SNSD – Day By Day

Kalau liat list videografi SNSD, gak akan nemu MV (Music Video) ini. Kata Gigin -teman saya yang menggilai Kpop, video ini fanmade dan gambar diambil waktu photoshoot di Jepang. Video ini saya temukan beberapa minggu lalu di Youtube, padahal diupload sama uploadernya (Eevviiaa) 16 Oktober 2010. Menurut saya, semua member SNSD sedang oke-okenya di video ini. Lagunya juga oke. Enjoy.

Advertisements

Taksi

Ini adalah cerita pengalaman saya naik taksi untuk pertamakalinya sejak tinggal di Jakarta.

Jadi, waktu itu saya baru beres nonton perdelapan final Euro 2012 antara Spanyol vs Prancis bareng teman-teman #jurnal05 di Sevel Sency. Jika teman-teman saya pada bawa motor, saya naik kendaraan umum. Dan, saat itu sudah pukul 04:00, jadi satu-satunya kendaraan umum yang bisa saya gunakan adalah taksi.

Dari sevel, saya jalan dulu menuju sekitaran bunderan Senayan. Lalu, saya pun berdiri di trotoar menunggu taksi yang lewat. Dan, tak butuh waktu lama untuk menemukan taksi, karena saat itu memang lumayan banyak yg masih berseliweran. Akhirnya saya pun megat taksi yang lewat -tanpa lihat itu taksi apa karena kondisi gelap. Buka pintu dan langsung duduk. Saya lihat argo, langsung 12ribu! Wow, dan saat itu juga saya baru sadar kalau taksi itu ada yang murah dan ada yang mahal. Dan, yang saya naiki itu ternyata adalah Silver Bird! Mercy bung! “Ini kayanya emang taksi mahal deh,” ujar saya saat itu dalam hati.

Di tengah perbincangan saya dengan supir, ada Suzuki Swift di depan kami yang melaju kencang dengan knalpot yang berisik. Si supir bilang “Mas, itu cuma menang suaranya aja, tp tenaganya mah gak ada. Kalo ini baru!!” Si supir pun ngebut parah dan mencoba menyusul Swift tadi. Saya, yang sedikit kaget, langsung pegangan ke apapun yang bisa saya pegang. Agak takut sih, tapi seru juga. Jadi ya biarin aja, haha. Akhirnya, sampai juga di tujuan, daerah kosan saya di daerah jalan Kali Pasir. Berapa biaya yg harus saya bayar? 47ribu. Cukup mahal untuk ukuran perjalanan yang tidak begitu jauh, apalagi jalanan sangat lengang.

Sungguh, itu adalah sesuatu yang “gaya banget”, yang tak disengaja. Lain kali, saya naik taksi yang biasa-biasa saja ah.

Dua Bulan Dua Sakit

Beberapa orang bilang, karena hawa dan udaranya berbeda (bagi yang sudah terbiasa di Bandung), tinggal di Jakarta itu butuh adaptasi. Dan, bentuk adaptasinya pun mungkin bisa bermacam-macam. Saya, yang pernah tinggal dua bulan di Jogja, berpikir akan gatal-gatal selama dua minggu pertama di Jakarta, karena, hal itulah yang saya dapat ketika di Jogja. Tapi, ternyata tidak hanya itu. Selain gatal-gatal, selama dua bulan pertama, saya dua kali jatuh sakit. Mungkin, penyebab sakit ini tidak hanya terbatas pada hawa dan cuaca. Tapi, saya juga sedang melakukan penyesuaian dengan perpindahan pola hidup dari anak rumah (halah) ke anak kosan. “Welcome to Jakarta!”.

Sakit 1

Ini terjadi saat saya masih tinggal di kosan pertama (bulan pertama di Jakarta). Bangun tidur, badan terasa kurang fit. Tapi saya tetap paksakan mandi, karena harus ke kantor. Dan, jelang siang, tidak enak badan pun semakin menjadi. Saya demam. Walau begitu, saya tidak izin pulang karena merasa masih mampu untuk mengetik berita. Saat sudah waktunya pulang, saya pun bergegas. Dan tak lupa beli makan malam.

Sampailah saya di kosan. Saya langsung makan dan diteruskan dengan minum panadol biru –obat paling cocok dengan saya. Kemudian, saya pun istirahat. Saya ingat, saya sempat bangun pukul lima subuh, dan masih terasa demam, hingga akhirnya saya paksakan tidur lagi. Lalu saat membuka mata di pagi hari, alhamdulilah. Saya sudah merasa enak. Tidak demam.

Apa penyebab sakit saya ini? Kemungkinan karena saya mandi malam-malam (sekitar pukul 00:00) sehari sebelumnya. Saat itu saya mandi karena merasa sangat gerah setelah bermain futsal. Mungkin, saat handukan, badan saya kurang kering sehingga terciptalah masuk angin. Dari situ, saya selalu menghindari mandi larut malam. Kajeun gerah.

