Category Archives: # Olahraga

Pergantian Kiper Ala Van Gaal, Brilian atau..

Jasper Cillessen digantikan Tim Krul di Piala Dunia 2014. (REUTERS/Marcos Brindicci)
Jasper Cillessen digantikan Tim Krul di Piala Dunia 2014. (REUTERS/Marcos Brindicci)

Adu penalti antara Belanda dan Kosta Rika mungkin akan menjadi salah satu yang paling diingat di Piala Dunia. Bagaimana tidak, pelatih Oranje, Louis Van Gaal melakukan hal tak lazim jelang adu tos-tosan tersebut. Pada pengujung extra time atau tepatnya 120+1, kiper utama Jasper Cillessen ditariknya, untuk digantikan oleh Tim Krul, yang notabene merupakan kiper cadangan.

Bisa jadi, ini merupakan satu keputusan agak gila di sepakbola. Bagaimana bisa, kiper yang bermain total sepanjang 120 menit, dan menciptakan clean sheet, diganti oleh kiper yang sepanjang laga hanya duduk di bangku cadangan. Spesialis penalti? Rekornya di level klub –bersama Newcastle United di kancah Premier League– saja hanya menahan dua (dari 20) penalti.

Tapi kenyataan (atau mungkin keberuntungan) akhirnya berpihak pada Krul dan Belanda. Dalam debut tak wajarnya di Piala Dunia itu, Krul menahan dua penalti pemain Kosta Rika, Bryan Ruiz dan Michael Umana. Hebatnya lagi, arah bola dari tiga penendang lainnya pun mampu dia baca, meski bola tetap bersarang di gawang. Oranje pun dibawanya ke semifinal.

Yang menjadi pernyataan adalah, apakah saat melakukan pergantian tersebut, Van Gaal tahu soal catatan buruk Krul saat menghadapi penalti bersama klubnya? Tapi, tahu atau tidak, saya rasa Van Gaal tak peduli, karena dia yang tahu betul tentang seluk beluk timnya, termasuk spesialisasi dari para pemain asuhannya. Dalam hal ini, Krul memang dipersiapkan untuk adu penalti.

Dan, di saat orang-orang memuji keputusan brilian Van Gaal, saya ingin mencermatinya secara dari sudut pandang lain. Benar, apapun itu, keputusan Van Gaal telah membawa Belanda sukses melaju ke semifinal Piala Dunia 2014. Dan, jika pun Krul ternyata gagal, toh dia adalah Van Gaal, “Si Tulip Besi” yang tak akan menyesali keputusannya dengan menarik kiper utama di saat genting.

Tapi, apa yang saya permasalahkan adalah mental kedua kiper itu sendiri, khususnya Cillessen. Kiper asal Ajax berusia 25 tahun itu menjadi kepercayaan di bawah mistar gawang sejak pertandingan perdana fase grup dan tampil baik. Dari tiga laga fase grup plus babak 16 besar, gawang Belanda bobol sebanyak empat kali. Beberapa penyelamatannya pun terbilang gemilang.

Dan, di saat-saat menentukan, Van Gaal malah menarik kepercayaan dan memberi kesempatan pada pemain lain. Saya pikir, bagi kiper, kepercayaan dan mentalitas bertanding sangatlah penting. Sekalinya tak dipercaya bukan tak mungkin, mentalnya drop sehingga gagal kembali menunjukkan permainan terbaiknya. Jadi, konsistensi permainan menjadi taruhan di sini.

Begitupun bagi Krul. Menjadi kiper kedua, di belakang pemain yang lebih muda yang “hanya” berlaga di Eredivisie bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Kegemilangannya pada adu penalti melawan Kosta Rika sendiri boleh jadi meningkatkan kepercayaannya. Tapi, bukan tak mungkin kepercayaannya kembali turun, setelah Van Gaal dengan tegas mengatakan, “Tak usah ditanya lagi, Cillessen yang akan main pada laga selanjutnya (pertandingan semifinal kontra Argentina).”

