job training di Metro TV. Kami berdua langsung menuju lokasi dan janjian dengan Riko di sana. Sedangkan Lingga, ia bilang akan nyusul karena sedang ada date dengan kekasihnya, Lisye. ehe.

Setelah berjumpa Riko di parkiran, kami memutuskan untuk mencari tempat duduk yang kosong. Ketika suasana benar-benar ramai. Penuh sekali. Banyak yang antri untuk duduk. Wow! Kemudian ketika luak-lieuk.. eh, ada sepasang jurnal-jurnil di sana yang sedang makan. Ya, mereka adalah Bang Ipul dan Meong. Mereka terlihat sedang menyantap makanan dengan nikmat. mm……. setelah ngobrol-ngobrol sebentar dengan mereka, kami pun mencari tempat duduk. Ah, akhirnya ketemu.. posisinya ada di bagian luar tenda. Tapi tak apa. Yang penting bisa duduk. Lalu saya dan Riko memesan makanan. Saya pesaned (ceritanya past tense) ayam dada + tahu. Tapi apa daya, ternyata tahu tempe telah habis. Ya sudah, saya pesan ayam saja. Begitu juga Riko. Sedangkan Ardhy pesan Lele.

DSC_0255DSC_0256Pesanan datang! Kami bertiga sangat penasaran, bagaimana sih rasanya hingga mampu menarik banyak pengunjung. Sedikit berbeda dari biasanya, pada pecel ayam ini saya tidak menemukan kol. Selain sambal, ayam hanya ditemani dedaunan gitu lah. Entah habis, entah memang seperti itu penyajiannya. Saya mencocol potongan ayam (biasanya tahu untuk cocolan pembuka) ke sambal. Mmm, ada yang beda dengan sambalnya, tapi apa ya? Rasanya asam dan sedikit pedas. Tapi kenapa sambalnya terasa beda ya. Seperti gak ada filter gitu rasa sambalnya. hehe. Setelah saya cermati, saya akhirnya tau, yang berbeda dari sambal ini ialah tidak adanya campuran terasi. Bagaimana dengan ayamnya? wow, lezat!! ayamnya benar-benar renyah, dagingnya oke, rasanya oke. Menurut saya ini merupakan ayam yang paling enak dibanding tempat-tempat sebelumnya. Tapi saya kurang sreg dengan sambalnya. Ga pake terasi soalnya.

Riko bilang tempat ini merupakan pecel ayam terbaik. Ardhy juga memuji rasa lelenya yang benar-benar renyah. Sedangkan saya sendiri, saya suka ayamnya, tapi sambalnya kurang pas menurut saya. Bagaimana dengan bebeknya? Bagi penyuka bebek, sepertinya tempat ini wajib didatangi karena mungkin rasanya renyah juga (seperti ayam dan lelenya). Kami pun menghabiskan makanan kami.

Sesudah makan, kami ditemani Bang Ipul dan Meong untuk ngobrol-ngobrol. Selang berapa lama, duet Li-Li (Lingga Lisye) datang juga. Kami pun melanjutkan acara ngobrol-ngobrol. Hingga ketika Bang Ipul hendak pulang dan sudah menaiki motor, datanglah pengamen bencong. *hiiiii.. Ia ngamen tepat di sebelah Riko. Riko meminta maaf karena tidak memberi. Tapi si tulang lunak itu terus bernyanyi. Hingga akhirnya salah satu dari kami memberinya uang. Setelah diberi uang, ternyata ia masih mengharapkan pemberian dari Riko. Riko pun kembali bilang punten. Taukah Anda apa yang kemudian terjadi? Bibir si bencong mendekati pipi Riko dan hendak menciumnya… Masih teringat oleh saya bagaimana suaranya terdengar jelas “mmmuahhhh”. ahahahaha. Rian pun menjadi bahan tertawaan kami karena ketika hendak dicium, ia bukannya menghindar, malah memejamkan mata sambil gemetar. hahahha.. Riko.. Riko.. ;D

Secara keseluruhan tempat ini perlu dicoba karena rasa ayamnya yang enak. Namun jika Anda mementingkan urusan kenyamanan, saya rasa Anda perlu menunggu hingga malam karena sudah kosong (tapi makanannya juga habis) haha. Selamat mencoba, deh!

Ekspedisi Pecel Ayam #3: Cak Imam (Jalan Terusan Buah Batu)

DSC_0127Perburuan berlanjut. Kali ini tujuan kami ialah Pecel Ayam di Jalan Terusan Buah Batu. Saya mendapat informasi tentang tempat ini dari salah satu teman SD, Dimas Nugroho. Menurutnya, sambal pecel di tempat ini enak, cenderung juara malah. Maka itu saya masukkan pula ke dalam list tempat-tempat perburuan.