Sakit 2

Ini yang agak heboh. Sakit ini didapat saat saya udah pindah ke kosan (bulan ke dua di Jakarta). Awalnya biasa, gak enak badan plus demam. Beberapa kali merasa enakan, tapi susah banget sampe bener-bener bisa sembuh total. Malah, dalam kondisi belum benar-benar fit, saya sempat ke Bandung dan nonton The Avengers bareng adik. Kembali ke Jakarta, saya mulai gak enak badan lagi. Dan, puncaknya adalah mual-mual. Saya pikir, saya kena maag. Karena maag itu harus makan teratur, sedangkan saya tinggal di kosan, harus beli makanan dan ribet, jadi saya memutuskan pulang. Izin ke kantor untuk beberapa hari.

Saya ingat, saya pulang malam-malam pukul 20:00. Sangat ngedadak. Nelepon travel Cipaganti, sudah tidak ada yang berangkat, soalnya terakhir pukul 19:00 -kalo gak salah. Ya udah, satu-satunya pilihan adalah naik bus Primajasa dari BKN Cililitan. Dan, untuk sampai sana, saya harus naik Trans Jakarta dulu. Benar-benar perjuangan lah, dalam keadaan gak enak badan dan mual. Dan, setelah sekitar dua jam perjalanan saya pun sampai di rumah. Minum Mylanta lalu tidur.

Besoknya, saya disuruh mamah untuk ke dokter saja. Saat di dokter, dia periksa mata saya, terus dia bilang kalau mual itu bukan dari maag, tapi HEPATITIS. Waduh! Dokter kemudian nanya: “kencingnya kuning warna teh, nggak?”Saya jawab: “Iya dok, tapi saya kira itu pengaruh obat,” Dan, kencing dengan warna itu ternyata adalah ciri-ciri hepatitis. Dokter pun lalu menyarankan saya ke lab supaya ketahuan hepatitis jenis apa.

Setelah hasil lab keluar, saya langsung berikan kepada dokter. Dan, hasilnya, seperti yang diperkirakan, hepatitis A. Kalau B dan C, itu sudah masuk kategori parah, dan sulit untuk disembuhkan. Jadi, hepatitis itu bisa menular dari pemakaian sendok/ gelas/ piring bersama atau bisa juga dari urin atau feses (di kloset). Maka, dokter pun menyuruh saya untuk memeberikan cairan antiseptic setiap selesai buang air kecil/ besar selama belum sembuh. Oiya, proses penyembuhan hepatitis juga memakan waktu lama. Pokoknya saya harus istirahat total. Berapa lama? Tiga minggu. Ya, selama tiga minggu saya terpaksa izin tidak masuk kantor.

Sekembalinya ke Jakarta -setelah sembuh, saya jadi selalu menjaga kondisi tubuh. Pokoknya, lapar tak lapar, kalau sudah waktunya makan, ya makan. Lalu, tak lupa minum peningkat daya tahan tubuh. Jadi, buat teman-teman –apalagi yang tinggal di kos, kondisi itu benar-benar harus dijaga lah. Asli, sakit di kosan itu benar-benar menyedihkan.

21 Jump Street (2012)

twenty_one_jump_streetGenre: Komedi. Aksi. Drama.
Sutradara: Phil Lord, Chris Miller
Pemain: Jonah Hill, Channing Tatum, Brie Larson, Dave Franco

Diadaptasi dari serial televisi berjudul sama (1987-1991), 21 Jump Street mengisahkan tentang persahabatan antara dua polisi konyol, Schmidt (Hill) dan Jenko (Tatum). Setelah menyebabkan kekacauan di kota, mereka berdua dikirim ke proyek investigasi transaksi obat-obatan terlarang. Schmidt dan Jenko harus menyamar menjadi dua siswa salah satu SMA, yang di dalamnya terdapat transaksi narkoba, dan misi yang harus mereka selesaikan adalah mengungkap siapakah gembong di balik semuanya.

Dalam penyamarannya, mereka harus berbaur dengan beberapa geng di sekolahan tersebut. Namun, Schmidt yang agak polos terlalu terbawa suasana, apalagi hubungannya dengan si manis Molly (Larson) menjadi sangat akrab. Hal itu bertolak belakang dengan Jenko yang bersikap keras dan fokus pada tugas yang sedang jalankan. Perbedaan tersebut rupanya menciptakan kerenggangan di antara Schmidt dan Jenko, sehingga menghambat pekerjaan mereka dalam mengungkap gembong narkoba di SMA tersebut.

Dengan segala permasalahan yang harus dihadapi, apakah akhirnya mereka mampu menyelesaikan misi tersebut? Lalu, siapakah sebenarnya gembong narkoba mereka buru? *

Jika kebanyakan orang memberikan pujian hebat kepada film ini, entah kenapa, saya merasa biasa saja. Jonah Hill memang sangat lucu -seperti biasa, tapi duet dengan Channing Tatum? Menurut saya bukan kolaborasi yang bagus, apalagi saya baru pertama kali menonton Tatum di genre komedi. Cerita dalam film ini cukup sederhana dan berpotensi untuk digarap dengan luar biasa. Sayangnya, saya tidak puas. Terasa nanggung. Bagaimana mereka awalnya berteman dan kompak, kemudian merenggang, hingga akhirnya kembali solid, tidak pada titik yang pas.