Dinamika inilah yang mungkin menjadi kekhawatiran sebagian orang –termasuk saya– jelang partai semifinal melawan Argentina. Ya, semifinal. Masih ada dua tahap lagi sebelum Oranje bisa memastikan titel Piala Dunia mereka. Mungkin, jika memang senang berjudi, akan lebih pas jika Van Gaal melakukannya di partai final, karena setelahnya, kedua kiper tak perlu terbebani soal “siapa yang paling dipercaya”. Bagi Van Gaal sendiri, itu akan menjadi perpisahan hebat.

Apakah Cillessen tetap tampil dengan permainan terbaiknya, atau justru menurun karena dinamika akibat adu penalti kemarin? Lalu bagaimana dengan Krul, yang ternyata memang dipersiapkan khusus untuk adu penalti? Apakah dia bakal kembali dipercaya saat Belanda melakoni tos-tosan? Yang jelas, persoalan kiper tidaklah simpel, terlebih di turnamen sebergengsi Piala Dunia. Jawabannya akan terlihat pada laga kontra Argentina, 10 Juli 2014 mendatang.

Saya dan Manchester United

Ada dua poster yang terpampang di dinding kamar saya saat menginjak kelas 5 SD, Timnas Jerman dan Manchester United. Ya, saya menyukai segala hal tentang sepak bola sejak masih berseragam putih-merah, tepatnya kelas 3 SD. Kenapa saat itu saya memfavoritkan Timnas Jerman, Manchester United, dan AC Milan? Karena dua teman dekat saya saat itu -mereka lebih tua dan lebih dulu mengenal sepak bola- menyukai tim-tim tersebut. Singkatnya, saya terbawa-bawa oleh mereka. Dan saya benar-benar jadi gila sepakbola. Gila pada MU, gila pada Milan, dan gila pada Timnas Jerman.

Seiring saya bertumbuh, ada dua tim pujaan kemudian yang luntur di hati saya. Pertama, Timnas Jerman. Saat kelas enam SD, sebenarnya saya masih mengidolai mereka. Der Panzer adalah kojo (jagoan) saya di Piala Dunia 1998. Saya masih ingat, betapa sedihnya melihat Andreas Kopke, Jurgen Klinsmann, Oliver Bierhoff dll. dibantai Kroasia 0-3 pada babak perempatfinal. Namun setelah itu, entah kenapa, kecintaan pada Jerman terus meluntur. Piala Dunia-Piala Dunia berikutnya pun saya tak punya kojo. Mungkin, condong ke Italia. Itu pun karena saya a big fan of AC Milan, yang notabene klub Serie A.

Tim kedua adalah MU. Ini yang menarik -makanya saya taruh di judul. Sejatinya, saya adalah benar-benar penggila tim dengan julukan Setan Merah tersebut. Tak dipungkiri, selain karena terbawa-bawa oleh teman dekat saya tadi, saat itu saya adalah bocah yang benar-benar kagum pada MU saat memenangi treble winners pada musim 1998/99. Saya selalu bersemangat setiap melihat cuplikan gol Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solskjaer pada masa-masa injury time Final Liga Champions 1999, yang membawa MU membalikkan keadaan menjadi 2-1 atas Bayern Munich. Bisa dibilang, saya semakin tergila-gila pada MU, yang pada musim itu menggunakan jersey bersponsorkan Sharp, dengan strip logo-logo Umbro di bagian bahu.

Beranjak SMP, SMA, saya masih menyukai MU, meskipun klub yang paling saya utamakan untuk diidolai adalah Milan. Begitupun saat duduk di bangku kuliah, saya juga masih suka MU. Dan, segalanya pun berubah saat saya memasuki semester lima perkuliahan. Perlahan demi perlahan, saya mulai tak suka MU. Awalnya, saya juga tak mengerti kenapa. Dan, setelah saya pikir-pikir lagi, ternyata saya tak sejalan dengan mayoritas sikap fans MU di Tanah Air, atau silakan sebut oknum. Dalam pandangan saya, mereka terlalu arogan dan kerap tidak respek kepada tim-tim lain. Sesederhana itu? Cuma karena hal itu saya jadi anti MU? Entahlah.. tapi yang jelas, saya sejak saat itu, saya benar-benar bukan pendukung Setan Merah.