Malam itu, saya berangkat dari rumah bersama Lingga yang sudah berada di rumah saya sejak siang. Kami janjian bertemu Rian di SMAN 4, karena sebelum ke lokasi utama, kami berencana untuk mendatangi pameran karena Rian ingin membeli DVD Rom. Sedangkan Ardhy, sorenya bermain futsal di Jatinangor. Jadi ketemuan di lokasi saja. Setelah bertemu, berangkatlah kami. Ketika Rian mencari-cari DVD Rom, saya dan Lingga memutuskan untuk ngemil (apa makan ya?) baso tahu yg jualan di depan gedung Landmark- tempat berlangsungnya pameran. Setelah kenyang dan Rian memutuskan untuk tidak jadi membeli DVD Rom di sana, kami pun berangkat menuju lokasi.

Kami bertiga janjian dengan Ardhy di depan Carefour Kircon. Tapi berhubung sudah lapar (lah, bukannya td baru makan bastah?!), kami memutuskan langsung ke lokasi saja. Ardhy suruh nyari sendiri saja tempatnya. Ga susah ko nyarinya. Letaknya berada di Jalan Terusan Buah Batu, tidak jauh dari perempatan Buah Batu-Soekarno Hatta. Jika dari arah Kircon, di perempatan belok kiri. Nah, jalan terus hingga menemukan Pecel Lele Ayam di sebelah kiri. Langsung ada ko. Ketika sampai, saya membaca tulisan “Cak Imam”. Oh.. ini namanya Cak Imam……

Kesan pertama saat masuk, “lumayan bersih ya tempatnya”. Beda dengan tempat Pecel Ayam yg lainnya. Lalu apa lagi yang beda? Di meja ada menu dan nota untuk pemesanan! weks, baru pertama kali saya melihat ada tempat pecel ayam yang pakai kaya begituan. haha. Baiklah, kita coba. Saya memesan menu andalan: Ayam+tahu. Rian: Ayam (ajah). Lingga: Soto (katanya sedang ingin yang berkuah). Di sini ada nasi uduk loh. Jadi saya pesan nasi uduk. Selang berapa lama, Ardhy datang. Ia masuk sambil bilang “assalamualaikum” (ini bohong). Kemudian ia memesan juga. Soto ayam, biar ada suasana berbeda katanya.

DSC_0119DSC_0128Pesanan datang. Disajikan dengan menarik. Piring plastik dan juga ceper. Rangkaian ayam, sambal, dan kolnya rapi. Sotonya juga terlihat enak. Langsung saja saya coba sambalnya dengan tahu. mm… tidak terlalu istimewa menurut saya. Tapi bisa dibilang lumayan lah. Bumbunya tidak jauh berbeda dengan bumbu pecel ayam pada umumnya. Ada rasa kacang, tomat, terasi, dan rasa pedasnya juga lumayan terasa. Ayamnya lumayan. Tapi dengan sajian yang rapih serta tempat yang bersih juga sudah membuat kami makan dengan nyaman dan nikmat. Apa kata mereka?

Rian d’masiv : “bumbunya mirip sama yg di Wastukecana, biasa aja. Tapi tempatnya rapih dan enak,” ucapnya.

Lingga Boy Jati : “Sotonya enak.., ”

Ardhy : “ngeunahhh siahh..!”

*Harga: Nasi uduk+ayam+tahu = Rp 9.000

Jadi intinya, menurut saya tempat ini enak untuk mengajak teman-teman yang jumlahnya agak banyak karena tempatnya lumayan bersih dan nyaman (dibandingkan tempat pecel ayam lain). Rasanya pun tidak mengecewakan. Walau tidak tergolong isitimewa, tapi termasuk enak kok!

Selamat mencoba ah brader…!!

Ekspedisi Pecel Ayam #2: Jalan Wastukencana

DSC_0103Berjumpa kembali dalam Ekspedisi Pecel Ayam edisi ke-2. Kali ini, tujuan kami ialah Pecel Ayam/Lele yang terletak di Jalan Wastukencana (tepatnya pertigaan Jalan Linggawastu). Masih belum tau? Pokonya kalau dari arah Cihampelas, sebelum SPBU, sebelah kiri jalan. Info awal mengenai pecel ayam ini saya dapatkan di salah satu situs yang membahas makanan-makanan yang enak dan murah di Bandung. Info yang saya dapatkan, pecel ayam ini sangat laku. Buka pukul 17.00, pukul 20.00 sudah habis. Wow! Itulah alasan mengapa saya penasaran terhadap pecel ayam ini.