Apa saya harus menonton serial tv nya dulu untuk bisa puas? Mungkin saja, karena sebelumnya saya memang tak tahu menahu tentang serial tv nya -yang total ada 5 season. Saat Johnny Depp (pemeran utama 21 Jump Street versi tv) muncul sebagai cameo pada 20 menit terakhir, saya bilang ‘wow! Pertunjukan seperti ini yang saya tunggu!’. Tapi, terlepas dari itu semua, secara kesuluruhan film ini layak ditonton. Lucu, gila, dan tidak membosankan.

Skor: 3 / 5

The Descendants (2011)

Genre: Drama. Komdescendants_ver3_xlgedi.
Sutradara: Alexander Payne
Pemain: George Clooney, Shailene Woodley, Amara Miller, Nick Krause, Patricia Hastie

Diangkat dari novel berjudul sama, the Descendants bercerita tentang Matt (Clooney), seorang pria kaya raya yang tinggal di Hawaii dan memiliki istri bernama Elizabeth (Hastie). Ia juga mempunyai dua anak perempuan, Alex (Woodley) dan Scottie (Miller). Sejak awal film, Elizabeth sudah dalam keadaan koma, akibat kecelakaan saat berolahraga ski air. Menyaksikan istrinya yang terbaring tak bergerak, Matt baru sadar kalau selama ini ia terlalu sibuk dengan pekerjaan, sehingga cuek terhadap istri dan kedua anaknya. Kenyataan terpahit yang harus diterima Matt adalah kondisi istrinya semakin memburuk dan sudah tak ada harapan. Dan, itu bertambah pahit ketika Alex mengatakan kalau belakangan ini ibunya berselingkuh dengan pria lain.

Mendengar hal itu, Matt penasaran dan mulai mencari tahu siapa pria yang telah berselingkuh dengan istrinya. Dengan bantuan Alex -yang juga geram dengan perselingkuhan ibunya, Matt mencari-cari pria tersebut hingga ke luar kota untuk sekedar memberitahukan kalau Elizabeth akan meninggal. Masalah semakin rumit ketika ternyata pria tersebut ada hubungannya dengan rencana penjualan tanah warisan nenek Matt. Ya, Matt diwarisi puluhan hektar tanah oleh neneknya, dan ia mendapat sedikit tekanan dari para sepupunya untuk menjual tanah tersebut, demi menghasilkan uang banyak. Apa yang dilakukan Matt ketika bertemu pria yang telah berselingkuh dengan istrinya? Lalu, apa keputusannya terkait warisan tanah tersebut? *

Melihat judul dan poster filmnya, saya 3/4 yakin kalau film ini akan membosankan. Tapi, dengan banyaknya pujian yang mengalir, plus lima nominasi Oscar (satu dimenangkan), saya jadi penasaran. Setelah menonton, ya, pujian pun tak malu-malu saya lontarkan. Jalan cerita yang menarik, akting George Clooney yang luar biasa, dan pemandangan yang tak membosankan (ya, itu Hawaii!) berbaur menjadi satu.

Salah satu kekuatan lain di film ini adalah hubungan seorang ayah dengan dua anak perempuannya yang terbangun dengan apik. Chemistry ketiganya -terutama Matt dan Alex begitu terasa, terutama untuk hal: sebagaimanapun kurang perhatiannya sang ayah, selingkuh tetaplah sesuatu yang tidak dapat dibenarkan. Bagi para penggemar drama ringan tentang kehidupan -yang ditambahkan bumbu-bumbu komedi, film ini sangat disarankan untuk ditonton.

Skor: 4 / 5

Tentang Kosan..

Ini adalah cerita tentang pengalaman pertama saya tinggal sendiri di Jakarta. Jadi, setelah saya diterima untuk bekerja di oke#one, saya mencari kamar sewaan alias kosan atau kos-kosan. Kantor oke#one sendiri terletak di Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Sebelum mencari, saya sudah mendapat info dari teman-teman, mengenai harga sewa kosan di sekitar Kebon Sirih. Tapi, itu sempat membingungkan. Auzan, teman di kantor bilang kalau harganya mahal-mahal, meski yang murah tetap ada. Sementara Bobbi, sekitar tiga tahun lalu, tinggal di kosan yang harganya sangat murah, meski keadaannya kamarnya memang sangat biasa.

Untuk membuktikan mana yang benar, akhirnya saya memulai pencarian. Setelah tanda tangan kontrak, saya sengaja minta ke HRD untuk tidak langsung mulai kerja, karena akan mencari kosan. Pencarian pun dimulai dari Kebon Sirih Timur (paling dekat dengan kantor) hingga Kebon Sirih Barat (dekat Jalan Jaksa). Di timur, simpulan yang saya dapat adalah rata-rata sekitar 700ribu/ bulan. Barat? Sama saja. Padahal, rencana saya adalah menyewa kosan seharga 400-500ribu/ bulan. Hasilnya? Sulit, benar-benar sulit mencari kosan dengan harga segitu. Sempat nemu kosan 400ribu/ bulan, tapi keadaan kamarnya sungguh tak layak. Parah.