Hingga sekarang, terkadang saya hanya bisa senyum kasihan kalau ada fans MU yang saking cintanya pada tim tersebut -beberapa orang bilang layaknya orang Manchester asli- menjelek-jelekkan tim/fans lawan dengan cara yang bikin saya pengin bilang, “oh come on, grow up!”. Tapi, saya tekankan, tidak semuanya seperti itu. Saya pikir, ada juga fans Setan Merah yang menunjukkan sikap respek pada tim atau fans manapun yang merupakan lawan MU. Dan saya pun respek pada fans dengan tipe seperti itu. Yang jelas, saat ini, cuma ada satu klub mancanegara yang saya idolai, Rossoneri!

Manchester United 1997/1998. (Foto: Ist)
Manchester United 1997/1998. (Foto: Ist)

Wasit

Dalam suatu pertandingan sepakbola, wasit adalah pemimpin. Ia yang mengawal jalannya pertandingan agar berjalan dengan adil. Sudah semestinya wasit bersikap netral. Artinya tidak memberi keputusan yang merugikan salah satu tim. Tapi bisakah wasit selalu benar? Tidak mungkin. Wasit pun manusia. Dan manusia mana yang tidak pernah melakukan kesalahan? Tapi alasan itu tidak selamanya bisa digunakan. Wasit dalam pertandingan resmi bukanlah orang secara acak dipilih. Bukan juga orang yang sekedar menyukai sepakbola. Wasit merupakan orang-orang terlatih untuk menjadi pengadil di lapangan.

Namun, wasit kerap dimanfaatkan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab untuk memenangkan pertandingan dengan cara yang tidak sepatutnya dilakukan. Wasit disuap. Wasit diiming-imingi uang banyak agar keputusan-keputusannya menguntungkan salah satu tim. Sangat disayangkan jika permainan cantik dua tim yang berlaga harus dirusak dengan keputusan-keputusan wasit yang kontroversial. Itulah sepakbola kotor. Sepakbola yang jauh dari nilai-nilai sportivitas.

Apakah suap menjadi satu-satunya penyebab wasit bersikap tidak adil? Saya pikir tidak. Faktor lainnya ialah kemampuan wasit itu sendiri dalam memimpin suatu pertandingan. Mari lihat perwasitan Indonesia. Mudahnya begini, mengapa sepakbola Indonesia masih bisa belum bersaing di kancah dunia? Bahkan Asia. Bahkan Asia Tenggara. Salah satunya ialah karena skill yang dimiliki para pemain Indonesia masih kalah dibanding negara-negara lain yang sudah maju dalam urusan sepakbola. Begitupula dengan wasit. Kemampuan wasit maupun asisten wasit di Indonesia dalam memimpin pertandingan masih perlu dipertanyakan. Andaikan ada kompetisi wasit antar negara, saya pikir wasit asal Indonesia akan jauh tertinggal.

Masalah suap-menyuap sudah begitu lekat dengan Indonesia. Pun dengan sepakbolanya. Sehingga jika ada kontroversi yang melibatkan wasit, orang-orang kerap mengaitkannya dengan suap-menyuap. Padahal, menurut saya, tidak melulu seperti itu. Ada hal lain yang menjadi pertanyaan. Apakah wasit dan asisten wasit sudah dibekali pelatihan yang cukup? Jika ya, mengapa masih saja terjadi kesalahan-kesalahan mendasar yang dilakukan wasit dan asisten wasit? Intinya, ada dua hal penting yang perlu dibenahi dalam urusan perwasitan di Indonesia. Pertama, berantas mafia wasit! Kedua, tingkatkan kualitas pelatihan bagi para wasit! Tugas Anda adalah menjaga pertandingan yang adil dan bersih, bukan justru merusaknya.

Sensasi Dominasi

Apa yang paling diharapkan oleh fans suatu klub sepakbola? Tentu saja gelar juara. Sesungguhnya seluruh pecinta sepakbola yang fanatik pada suatu klub adalah glory hunter. Tidak mungkin ada fans yang ingin tim kesayangannya hanya bertengger di papan tengah atau bawah klasemen. Mungkin beberapa kelompok fans bersikap realistis dengan tidak berekspektasi lebih terhadap tim yang didukungnya. Biasanya ini terjadi pada fans tim medioker. Tapi tetap saja, fans mana yang tidak ingin tim kesayangannya meraih trofi? Rasanya semua ingin.