Kali ini tim bertambah satu. Selain saya, Ardhy, Rian, ada juga Lingga. Dengan begitu jumlah Karucel (Kawanan Pemburu Pecel) sementara berjumlah 4 orang. Ayo yang lain gabung! Jumat itu- hari tetap kami berwisata pecel- kami berencana menonton Public Enemies di Ciwalk XXI. Sesudahnya, baru kami menuju lokasi utama, Pecel Ayam!

Ketika sampai, kami pun memarkirkan motor tepat di sebelah tenda pecel ayam tersebut dengan dibantu seorang tukang parkir nyentrik. Tenda terisi penuh. Tapi kebetulan ada yang sudah selesai makan dan meninggalkan tenda. Langsung saja kami memesan, saya seperti biasa= ayam+tahu, Rian= ayam saja, Ardhy= ayam +tempe, dan Lingga=Lele+tempe. Semuanya meminta si kol digoreng saja. Akhirnya.. ada juga yang memesan lele. Tapi fokus kami tetap sambalnya. Sambil menunggu, kami melihat-lihat suasana di dalam tenda dan berfoto-foto. Oia, si tukang parkir nyentrik tadi minta difoto! *jepret, jepret! Ardhy dengan gayanya memotret si tukang parkir yang memilih gaya “Duduk di Motor Batur”.

“nih pak, hasilnya”, kata Ardhy.

“Alhamdulilah..”, balas si bapak.

Tak lama, pesanan pun datang. Tapi si mas lupa menggoreng kol nya. Kami pun protes. Tak terima begitu saja. Setelah kol digoreng, kami pun siap menyantap. Kebetulan memang sudah lapar. Saya pun mencocol sobekan tahu ke sambal. Kesan pertama, mm… lumayan, walau tidak terlalu istimewa. Makanlah saya dengan lahap. Hingga akhirnya saya merasakan bahwa yang menonjol dari sambal itu ialah rasa pedasnya. Ini kadar pedas yang saya suka! tidak sangat-sangat pedas, tapi pas menurut saya.

DSC_0093DSC_0091

Sambal ini terasa seperti sambal pecel atau di Jawa Tengah dan Timur disebut penyet, pada umumnya. Terbuat dari hasil ulekan tomat, terasi, kacang, cabai dan sebagainya. Seperti yang sudah saya sebutkan tadi, rasa pedas cukup menonjol di sini. Dan menurut saya pribadi, sambal ini tergolong sambal yang enak. Saya makan dengan sangat lahap. Hingga berkeringat! Mungkin nilai plus juga datang dari porsi nasi yang pas serta ayamnya juga yang nikmat. Jika dibandingkan dengan edisi pertama kemarin, sambal ini memang masih kalah. Tapi secara keseluruhan, saya lebih memilih yang ini! Kecuali jika saya memang ingin makan dengan sambal yang nikmat, mungkin saya akan menuju Buah Batu. Bagaimana penilaian teman-teman saya?

Ardhy: “Sambalnya biasa aja, tapi ayamnya enak!”

Rian: “Sambelna ngeunahan nu di Buah Batu, tapi hayam jeung porsi nasina mending iyeu”

**translate: “Sambelnya enakan yang di Buah Batu, tapi ayam dan porsi nasinya mending yang ini”

Lingga: (lupa uy belum nanya)

Menurut saya, Anda-anda perlu mencoba pecel ayam ini. Selain karena rasanya yang enak, lokasinya pun strategis. Ada di tengah kota. Jika sekitar pukul 7 malam Anda merasa lapar dan ingin makan, cobalah sesekali ke tempat ini. Sepertinya tempat ini memang selalu penuh, tapi tidak sampai mengantri.

Harga: Nasi+Ayam+Tahu = Rp 9.000

Ketika hendak beranjak pulang, kami berfoto-foto dulu di luar tenda sambil ditingalikeun ku si bapak tukang parkir tadi. Kami pun mengobrol-ngobrol kecil dengan si bapak. Begini kira-kira obrolan antara Rian dan si bapak:

*sub: indonesia

“Kapan dicetak fotonya?” tanya si bapak.

“Nanti diupload di Facebook pak,” ujar Rian.

“Apa itu Facebook?” tanya si bapak lagi.