Karena saat itu saya tidak bisa berlama-lama untuk nyari kosan (harus kembali ke BDG dan lusanya mulai kerja), apa yang ada di pikiran pun berubah. Kalau sebelumnya saya berpikir ‘Biarin, kosan yang murah dulu, nanti ke depannya cari yang harganya lebih mahal tapi enak’, maka saat itu langsung berubah 180 derajat menjadi ‘Biarin, kosan yang mahal dulu, nanti ke depannya cari yang agak murah’ haha. Akhirnya, saya menyewa kosan dengan tarif 700ribu/ bulan, selanjutnya sebut saja kosan1. Kamar mandi di dalam, TAPI, kamar mandi itu letaknya di dalam kamar, jadi ngabisin ruang. Kosan1 ini sempit (gara2 kamar mandi itu). Tapi, kelebihannya adalah kosan ini baru selesai dibangun sekitar sebulan. Jadi, masih sangat baru dan kamar mandinya bersih.

Kosan1 ini ada empat kamar. Dua diisi oleh keluarga, dan dua lagi oleh perorangan (salah satunya saya). Keluarga pertama, yang ada di pojok, merupakan mas-mas beserta istri dan anaknya. Mereka asal Makasar. Mas itu bernama Abdul. Dia kerja di tempat semacam travel/ biro perjalanan/ tempat menjual tiket perjalanan di Jalan Jaksa. Dia itu satu-satunya warga kosan yang suka mengobrol dengan saya. Keluarga kedua, bapak-bapak sekitar 40 tahun-an tinggal bersama istri dan anak perempuannya yang masih kecil. Ini kamar yang paling menarik. Kenapa? Suami-istri ini sering sekali ribut, sangat sering! Sangat mengganggu! Pemicu keributan adalah si bapak yang sangat sensitif dan pemarah. Masalah-masalah kecil jadi besar. Hampir setiap hari istrinya dia marahi. Tapi, menurut saya, yang paling kasihan adalah anaknya yang masih kecil. Tinggal di ruangan sekecil itu, anaknya mau tidak mau pasti sering dengerin ayah-ibunya ribut. Saya pikir gak bagus lah itu buat sisi psikologis si anak. Si Ayub, yang pernah nginep di kosan saya, menyebut ‘tayangan wayang’ jika suami istri itu sedang ribut. Haha.

Lalu, penghuni yang terakhir adalah perempuan berkerudung yang bekerja di BANK Syariah Mandiri. Orangnya sangat tertutup dan sangat jarang saya berbincang dengan dia, soalnya, selain emang jarang ketemu, ya itu tadi, dia sepertinya emang gak mau bercengkrama dengan orang lain di kosan. Dua teman saya yang pernah menginap yaitu Rully a.k.a Ule dan Ayub bilang, perempuan itu cantik. Bahkan Ayub bilang dia sekilas mirip Nabila Syakieb. Menurut saya, sekilas memang menarik sih, tapi, ah, banyak yang lebih menarik, haha.

Merasa tarif di kosan1 ini terhitung mahal dengan berbagai kekurangannya seperti kamar sempit, banyak nyamuk, dan orang-orang di sekitarnya kurang menyenangkan, saya ingin pindah. Saya sempat iseng-iseng mencari di daerah Kebon Kacang, tapi gak ada yang cocok. Kata Ule, daerah situ mah Bronx pisan. Dan, akhirnya, setelah tinggal dua bulan di Kebon Sirih Barat, saya pindah ke daerah Kali Pasir, dekat Cikini. Mau tau tarifnya berapa? 450ribu/ bulan dan itu termasuk fasilitas cuci-setrika (FYI, di Jakarta, setrika=gosok). Kamar mandi memang di luar, tapi ada dua dan dua-duanya sangat bersih, bahkan, WC-nya pun WC duduk. Kosan ini lebih luas ketimbang kosan1. Tapi, tentu harga murah nggak mungkin nggak ada kekurangan. Ya, kekurangannya adalah dinding kamarnya bukan tembok, tapi triplek, jadi mungkin akan lebih terasa panas. Tapi, secara keseluruhan, saya rasa, kelebihannya lebih banyak daripada kekurangannya. Jadi, saya merasa beruntung dapat kosan ini. Sekarang, saya baru sebulan menempati kosan2. Mudah-mudahan ke depannya saya semakin merasa nyaman, Amin.

Saya jadi ingin menulis rincian perbandingan kosan1 dan kosan2:

Kosan1 (Jalan Kebon Sirih Barat Dalam) – Rp 700ribu/ bulan

(+) Kamar mandi dalam; Bangunan baru; Jarak ke kantor cukup dekat- sekitar 500m

(-) Mahal; Sempit; Banyak nyamuk; Lingkungan tak enak; Gang menuju kosan gelap & suka banyak ti ucing (dan update!)

Kosan2 (Jalan Kali Pasir- Cikini) – Rp 450ribu/ bulan

(+) Murah; Sudah termasuk cuci-setrika; Kamar mandi bersih; Di bawah adalah dapurnya si ibu- ada air galon, kulkas, kompor gas;  Deket Menteng Huis (mall kecil)- ada Giant, Domino’s Pizza,dll.