Kemudian yang menjadi menarik ialah, dengan cara yang bagaimana hingga akhirnya suatu tim meraih gelar juara. Apakah dengan mudah meninggalkan para pesaingnya di papan klasemen? Atau bersusah payah hingga harus ditentukan di pertandingan terakhir? Rasanya tentu beda. Sensasi yang didapat dari perjuangan hingga pertandingan akhir dala suatu musim tentu lebih indah. Atau keindahan tersebut juga bisa jadi mimpi buruk jika akhirnya tim yang berjuang hingga akhir tersebut gagal juara.

Kompetitif atau tidaknya suatu kompetisi bisa dipengaruhi oleh pergerakan klub-klub pada bursa transfer. Tentu saja, yang kaya yang belanja. Tengoklah Liga Spanyol. Siapa lagi kalau bukan Real Madrid yang menguasai bursa transfer. Komposisi pemain Madrid tidak diragukan lagi adalah para pemain berlabel superstar. Sedikit berbeda, Barcelona lebih mengandalkan pemain-pemain dari ‘La Masia’, akademi sepakbola Barcelona. Sudah banyak bintang lahir di akademi tersebut. Meski begitu, hal tersebut tidak menutup kemungkinan Barcelona juga melakukan aktivitas belanja pemain. Uang yang biasa dikeluarkan Barcelona pun jumlahnya tidak sedikit.

Real Madrid dan Barcelona menjadi dua tim terkuat di La Liga. Lalu bagaimana dengan tim lain? Tampaknya tidak ada yang bisa mengganggu persaingan dua tim tersebut. Paling tidak dalam tujuh terakhir di mana gelar juara hanya diraih oleh Real Madrid dan Barcelona. Terakhir kali La Liga dimenangi oleh tim selain Madrid dan Barcelona ialah pada musim 2003/2004. Saat itu Valencia berhasil meraih gelar juara, mengulang sukses dua tahun sebelumnya.

Melihat statistik dan sejarah sebenarnya sudah sejak lama La Liga didominasi oleh Real Madrid dan Barcelona. Tercatat 31 kali Madrid meraih gelar juara. Sedangkan Barcelona di urutan ke dua dengan 21 gelar. Torehan keduanya terlampau jauh dengan pemegang peringkat tiga yaitu Atletico Madrid dengan sembilan gelar juara. Jadi sebenarnya memang sudah sejak lama La Liga didominasi oleh dua tim tersebut. Masalahnya, sampai kapan dominasi ini akan terus berlanjut? Atau akan selalu seperti ini? Kejayaan dua tim besar yang sama sekali tak bisa disaingi oleh tim-tim lainnya. Tidak heran selama ini banyak ungkapan “La Liga itu kompetisi yang hanya diikuti oleh 2 tim” Siapapun berhak setuju maupun tidak. Namun yang jelas, suatu kompetisi/ liga akan semakin menarik jika di papan atas klasemen terjadi persaingan yang ketat. Bukan hanya dua tim. Tapi minimal empat sampai lima tim saling sikut untuk merebut gelar juara.

Berbeda dengan La Liga, persaingan menuju gelar juara di Serie-A dan Barclays Premiere League (BPL) lebih terasa. Kompetisi terasa sangat kompetitif dan tidak hanya didominasi oleh tim yang itu-itu saja. Persaingan di papan atas Serie-A sangatlah ketat. Ini terlihat dari perbedaan poin yang tidak terlampau jauh di antara tim-tim yang bersaing. Begitu pun dengan BPL, dinamika persaingan di papan atas klasemen begitu terasa. Maka penggemar BPL tidak asing dengan istilah THE BIG FOUR, yaitu Man.United, Arsenal, Chelsea, dan Liverpool. Meski kini mulai terusik dengan kehadiran Man.City dan Tottenham Hotspur yang ikut meramaikan persaingan papan atas.