“Semacam goreng-gorengan pak!” jawab Rian.

Sekian untuk edisi kedua ini. Sampai bertemu di edisi berikutnya, dadah!!

Ekspedisi Pecel Ayam #1: Buah Batu (seberang Ouval)

DSC_0006Berhubung saya sedang tidak ada kerjaan dan memang penggila pecel, saya memutuskan untuk mengadakan Ekspedisi Pecel Ayam di Bandung. Untuk ekspedisi pertama ini, saya menjatuhkan pilihan pada Pecel Ayam yang terletak di Jalan Buah Batu, tepatnya seberang Ouval Research. Ups, sebelumnya akan saya perkenalkan dulu Tim Ekspedisi Pecel edisi pertama ini. Saya ditemani oleh dua teman dan kebetulan kami bertiga sama-sama baru menyukai pecel ayam ketika duduk di bangku kuliah. kamana wae ateuh? Mereka adalah Ardhy dan Rian.

Saya sudah 3x makan di tempat ini. Menurut saya, untuk sementara sambal pecel di tempat ini masih yang terbaik. Karena itu pula, saya memilihnya sebagai tujuan dalam edisi pembuka Ekspedisi Pecel Ayam (selain karena rindu).

Setelah berkumpul di rumah Ardhy, kami langsung caw menuju tempat tersebut. Lokasinya sangat sangat jauh dari rumah Ardhy (naik motor, 2 menit nyampelah). Setelah sampai, kami langsung memesan pesanan kami masing-masing yang rada-rada mirip tapi tetap beda. Seperti biasa, saya memesan menu andalan yaitu: nasi+dada ayam+tahu. Ardhy memesan nasi+dada ayam+tempe. Sedangkan Rian: nasi+paha ayam saja. Bisa disimpulkan: saya dan Ardhy penyuka dada. Rian penyuka paha! Oiya, kolnya digoreng ya mas!

DSC_0014Akhirnya, rasa rindu itu pun terobati dengan datangnya pesanan kami. Saya langsung menyobek bagian dari tahu lalu mencocolkannya ke sambal yang fenomenal itu. mantabb.. rasanya masih sama! enakk….Terbuat dari apa saja sih sambal itu? mari kita bahas.

mm.. yang pasti sambal ini terbuat dari tomat, cabai, terasi… lalu apalagi ya? ahh, saya bukan Bondan Winarno- yang bisa langsung tahu komposisi detail sebuah makanan. Rupanya rasa asam pada sambal tersebut yang membuat nikmat. Ya, rasa asam berasal dari tomat yang tampak dominan di komposisi sambal tersebut. Bahkan potongan-potongan kulit tomat dapat kita temukan di sambal tersebut.

“rasa asam dari tomat tersebut yang membuat sambal ini terasa segar”, ujar Ardhy.

Kalo kamu gimana yan?

“enak, ada asem-asemnya..”, kata Rian, yang baru pertama kali makan di sana.

Bagi Anda penyuka cita rasa pedas sepertinya tidak akan cocok dengan sambal ini karena rasanya tidak begitu pedas. Ya, semuanya tergantung selera. Setiap orang pasti memiliki selera yang berbeda-beda terhadap suatu makanan. Namun bagi saya, sambal ini tetap paling oke!! (kekeuhnya maneh?!) Oya, sambal di tempat ini bentuknya agak cair-cair becek.

FYI: Bila Anda menemukan sambal pecel yang kental, berarti sambal tersebut dibuat di tempat dagangnya langsung. Jika bentuknya agak cair, berarti sambal tersebut dibuat di rumah sehingga si pedagang tidak perlu lagi mengulek di tempat ia berdagang. Buat saya sih sama aja. Tapi salah satu teman saya ngga suka kalau bumbu pecelnya kental. Kaya bumbu batagor katanya.. hehe.. ya kan Fu?

Bagaimana dengan rasa ayamnya? ya.. standar la ya rasa ayam mah. Kalau Lele? ga tau, da ga suka! Dilihat dari segi kuantitas, sepertinya satu porsi Anda akan merasa kurang (ukuran laki-laki). Nasinya yang tidak banyak dan ayamnya pun tidak terlalu banyak dagingnya. Namun jika Anda tidak mengutamakan itu dan cenderung mengharapkan sambal yang nikmat, Anda patut mencobanya..

Harga: Nasi+Ayam+Tahu = Rp 8.500

Oke saudara-saudara, sekian untuk edisi kali ini. Sampai bertemua di Ekspedisi Pecel Ayam berikutnya. adioss..sah!