(-) Dinding triplek; Jarak ke kantor lumayan- sekitar 1km

*Karena ada beberapa orang yang tanya, jadi saya mau menambahkan: Kalau di sekitar Jalan Kali Pasir, untuk saat ini, kemungkinan rata-rata harganya Rp 500-700 ribu. Di sekitar Kebon Sirih Timur/Barat, Rp 600-800 ribu (daerah sini memang agak mahal). Kalau mau nyari ke daerah lain mungkin bisa ke Kwitang (dekat Tugu Tani) atau Kebon Kacang (dekat Sarinah), tapi kalau untuk harganya, saya nggak tahu :).

Babak Baru

Alhamdulilah, untuk pertama kalinya saya punya pekerjaan. Ya, dalam artian, saya punya pekerjaan dan mendapat penghasilan tetap per bulannya. Saya bekerja di oke#one, salah satu perusahaan media massa online yang bernaung di bawah #NC Group. Cerita saya mulai dari awal saja ya? Yuk.

Suatu siang pada bulan Februari 2012, lupa tanggal berapa, saya mengirim lamaran via email kepada oke#one, untuk posisi reporter. Oya, status saya saat itu adalah sudah sarjana, sudah diwisuda, dan sedang aktif mencari pekerjaan di bidang yang (insyaAllah) saya minati. Nah, kalau tidak salah, saya mengirim email (berisi CV, pas foto, dan pindaian KTP) pukul 10 pagi. Ternyata, sekitar pukul dua siang saya langsung mendapat telepon dari oke#one yang mengundang saya untuk wawancara esok harinya pukul satu siang. Saya, yang memang ingin segera punya pekerjaan, langsung saja menyanggupinya.

Esok hari, saya berangkat dari Bandung ke kantor oke#one di Jalan Kebon Sirih Jakarta, menggunakan kereta api. Selain belum tahu travel/ menuju daerah sana, saya pikir kereta cukup praktis dan lokasinya tidak terlalu jauh dari St. Gambir (malamnya saya googling). Karena saya pikir saya akan diwawancara untuk posisi reporter news, maka saya beli koran dan baca-baca, isu apa aja sih yang sedang hangat. Saya membaca koran sambil brunch di salah satu tempat makan di sekitar Sarinah (saat itu saya baru tahu kalau Sarinah cukup dekat dengan lokasi).

Waktu wawancara pun tiba. Saya diwawancarai oleh dua orang, entah siapa (sekarang sih sudah kenal. Hehe). Setelah menceritakan pengalaman yang saya miliki saat PKL (Praktek Kerja Lapangan) a.k.a magang tea, saya kemudian ditanya, kira-kira seperti ini, ‘Ini kan buat bola/sports ya, apa yang kamu tahu tentang bola saat ini?’ Zelegurr! (Petir lembut berwarna pink menyambar). Ternyata bukan posisi reporter news yang ditawarkan kepada saya, tetapi reporter bola/sports. Sedikit kaget (20%), tapi saya juga senang (80%), karena, sepakbola mah, ya emang SAYA PISAN lah. Alhasil, ya dengan senang hati saya menerangkan pengetahuan tentang sepakbola yang saya tahu.

Tapi, ternyata tidak berhenti di kesenangan itu. Berikutnya, saya diminta untuk menerjemahkan satu berita bola dan satu berita sport, dari bahasa Inggris ke Indonesia, sehingga menjadi berita yang enak untuk dibaca. Jujur saja, hasil saya waktu itu cukup amburadul, karena saat itu, saya gak terpikirkan bagaimana menerjemahkan berita asing menjadi berita dalam bahasa Indonesia dengan baik. Jadi, mungkin, perkiraan saya sendiri, hasilnya adalah: translate 70% lancar, tapi, untuk menjadi berita yang enak dibaca, saya pikir hanya 50% lancar. Saat itu, saya pikir, ya sudahlah, kalau jodoh ya mungkin diterima, kalau bukan ya gak akan ada panggilan lanjutan. Akhirnya, setelah selesai semuanya di hari itu, resepsionis bilang kalau nanti dihubungi lagi.

Setelah itu, saya pun pulang dengan perasaan yang terbagi dua. Pertama, sedikit kecewa karena saya gagal menyelesaikan berita, yang disadur dari berita asing, dengan baik. Kedua, saya senang karena posisi yang akan ditempati (jika diterima) adalah reporter bola/sports yang mana itu merupakan bidang yang super-duper extra-ultra saya senangi. Dan, selanjutnya, saya hanya bisa berdoa semoga saya bisa diterima.

Setelah beberapa lama, ternyata panggilan datang juga. Beberapa tahap yang saya lalui berikutnya adalah wawancara dengan HRD #NC, HRD oke#one, dan tanda tangan kontrak. Akhirnya, saya pun menandatangani kontrak satu tahun kerjasama dengan oke#one dan mulai bekerja per 9 Maret 2012. Sejauh ini, saya senang dengan apa yang saya kerjakan dan juga nyaman dengan lingkungan kerja. Selanjutnya, mudah-mudahan saya bisa menjalani pekerjaan dengan baik. Amin.

Lulus Berhadiah

30 November 2011 akhirnya saya divonis lulus oleh jurusan. Alhamdulilah. Sesungguhnya saya tidak pernah mengharapkan hadiah dari siapapun perihal kelulusan ini. Dengan melepas status mahasiswa pun saya sudah bahagia. Tapi ternyata saya dapat hadiah kelulusan lho. Dari siapa? Marlboro. Kok bisa? Ikuti kisahnya.