Sesungguhnya syarat menjadi juara tidak harus kaya raya. Tidak harus belanja pemain bintang. Strategi pelatih serta integritas yang ditujukan para pemain bisa menjadi kunci keberhasilan sebuah tim untuk meraih gelar juara. Lihatlah Borussia Dortmund. Tak ada yang menyangka tim yang baru promosi ke divisi satu itu menjadi juara di musim 2010/2011. Mereka mengalahkan Bayern Munchen yang notabene diisi para pemain kenamaan. Namun sayangnya hal seperti ini masih jarang ditemukan di liga-liga ternama di Eropa. Kompetisi di Spanyol, Inggris, dan Italia masih dikuasai tim-tim besar dengan budget yang tidak mampu disaingi tim-tim medioker atau tim kecil.

Pergerakan transfer pemain yang hanya didominasi oleh satu hingga dua tim saja cukup memengaruhi nilai persaingan dalam suatu kompetisi/ liga. Kompetisi akan semakin menarik jika tim-tim pesertanya bersusah payah hingga akhir musim, hingga akhirnya muncul tim terbaik melalui perjuangan yang manis. Dan sekali lagi, uang bukanlah segalanya dalam sepakbola. Segala kemungkinan bisa terjadi. Jadi, seberapa besarkah perjuangan tim kesayangan Anda?

King Henry

Thierry Henry. Masih terekam dalam ingatan, pemain ini bermain membela Juventus pada 1999. Ia mengenakan jersey dengan nomor punggung enam. Kebetulan saat itu saya sudah menjadi milanisti dan kerap menyaksikan tayangan Highlight Lega Calcio di RCTI setiap Minggu siang. Sama sekali tidak terpikir kalau ia akan menjadi bintang sepakbola dunia. Tidak ada yang istimewa yang ia berikan bagi Juventus. Didatangkan dari AS Monaco di pertengahan musim, Henry bermain 16 kali dan hanya mencetak tiga gol.

Arsene Wenger adalah sosok yang sama sekali tidak bisa dilepaskan dari kesuksesan Henry. Dengan jeli, ia merekrut Henry dari Juventus pada musim panas 1999. Saya kira semua sepakat bahwa kepindahan Henry dari Juventus ke Arsenal ini merupakan salah satu perekrutan terbaik dalam sejarah sepakbola. Bagaimana tidak, Kini Henry adalah seorang raja bagi semua fans Arsenal. Torehan 174 gol dari 254 penampilannya sudah cukup membuat ia menjadi “yang tak terlupakan” di Arsenal. Ia membantu The Gunners dua kali meraih gelar juara liga, empat kali juara Piala FA, satu kali runner up Liga Champions, dan satu kali runner up Piala UEFA (kini Liga Eropa). Pada 2007, Henry akhirnya memutuskan untuk hijrah ke Barcelona, semusim setelah markas Arsenal pindah dari Highbury ke Emirates Stadium. Ia seakan ingin mencicipi dulu Emirates Stadium sebelum benar-benar meninggalkan klub yang membesarkan namanya tersebut.

Bagi saya- yang bukan penggemar Arsenal tetapi hanya penikmat Liga Inggris, masa-masa Henry di Arsenal adalah masa yang takkan terlupakan dalam jagat persepakbolaan Inggris. Saat itu saya masih menjadi pendukung United (kini tidak!). Meski membela klub yang menjadi musuh utama United, saat itu saya tak sungkan memuji kemampuannya dalam bermain sepakbola. Satu kata yang ada di pikiran saya saat itu: brilian! Kemampuannya mengolah bola, beradu sprint, mengelabui bek lawan, mengeksekusi tendangan bebas, dan placing bola saat one on one dengan kiper benar-benar membuat saya terkagum. Ia pemain yang komplit.

Kini, Henry kembali ke Arsenal dengan status pinjaman dari New York Red Bulls. Di usianya yang menginjak 34 tahun, sulit rasanya jika kita mengharapkan permainan cepat dan lincah sebagaimana yang ia lakukan lima atau sepuluh tahun silam. Tapi ia diyakini mampu membawa spirit bagi permainan Arsenal. Karena Henry adalah Arsenal, dan Arsenal adalah Henry. Patung Henry yang dibangun di depan Emirates Stadium adalah bukti besarnya cinta Arsenal dan pedukungnya terhadap Henry.

Sekali lagi, saya bukanlah fan Arsenal. Namun bagi saya, sungguh menjadi sesuatu yang yang menyentuh ketika melihat seorang pemain besar kembali ke markas klub yang membesarkan namanya. Dan ia begitu dielu-elukan. Menunjukkan betapa pentingnya ia bagi klub tersebut. Dan ini menjadi semakin menyentuh ketika Henry mencetak gol penentu bagi Arsenal saat menjamu Leeds United di Emirates Stadium. Emosional. Yes, this is The Return of The King! Caranya mencetak gol pun ‘sangat Henry’. Ia menempatkan bola dengan tendangan datar melengkung yang tak mampu dijangkau kiper Leeds. Luar biasa! Ketika tim membutuhkan gol kemenangan agar lolos ke babak IV Piala FA, ia hadir di sana sebagai penyelamat.

Menjadi pujaan fans sepertinya bukanlah perkara yang mudah. Permainan cantik bukan satu-satunya jaminan. Namun sikap dan rasa hormat terhadap klub dan fans juga perlu dikedepankan. Henry sudah melakukan itu. Ya, ialah sang legenda Arsenal. Thierry Henry 14.

“Arsenal and me has always been a love story, with some bad days. Hopefully people agree with me that there were more good days than bad, but i just love the club,”  Thierry Henry 

Girangnya Saya…

Luar biasa… Luar biasa… I LOVE MILAN!! INDEED!!!

Kebanggaan akan tim kesayangan saya itu semakin menjadi-jadi tatkala Milan mempermalukan Real Madrid di Santiago Bernabeu.. Ya, Milan yang tidak diunggulkan dalam pertandingan ini menang 3-2 melalui pertunjukkan sepakbola tingkat dunia dan berakhir dengan dramatis.

Sebelumnya, performa Milan memang terbilang buruk di kompetisi lokal sehingga terdampar di papan tengah klasemen sementara Serie-A. Ini merupakan kemenangan kedua berturut-turut setelah mengalahkan AS Roma minggu lalu di lanjutan Liga Italia. Bisa dibilang inilah awal kebangkitan Milan sesudah memperoleh rentetan hasil buruk. Dan di stadion kebanggaan warga Madrid ini, Milan berhasil mengukir sejarah.

Di babak pertama, Milan kerap kali ditekan oleh barisan penyerang Madrid, termasuk Kaka. Ya, Kaka yang menjadi sorot utama di pertandingan ini mengingat ia harus melawan tim yang membesarkan namanya. Milan hanya sesekali melancarkan serangan. Terlihat Milan acapkali kehilangan penguasaan bola. Berawal dari tendangan dari luar kotak penalti oleh Granero, Kiper Milan Dida tidak lengket menangkapnya. Bola lepas tersebut kemudian langsung disambar oleh Raul yang kemudian berbuah gol. 1-0 bagi Madrid. Oh my Gosh!! Saya langsung teringat pertandingan Milan vs. Roma hari Minggu lalu. Ketika itu, Thiago Silva yang melakukan kesalahan fatal. Kali ini Dida.. Benar-benar ceroboh. Skor pun bertahan hingga turun minum.

Di Babak kedua, perlahan tapi pasti, Milan mulai melancarkan serangan. Seisi stadion kemudian dikejutkan oleh gol Pirlo dari luar kotak penalti. What a wonderful goal!! Tendangan terukur Pirlo tak mampu dihalau Casillas. 1-1. Saya pun melompat girang. Ada harapan bagi Milan. Selang berapa lama, saya kembali melompat-lompat kegirangan di depan tv. Pato berhasil membawa Milan berbalik memimpin. Berawal dari patahnya serangan Madrid, bola dikirimkan oleh Anbrosini kepada Pato. Casillas maju hingga keluar kotak penalti untuk menghalaunya. Namun Pato memang cerdik, bola berhasil melewati Casillas. Dan dengan posisi yang menurut saya lumayan sulit, Pato berhasil menceploskan bola ke gawang yang sudah ditinggal Casillas. 2-0.