Saya sangat jarang ikut kuis-kuisan. Mungkin sejak saya lahir hingga sekarang, jumlahnya bisa dihitung oleh lima jari. Sekitar Oktober 2010, saya dikasih tahu Bobbi kalau Marlboro sedang mengadakan game semacam kuis. Jelas ada hadiahnya. Bermacam-macam pula. Dari mouse, tas, t-shirt, headphone hingga hadiah utamanya yaitu berangkat ke Italia untuk naik Ferrari (kalau tidak salah). Sistem penentuan pemenangnya dengan mengumpulkan poin dari games yang ada di Marlboro.co.id. Sayangnya, Bobbi kasih tahu saya jelang ditutupnya itu event. Bahkan untuk mendapat status verified dari Marlboro pun saya tidak sempat. Sedangkan Bobbi dapat segala macam: t-shirt, mouse, tas, dll. Saya pikir ya sudahlah tidak apa-apa, memang saya telat mendaftar.

Setahun berlalu. Oktober 2011 saya diberi tahu oleh Bobbi kalau Marlboro mengadakan kembali game/kuis seperti tahun lalu. Kali ini bertajuk “Marlboro Light Connection”. Masa penutupannya masih lama. Langsung saja saya mendaftar. Tapi ternyata akun saya sudah verified, karena tahun lalu sudah mendaftar. Kali ini sistemnya berbeda. Untuk memperoleh hadiah, kita diharuskan mengumpulkan berbagai macam badge. Sedangkan cara mendapatkan badge ialah dengan memasukkan kode yang harus kita cari di berbagai tempat. Di antaranya: poster Marlboro Light Connection di Circle-K, billboard Marlboro di biasa ada di pinggir jalan raya, dan yang paling mudah ialah di beberapa situs seperti detik.com, kompas.com, dan kaskus.us. Kita harus sering-sering membuka Marlboro.co.id untuk memperoleh info di mana kode bisa didapatkan pada hari itu. Ada juga games, yang jika sudah dimenangkan maka akan kita akan dapat badge. Jika sudah didapat, badge bisa di-redeem dengan hadiah tertentu. Jadi tiap hadiah memerlukan badge yang berbeda. Dan badge ini keluarnya random alias untung-untungan. Semakin mahal hadiah, semakin susah juga mendapatkan badge yang diperlukannya.

Hadiah-hadiah yang disediakan Marlboro di antaranya: t-shirt dengan 3 desain berbeda, exclusive dinner & party, Samsung Galaxy Tab, dan Samsung Galaxy S2. Sedangkan hadiah utama ialah berangkat ke Istanbul, Berlin, dan New York. Saat itu saya cukup ngebet mendapat Galaxy S2. Menang itu saja saya pikir akan sangat bahagia. Setelah mengumpulkan berbagai badge yang kemudian di-redeem, saya berhasil mendapat dua t-shirt dan tiket exclusive dinner & party. Alhamdulillah. Meski target utama yaitu Galaxy S2 tidak didapat, saya pikir tak apalah, dinner & party juga seru sepertinya. Saya sangatlah beruntung karena setiap kota hanya ada empat pemenang yang mendapat tiket dinner dan party. Dan saya salah satunya. Lucky me.

Pada akhir November saya ditelepon oleh pihak Marlboro. Dia mengucapkan selamat dan memberi tahu kalau acara dinner dan party tersebut dilangsungkan Jumat 25 November 2011. Awalnya saya bilang bisa. Tapi ternyata Jumat itu jadwal saya sidang komprehensif, yang kelulusannya merupakan syarat untuk mengikuti sidang skripsi. Kemudian dengan agak berat hati saya bilang kalau saya tidak bisa ikut acara tersebut. Agak kecewa juga. Tapi mau bagaimana lagi. Tidak mungkin juga saya mengorbankan / menunda kelulusan saya demi hadiah itu. “Segera lulus jauh lebih penting!” ujar saya waktu itu.

Kemudian alhamdulilah saya lulus kuliah setelah melewati rangkaian persidangan itu. Saat sedang menikmati hari-hari pasca kelulusan, saya ditelepon kembali oleh pihak Marlboro. Alhamdulillaaah… mungkin memang rezeki saya ya, ternyata acara dinner dan party diadakan lagi pada 10 Desember. Kemudian saya ditanya apakah bisa ikut atau tidak. Tanpa berlama-lama, saya langsung menyanggupi. Yeehaw, mari pesta! Haha. Saya juga boleh membawa tiga teman ke acara ini. Siapa sajakah teman saya yang terpilih? Pertama, Bobbi. Tentu dia harus diajak. Karena dia, saya jadi tahu games/kuis dari Marlboro ini. Kedua, Rizal. Dia teman paling dekat, dan dengan Bobbi juga udah kenal lama. Ya, kami memang sudah berkelompok sejak lama. Terakhir ialah Rian. Kenapa saya ajak? Selain kami memang dekat juga, dia sudah minta diajak dari waktu itu. Dan beberapa teman memanggilannya Ribok (Rian m***k).haha. “Urang pesta yan!” ujar saya waktu itu. Kepada teman-teman yang tidak saya ajak, saya mohon maaf. Soalnya cuma boleh bawa tiga. Kalau saja tidak terbatas, saya ajak semua.