Madridistas pun kembali bersorak ketika Drenthe berhasil menyamakan kedudukan melalui tendangan terukur dari luar kotak penalti. 2-2. Dan, menjelang pertandingan usai, kembali Pato membuktikan ketajamannya dengan menaklukan Casillas setelah menerima umpan matang dari Seedorf.. Saya pun girang bukan main. Saya loncat-loncat seperti orang gila di kesunyian malam menjelang pagi. Yeahh! Masih ada waktu tersisa, dan saya tak kuasa untuk terus menonton hingga peluit panjang berbunyi. Saya sangat tegang! Saya pun mematikan televisi beberapa menit (saking tegangnya). Saat saya nyalakan tv kembali, akhirnya… Milan berhasil menaklukan Los Galacticos jilid-2!! Luar biasa!

Saya acungkan jempol untuk Leonardo. Ia tetap optimis meski timnya tidak diunggulkan di pertandingan tersebut. Jangan pernah bermain-main dengan Milan di Liga Champions! Bravo Il Diavollo Rosso!!!

Ada Apa Dengan Milan

ronnie_pippo_disappointed_bologna_1Entah apa yang ada di benak Leonardo- pelatih baru Milan untuk musim 2009/2010- melihat tim asuhannya tertatih-tatih menjalani awal musim serie-A kali ini. Dari 7 kali bertanding, Milan hanya mampu meraih dua kemenangan. Sisanya, 3 imbang dan 2 kalah. Hasil itu membuatnya terdampar di peringkat 12 klasemen sementara. Sebuah hasil yang bisa dikatakan buruk bagi tim sekelas Milan. Memang perjalanan masih panjang, tapi bukan kebiasaan Milan mengawali musim ngos-ngosan seperti ini. Siapa yang salah?

Kepergian Ancelotti dan Kaka disebut-sebut sebagai penyebab utama buruknya performa Milan belakangan ini. Mungkin ada benarnya. Tapi Milan tidak sekedar Ancelotti atau Kaka, bukan? Beberapa pemain didatangkan ke Milan. Sebut saja Oguchi Onyewu, Klas Jan Huntelaar, dan Thiago Silva- untuk nama terakhir sudah dikontrak sejak Januari lalu. Pergerakan Milan di bursa transfer memang mengecewakan. Harapan mendatangkan Luis Fabiano pun langsung sirna. Masuknya Huntelaar sempat membawa angin segar bagi kubu Milan. Namun ternyata hasilnya di luar harapan.

Ada sosok yang belum tersorot? ya, Leonardo. Sungguh mengejutkan petinggi Milan akhirnya menunjuk Leonardo sebagai suksesor Don Carletto. Mengingat sebelumnya belum pernah melatih klub manapun. Ia hanya memiliki pengalaman sebagai pemain dan pencari bakat Milan. Awalnya, tidak ada yang salah. Toh, Pep Guardiola- yang notabene minim pengalaman sebagai pelatih- saja mampu membawa Barca meraih “treble winner” di musim pertama dia melatih. Leonardo juga pasti bisa. Tapi, kenyataan berkata lain. Leonardo sepertinya belum “lihai” untuk jadi seorang pelatih.

Sebenarnya saya sudah bosan mendengar atau membaca kalimat bangkit, bangkit, dan bangkit. Itu yang kerap diucapkan baik pelatih atau pemain Milan usai memperoleh hasil buruk. Mana bangkitmu Milan? Secara pribadi saya menilai sektor yang perlu dirubah ialah kursi kepelatihan. 7 pertandingan serie-A  buat saya sudah cukup membuktikan kapasitas Leonardo sebagai pelatih. Ya, satu kata, GANTI!

Cukup mustahil tentunya suara saya seorang Milanisti tadi didengar oleh para petinggi Milan. Mereka masih percaya Leonardo. Baik, sekarang saya hanya bisa terus berharap agar Milan menemukan permainan terbaiknya. Saya percaya suatu saat kamu bisa. Forza Milan!

Kaka’ vs Ronaldo?

Cristiano Ronaldo memang luar biasa di 2008 ini. Ia pun hampir dipastikan meraih gelar pemain terbaik Eropa maupun Dunia. Tapi tunggu dulu, ada sedikit cerita menarik menjelang diumumkannya peraih kedua trofi tersebut. Tahun lalu, posisi Kaka mirip dengan Ronaldo. Beberapa waktu menjelang diumumkannya pemenang, Kaka sudah diperkirakan akan meraih kedua trofi tersebut. Dan akhirnya Kaka memang terpilih sebagai pemain terbaik.