The Day

Hari yang dinanti pun tiba. Sebenarnya kami ditawarkan untuk dijemput oleh Marlboro di satu tempat. Saya minta kami dijemput di daerah Kopo. Namun ternyata mereka keberatan karena Kopo dikhawatirkan akan macet. Dari pada pusing-pusing, ditambah Bobbi esok paginya harus pulang lebih cepat karena ada undangan, akhirnya kami memutuskan untuk bawa motor saja menuju Hotel Padma. Saya, Rizal, dan Bobbi berangkat dari Kopo sekitar pukul 17.00 wib. Sedangkan Rian dari rumahnya langsung menuju Hotel Padma.

Saat sampai, kami pun langsung check-in di salah satu kamar yang disediakan. Kami mendapat jatah dua kamar. Tapi karena kehabisan kamar atau gimana, satu kamar lagi di Hotel Sheraton Dago. “ya sudahlah, tak apa,” saya pikir. Nanti bisa diatur. Setelah bersiap-siap di kamar, pukul 19.00 wib kami diminta berkumpul di lobby Hotel Padma untuk kemudian segera berangkat menuju tempat dinner. Sampai di lobby, kami dipertemukan dengan dua pemenang lain beserta teman-temannya. Jadi total yang diservis pada malam itu adalah 12 orang. Dan kebetulan dua pemenang lain itu saling kenal, sehingga teman-teman yang mereka bawa pun sudah saling mengenal. Setelah kami berkenalan dan sedikit foto-foto dengan mereka (difoto oleh Marlboro), dua Toyota Vellfire datang menjemput. Akhirnya saya punya kesempatan juga naik mobil kayak begitu. Haha. Kami langsung menuju Maja House.

Sampai di Maja House, kami langsung menuju meja dinner (sekaligus tempat party). Makan sepuasnya! Bebas pilih! Tanpa ragu-ragu kami semua memilih steak dengan harga termahal. Norak? Bodo amat. Jarang-jarang dapat kesempatan kayak gini. Hehe. Dengan setengah bercanda, saya bilang ke teman-teman saya: “Terimakasih telah hadir di acara syukuran ulang tahun dan kelulusan saya,” Hahaha. Kami pun menyantap pesanan-pesanan kami sambil bincang-bincang asyik, juga dengan rombongan sebelah (pemenang lain dan teman-temannya). Mereka itu semuanya kerja di lingkungan yang sama yaitu Universitas Advent. Beberapa di antaranya sebagai pengajar. Sebagian lagi saya tidak sempat bertanya.

Kami kenyang. Tentu saja. Dan ketika waktu menunjukkan pukul 22.00 party dimulai. Jujur saja, sebelumnya saya belum pernah ke tempat clubbing seperti ini . DJ dari Inggris (kalau tidak salah) mulai beraksi. Ruangan semakin penuh oleh para clubber. Musiknya seru juga. Mungkin lebih seru dan asyik untuk goyang2 badan dan kepala bagi yang sedang jangar. Saya dan teman-teman sih di meja saja. Mau ikutan berdiri sambil goyang-goyang juga rasanya kagok dan tidak biasa. Haha. Oiya, sejak party dimulai, di meja kami ada dua botol minuman beralkohol dengan asesoris-asesoris lainnya. Maksudnya gelas, es batu, pemanis, snack dll. Tidak ada drugs kok. Aman. Silakan enjoy the party mamen! Haha.

Pukul 02.00, mari pulang ke hotel. Party-nya sudah cukup. Awas, ada yang mabok! Haha. Kami pun akhirnya tidak perlu terpisah karena rombongan sebelah bersedia menukar kamar. Jadi mereka semua di Sheraton, kami ber-empat tetap di Padma. Saya sekamar dengan Rian, sedangkan Rizal dengan Bobbi. Kami pun istirahat setelah menikmati malam yang takkan terlupakan yaitu diservis penuh oleh Marlboro, mulai dari exclusive dinner, party, hingga menginap gratis di Hotel Padma selama satu malam. Aneh juga rasanya menginap di hotel, tetapi di Kota Bandung juga. Ya.. mari nikmati sajalah.hehe.

Kami bangun pagi. Padahal baru tidur sekitar tiga jam lebih. Saya memutuskan untuk menikmati salah satu fasilitas hotel yaitu kolam renang. Lumayan olah raga. Meski air kolam renangnya dingin, tapi kita juga bisa menghangatkan badan di jacuzzi sebelah kolam renang. Rian dan Rizal ikut turun untuk menikmati hangat/panasnya air di  jacuzzi. Sedangkan Bobbi memilih ngopi saja di kamar dan breakfast duluan. Setelah selesai berenang dan berendam, kami menyusul Bobbi yang sudah ada dari tadi di tempat breakfast. Inilah saatnya menikmati hadiah terakhir dari Marlboro: breakfast di hotel. Santap hingga kenyang, bung!