Ada sedikit perbedaan di antara keduanya. Ronaldo, secara optimis mengatakan bahwa dirinyalah yang terbaik di Eropa maupun dunia. Terkesan arogan memang. Sedangkan tahun lalu, Kaka tidak searogan Ronaldo. Ia optimis tetapi masih mampu menjaga perkataan. Dirinya tidak sesumbar akan meraih gelar tersebut. Setidaknya, ia masih mengakui keberadaan para pesaingnya termasuk Ronaldo dan Messi.

Kali ini, Ronaldo beberapa kali menyatakan dirinyalah yang terbaik dan pantas mendapatkan gelar tersebut. Ironisnya, saat dihelat pertandingan persahabatan antara Brasil dan Portugal, citra Ronaldo sedikit menurun. Di samping kekalahan telak 6-2 yang dialami Portugal, Ronaldo pun menunjukkan sikap yang kurang pantas di lapangan. Ia sempat terlihat mencekik salah satu pemain Brasil ketika sedang bersitegang. Sepetinya ia frustrasi dan selalu terpancing emosinya (hal yang semestinya tidak dilakukan oleh seorang kapten yang memimpin rekan-rekannya di lapangan). Di pihak lawan, peran Kaka begitu sentral dan hampir setiap serangan “dirancang” oleh kakinya. Hingga akhirnya ia membawa Brasil memenangkan pertandingan tersebut.

Kaka memang tidak secepat atau sejago Ronaldo dalam mendribling bola. Tapi urusan behaviour, saya rasa Kaka lebih unggul. Mulai dari sikap rendah hati, kesabaran, hingga sifat religiusnya ditunjukkan Kaka baik di dalam mapun luar lapangan.

Jadi, siapa lebih baik?

Ronaldo kah Pemain Terbaik Tahun Ini?

Seperti biasa, di akhir tahun akan ditentukan siapa yang akan menyabet gelar pemain terbaik Eropa (Baloon d’ Or) dan pemain terbaik dunia (FIFA). Di tahun 2008 ini sepertinya kedua gelar tersebut akan jatuh ke pangkuan sang CR7- Cristiano Ronaldo. Hal tersebut dapat diperkirakan mengingat di tahun ini ia mengantarkan Man Utd meraih trofi Liga Inggris dan Liga Champions sekaligus. Ditambah, torehan gol yang ia hasilkan untuk Man Utd sangatlah luar biasa.

Sebenarnya ada pertimbangan lain. Tahun 2008 ini ada perhelatan terbesar di Eropa yaitu Piala Eropa yang dimenangi oleh Spanyol. Ada Fernando Torres, David Villa, Xavi Hernandes, dan Iker Casillas yang bermain gemilang di ajang tersebut. Namun jika melihat kiprah mereka di klubnya masing-masing, tampaknya tidak ada yang bisa dibandingkan dengan apa yang telah diberikan Ronaldo untuk Man Utd. Mungkin hanya Casillas yang berhasil membawa Real Madrid menaiki tangga juara Liga Spanyol. Tapi Casillas seperti bekerja sendirian di belakang. Lini pertahanan Madrid bisa dikatakan sangatlah buruk di musim lalu. Bisa diartikan koordinasi Casillas dengan lini belakang Madrid tidak berjalan dengan baik dan sepertinya sulit untuk Casillas meraih trofi Baloon d’Or apalagi pemain terbaik dunia.

Apakah Ronaldo akan semudah itu meraih kedua trofi bergengsi tersebut?

Bagaimana dengan Kaka dan Messi? Keduanya berstatus sebagai pesaing utama Ronaldo ketika trofi yang sama diperebutkan tahun lalu. Akhirnya kedua trofi tersebutpun jatuh ke tangan Kaka.

Tahun 2008 ini sepertinya memang bukan milik Kaka dan Messi. Keduanya tidak mampu mengantarkan klubnya masing2 menaiki tangga juara. Tapi keduanya masih memiliki peluang walau tidak sebesar tahun lalu.

Tahun ini sepertinya memang milik seorang CR7. Benarkah?

Kita tunggu saja hasilnya…