Di antara kami hanya Rian yang membawa kamera. Sayangnya tertinggal di tas saat kami dinner dan party kemarin. Jadi selama acara ini, kami hanya melakukan satu kali foto bersama yaitu selepas breakfast. Setelah itu pun kami menuju kamar untuk mandi dan kemudian pulang. Ke rumah masing-masing. Dan cerita ini pun berakhir di sini. Sekali lagi, bagi saya ini sangat alhamdulillah, karena mendapat ‘hadiah’ sesaat setelah lulus kuliah.

Terakhir. Uniknya, saya dan dua pemenang lain itu tidak merokok. Tapi kami diservis penuh oleh perusahaan rokok yang cukup ternama. Thanks, Marlboro! 😀

Foto Diambil dari Facebook Rian

Wisoeda

Alhamdulillah. Setelah selama ini menghadiri perayaan wisuda teman-teman, akhirnya pada 8 Februari 2012 saya merasakan juga menjadi wisudawan. Jujur saja, sebelumnya, setiap datang ke perayaan wisuda teman-teman rasa galau kerap muncul. “Saya kapan ya?” Meskipun tidak sepenuhnya, karena saat itu juga saya bergembira untuk teman-teman yang akhirnya diwisuda. Dan saat waktunya tiba, tentu saya tidak mau melewatkan hari itu.

Berikut beberapa foto di luar Graha Sanusi Hardjadinata, setelah prosesi wisuda dilangsungkan:



Switched at Birth (2011)

Apa yang pertama kali terlintas di pikiran Anda kalau mendengar ada serial televisi berjudul Switched at Birth? Betul, betul. Langsung terbesit tanya: Apakah ini ‘Putri yang Ditukar’ versi US? Haha. Tapi rasanya (hampir) tidak mungkin US meniru tayangan di negeri ini yang cukup fenomenal itu. Lantas, tentang apa ‘Switched at Birth’ ini bercerita?

Cerita dimulai saat Bay (Vanessa Marano) menginjak usia remaja dan mempertanyakan mengapa ia tidak mirip dengan anggota keluarga lainnya. Ia berambut hitam sedangkan ayah, ibu, dan kakaknya pirang. Ia meminta kedua orang tuanya untuk mengecek ulang apakah saat lahir dirinya tertukar dengan bayi keluarga lain. Dan setelah ditelusuri oleh pihak rumah sakit, ternyata ia tertukar dengan Daphne (Katie Leclerc). Setelah dipastikan bahwa putri mereka memang tertukar sejak lahir, dua keluarga pun bertemu.

Bay tinggal di rumah mewah bersama ayahnya John Kennish (D.W Moffett), ibunya Kathryn (Lea Thompson), dan kakaknya Toby (Lucas Grabeel). John merupakan mantan pemain bisbol profesional yang memiliki usaha jasa cuci mobil. Sedangkan Daphne tinggal di rumah sederhana bersama ibunya Regina (Constance Marie) dan neneknya Adrianna (Ivonne Coll). Daphne sendiri mengalami gangguan pendengaran yang mulai dideritanya saat masih kecil akibat meningitis. Meski begitu, ia tidak begitu sulit untuk berkomunikasi karena selain mampu membaca gerakkan bibir, ia juga terlatih berbicara, selain menggunakan bahasa isyarat tentunya.

Selanjutnya, mereka (John-Kathryn dan Regina) ingin mengenal lebih jauh anak biologis mereka yang telah terpisah belasan tahun. Karena satu dan lain hal, akhirnya Regina beserta Daphne dan Adrianna tinggal di guest house milik keluarga Kennish. Di sinilah berbagai permasalahan muncul. Perbedaan gaya hidup dan cara mendidik anak menimbulkan gesekan-gesekan di antara dua keluarga tersebut, terutama John-Kathryne dan Regina. Tidak lupa, masalah percintaan anak muda yang melibatkan Bay dan Daphne dengan kekasih-kekasih mereka pun tersaji dalam serial ini.

Cerita dalam serial ini tidak terbatas pada bagaimana orang tua yang bertemu anak kandung setelah terpisah lama. Justru itu hanyalah permulaan. Cerita terus berkembang dengan menarik dan menyuguhkan konflik-konflik yang terjadi di antara mereka. Secara keseluruhan serial ini menarik dan layak untuk diikuti. Buang jauh-jauh pemikiran bahwa cerita dalam serial ini mirip dengan ‘Putri yang Ditukar’. Sangat berbeda, meskipun sebenarnya saya tidak follow sinetron yang terkenal dengan tokoh Pak Prabu dan soundtrack D’Masiv nya. 😀 Jika sinetron-sinetron di Indonesia pada umumnya menampilkan secara jelas mana si baik dan mana si jahat, di Switched at Birth, hal itu tidak ada. Sikap yang ditunjukkan masing-masing karakternya mempunyai alasan tersendiri sehingga penonton dipersilakan untuk memilih siapa karakter favoritnya.

Bagi penyuka drama dengan cerita yang ringan dan alur yang cepat, jangan lewatkan serial yang tayang di ABC ini. Sekali lagi, buang jauh-jauh pemikiran bahwa serial ini sama dengan ‘Putri yang Ditukar’ 😀 Anda hanya perlu duduk santai dan enjoy the show.